Ulasan Film: Rurouni Kenshin – Kyoto Inferno

1

Kenshin

Satu lagi film asal Jepang yang masuk dan mewarnai jaringan bioskop Indonesia. Kali ini, jaringan bioskop Blitzmegaplex, bekerjasama dengan Encore Films dan Moxienotion serta PT. Mitra Media Layar Lebar berkesempatan menayangkan film asal Jepang yaitu Rurouni Kenshin – Kyoto Inferno. Film ini merupakan sekuel dari film sebelumnya yang diadaptasi dari manga dan seri anime yang dikenal sebagai Samurai X.

Kyoto Inferno merupakan bagian pertama dari sekuel film Rurouni Kenshin. Tahun ini, akan ditayangkan 2 film sebagai sekuel penerus film Rurouni Kenshin pertama yang sudah tayang sebelumnya. Bagian pertama ini menitik beratkan pada tragedi penyerangan kota Kyoto.

Munculnya Makoto Shishio

10 tahun berlalu setelah kejadian pada film pertamanya. Batosai sang pembantai dikenal sebagai legenda oleh masyarakat. Kisah perjuangan Batosai Himura dalam ladang pertempuran pun diangkat ke dalam pementasan drama yang disaksikan langsung oleh Rurouni Kenshin, beserta rekannya, Sanosuke dan Kaoru Kamiya.

Keadaan Jepang sudah berubah sejak memasuki era baru. Kedamaian berhasil tercipta dan tidak ada lagi peperangan yang terjadi. Akibat tercapainya kedamaian itu, kepemilikan senjata oleh masyarakat sipil pun mulai diatur dengan hukum negara untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Namun dibalik kedamaian tersebut, muncul sebuah ancaman baru yang mengintai Jepang. Salah satu pembunuh yang terlibat perang 10 tahun lalu, Makoto Shishio mulai menunjukkan gerakkan. Shishio memiliki ambisi untuk membalas dendam kepada pemerintahan baru Jepang.

Sulitnya Masa Transisi Pemerintahan

Makoto Shishio disebut-sebut sebagai penerus dari Batosai karena kemampuan dan kebengisan nya saat membunuh. Ancaman dari sang pembunuh ini dikabarkan terkait dengan masa lalunya, yaitu saat peperangan 10 tahun lalu. Shishio merasa bahwa dirinya dikhianati oleh pihak pemerintahan baru karena telah mencoba membunuh dirinya meski Shishio telah berhasil membantu pasukan pemerintahan baru mengalahkan pasukan Shogun.

Sebagai langkah pembalasan dendam, Shishio pun mengumpulkan persenjataan dan bala tentara untuk mengacaukan kondisi Jepang. Ancaman dari Shishio pun langsung ditanggapi oleh pihak pemerintahan baru. Secepatnya, utusan pemerintah mendatangi Kenshin dan meminta bantuan kepada Kenshin untuk menghadang langkah Shishio di Kyoto.

Ancaman tidak hanya datang dari Shishio, salah seorang mantan tentara Shogun, Aoshi juga memiliki dendam terhadap pemerintahan baru. Rekan seperjuangan Aoshi dibantai oleh pasukan pemerintahan baru dalam perang 10 tahun lalu. Selain dendam terhadap pemerintah, Aoshi juga hendak mencari Kenshin dan mengakhiri hidupnya.

Kyoto Lautan Api

Diberi perintah oleh pihak pemerintah, Kenshin tidak bergegas untuk berangkat ke Kyoto. Pertimbangan demi pertimbangan dipikirkan oleh Kenshin atas permintaan pemerintah tersebut. Pertimbangan datang dari Kaoru, yang mengkhawatirkan keadaan Kenshin jika memaksa pergi ke Kyoto.

Kaoru sekuat mungkin berusaha untuk mencegah Kenshin pergi ke Kyoto. Hal tersebut dilakukan Kaoru karena ia tidak ingin tangan Kenshin digunakan untuk membunuh orang lagi. Kenshin pun menyadari bahwa kemampuan pedang yang ia miliki bukanlah untuk mengakhiri hidup seseorang. Pedang Sakabato (pedang punggung) yang digunakan Kenshin menjadi komitmen bagi dirinya bahwa ia tidak akan menggunakan kemampuan pedang untuk membunuh.

Dilanda kegalauan yang demikian hebatnya, suatu hari seseorang dari pihak pemerintahan terbunuh saat hendak menemui Kenshin. Antek-antek Shishio pun mulai menebar terror untuk mengacaukan keadaan damai. Untuk mencegah timbulnya banyak korban yang dapat kembali berjatuhan, Kenshin pun memutuskan untuk pergi ke Kyoto untuk mencegah Shishio yang hendak membumi hanguskan Kyoto.

