Derita Tunawisma Jepang di Masa Olimpiade 2020: Disembunyikan Hingga Diusir demi Citra Kebersihan Kota

0
tunawisma jepang
© KADOKAWA / "Hige Hiro" Production Committee Gambar hanyalah ilustrasi

Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang yang digelar padatanggal 23 Juli hingga 8 Agustus 2021 lalu ternyata memiliki sisi gelap tentang para tunawisma yang putus asa setelah diusir demi membuat citra kota bersih di mata dunia. Ratusan tunawisma di pusat kota Tokyo dipaksa menyingkir selama pertandingan bergengsi dunia berlangsung. “Pemerintah ingin kami pergi agar tidak terlihat,” kata tunawisma Tetsuo Ogawa, sebagaimana dilansir dari Kompas.com melalui BBC Indonesia pada Jumat (30/7/2021). Ogawa menjadi tunawisma selama hampir 20 tahun. Dia memprotes perlakuan yang tidak adil terhadap tunawisma.

Sejak Jepang terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2013, pemerintah bersikap keras terhadap tunawisma. Taman-taman kota ditutup saat malam dan lampu dinyalakan demi mencegah para tunawisma masuk. Tenda tunawisma di sekitar stasiun kereta dan lokasi Olimpiade disingkirkan.

Ogawa mengatakan tahu para tunawisma terpaksa diusir karena pembangunan stadion Olimpiade, tetapi ia dan para tunawisma lainnya bingung harus pindah ke mana. “Kami tidak tahu di mana kami akan tinggal dan tidur,” ucapnya. Otoritas Jepang mengancam akan menyita barang-barang mereka jika tidak segera pindah dari lokasi Olimpiade, kata Ogawa. Sehingga, mau tidak mau mereka pergi dari lokasi itu dengan saling membantu memindahkan barang. “Para tunawisma sudah putus asa,” ungkap Ogawa yang memimpin demo para tunawisma untuk menuntut keadilan.

Osamu Yamada, seorang tunawisma berusia 62 tahun yang biasa tidur di belakang stadion Olimpiade, pasrah ketika semua barangnya dipasang tanda pengusiran oleh otoritas Jepang. “Kini saya dalam masalah,” ucapnya singkat menghadapi nasib. Sejumlah aktivis berusaha membantu para tunawisma mendapatkan keadilan hidup dan tanggung jawab yang layak dari pihak berwenang, tetapi pihak yang berkepentingan hanya bersikukuh mengusir para tunawisma. “Saya harap Olimpiade ini tidak ada,” harap pria tua ini yang telah empat kali mengalami diusir karena Olimpiade, dan Olimpiade Tokyo 2020 adalah yang terkini ia alami.

Di malam itu, Yamada akhirnya menemukan tempat untuk tidur, tidak jauh dari stadion Olimpiade. Berlindung di bawah jembatan karena hujan deras. Namun, saat pagi tiba, Yamada akan kembali diusir dan kembali harus mencari tempat berlindung. “Jika Anda tunawisma, Anda hanya punya tenda sebagai tempat tinggal. Ini sama dengan kehilangan rumah. Mereka tiba-tiba datang memgambil hartamu,” ungkap Ogawa.

Menurut sosiolog Jepang Masato Kimura, apa yang terjadi pada tunawisma Tokyo adalah pihak berwenang mencoba menyembunyikan orang-orang miskin itu dari tengah kota. “Mereka ingin menunjukkan kota yang bersih pada media asing dan juga para atlet,” kata Kimura.”Pemerintah ingin memindahkan (tunawisma) dengan sangat jelas mengatakan, ‘Sembunyikan diri kalian selama Olimpiade’,” terangnya.

Sementara itu, pemerintah membantah telah memaksa tunawisma pergi karena Olimpiade Tokyo 2020. Pemerintah Jepang berdalih akan memindahkan mereka ke tempat penampungan. Namun, ruangnya kecil dengan tempat tidur tumpuk. Padahal, kebanyakan tunawisma di Jepang berusia di atas 60-an. Para tunawisma merasa lebih aman tidur di jalanan untuk menghindari Covid-19, apalagi belum mendapatkan vaksin. “Setiap orang membutuhkan tempat tinggal. Tempat umum dan taman adalah tempat mereka biasa bermalam, jika tidak ada tempat-tempat itu, mereka akan sulit bertahan hidup. Menyembunyikan realitas orang miskin di kota dan menyembunyikan mereka demi Olimpiade tidak adil dan tidak manusiawi,” jelas Kimura.

KAORI Newsline | Disadur dari Kompas.com (Editor : Shintaloka Pradita Sicca) sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.