Trailer

Ulasan

Film Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno ini merupakan sebuah versi live-action dari seri anime dan manga. Salah satu poin penting dalam film ini adalah karena film ini berhasil mengadaptasi seri manga dan anime dengan cukup baik. Karakter yang tampil dalam film ini terlihat cukup mirip dengan karakter yang muncul dalam versi anime dan seri manga nya. Sosok Makoto Shishio menjadi perhatian utama dari film ini, dimana pada film ini, ciri khas karakter antagonis berdarah dingin tersebut serupa dengan apa yang ada di manga dan anime nya.

Setting dalam film ini juga ditampilkan dengan menarik. Menonton film ini membuat penonton kembali mengingat masa-masa disaat gedung-gedung perkotaan metropolis masih belum membanjiri Jepang. Unsur budaya tradisional khas Jepang juga ditampilkan dengan apik pada film ini.

Untuk bagian aksi pertempuran dalam film ini, beberapa adegan cukup mencengangkan. Karakter khas Kenshin yang tidak ingin membunuh lawannya meski ia merupakan seorang Samurai, mampu menghasilkan adegan aksi yang berbeda dari film aksi lainnya. Bagi yang menggemari adegan pertempuran yang dipenuhi intrik dan gerakan akrobatis, film ini mampu menampilkan adegan-adegan aksi semacam itu.

Film tidak lengkap tanpa adanya musik pendukung. Dan dalam Rurouni Kenshin – Kyoto Inferno, musik latar yang diputar mampu merangsang telinga penonton untuk merasakan suasana ketegangan dalam aksi yang muncul di layar lebar. Adegan yang muncul dalam film ini berjalan beriringan dengan irama musik latar yang mampu membuat penonton merasakan suasana adegan yang tengah berlangsung di layar.

Namun ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan dari film ini. Bagian paling penting yang patut diperhatikan adalah dari sisi pembawaan cerita. Cerita yang ditampilkan pada beberapa bagian cukup terasa berlangsung sangat cepat sehingga dalam beberapa bagian akan sulit untuk diikuti. Belum lagi pengenalan karakter yang tidak disampaikan dengan jelas menjadikan penonton yang tidak menonton film pertamanya, maupun yang belum sempat mengikuti seri anime dan manga nya akan sedikit berusaha untuk memahami berbagai karakter yang muncul.

Banyaknya adegan kekerasan yang ditampilkan juga kurang cocok untuk ditonton bagi mereka yang masih belum cukup usia untuk memahami apa yang ditonton. Pendampingan bagi mereka yang belum cukup usia pun diperlukan. Adegan kekerasan yang penuh darah menjadikan film ini kurang cocok ditonton bagi mereka yang tidak menyukai adegan pertempuran yang penuh darah.

Kesimpulan

Rurouni Kenshin – Kyoto Inferno merupakan film live-action yang patut ditonton bagi anda penggemar seri Samurai X. Karakter yang ditampilkan menjadi daya tarik tersendiri dalam film ini karena ditampilkan dengan kemiripan yang akan membawa penonton kembali ber-nostalgia dengan seri manga dan anime nya. Berbagai aksi dan intrik yang muncul juga membawa plot cerita menjadi hal menarik. Dari segi cerita tetap menampilkan pembawaan yang menarik.

Namun bagi yang belum terlalu akrab dengan seri manga dan anime nya, maupun yang belum menonton film pertamanya akan menjadi hal yang cukup sulit untuk mengikuti jalan cerita di film kedua ini. Banyaknya adegan kekerasan juga menjadi catatan tersendiri bagi sebagian penonton yang tidak terbiasa maupun menyukai adegan kekerasan ditambah dengan adegan penuh darah.

Rurouni Kenshin, lebih dikenal sebagai Samurai X di Indonesia, diangkat dari manga berjudul sama karya Nobuhiro Watsuki. Pernah diangkat ke dalam Anime yang ditayangkan di stasiun televisi SCTV pada tahun 2000. Adapun manganya sendiri juga telah diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo.

Movie Kyoto Inferno akan diputar secara reguler oleh Blitzmegaplex mulai tanggal 10 September 2014. Adapun Blitzmegaplex ke depannya juga berencana untuk memutar sequelnya yang bertajuk Rurouni Kenshin – The Legend Ends rencananya pada 8 Oktober 2014.

Anda bisa membeli tiketnya secara online pada tautan berikut ini atau membelinya langsung di counter penjualan tiket.

KAORI Newsline | Oleh Rafly Nugroho

1 KOMENTAR

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.