BAGIKAN

sbm-illust2

Sepanjang hampir 25 tahun Doraemon menghibur orang Indonesia, cukup banyak anak-anak Indonesia yang melewatkan masa kecilnya komik dan kartun ini. Mereka yang membaca komiknya semasa kecil pun seharusnya tidak asing lagi dengan penafsiran baru yang disampaikan oleh Doraemon, mengingatkan kembali akan nostalgia membaca komik dengan terjemahan “merakyat” pada masa itu. Tidak hanya komik, filmnya pun rajin menyambangi bioskop dan layar kaca (dan masih sering ditayangkan setiap hari libur nasional maupun musim liburan sekolah.)

Tetapi berbeda dengan film-film Doraemon sebelumnya, Stand By Me Doraemon berusaha mengubah total stereotip film Doraemon yang biasanya. Film ini dibuat dengan teknik 3D, salah satu pertanda Jepang yang sepertinya mulai mencoba merengkuh animasi 3D setelah selama 10 tahun terakhir cukup bersikukuh bertahan dengan animasi 2D konvensional (halo, Frozen?)

Advertisement Inline

  

Stand By Me Doraemon diawali dengan mengutip chapter pertama dari volume paling pertama komiknya, namun didahului dengan gambaran situasi Nobita yang lengkap dengan segala penderitaannya. Saat terbangun, Nobita datang terlambat ke sekolah, harus disetrap, dijahili Giant dan Suneo (dan dibela Shizuka), serta tidak bisa bermain kasti. Kemudian pada tengah malam, Sewashi dan Doraemon datang mengabarkan masa depan Nobita yang akan menikah dengan Jaiko, adik Giant. Di sini, Doraemon diprogram harus bisa membuat Nobita bahagia sebelum bisa kembali ke masa depan dan berbeda dengan komik awalnya, Doraemon terlihat ogah-ogahan saat menerima penugasan ini.

Pada 15 menit awal Stand By Me Doraemon, penonton akan dimanjakan epiknya CG Nobita yang tidak dapat mengendalikan baling-baling bambu dan terseret mengelilingi kota tempatnya tinggal. Selain itu, render mesin dan lorong waktu yang dipakai Sewashi dan Doraemon menuju tahun tinggalnya Nobita juga sangat dimutakhirkan, jauh sekali dari kesan flat yang biasanya muncul pada komiknya.

  

Cerita Stand By Me Doraemon berlanjut dengan menggabungkan beberapa chapter dari volume-volume random, namun terlihat koheren dan dengan transisi yang cukup halus. Titik utama yang diambil umumnya (dan akan mendominasi bagian tengah sampai akhir cerita) adalah hubungan antara Nobita dan Shizuka. Naik-turun dan peralatan ajaib yang keluar akan berelasi dengan Shizuka dan memengaruhi gambar hubungan Nobita di masa depan.

Kebahagiaan Nobita dianggap tercapai setelah Nobita dipastikan menikah dengan Shizuka, dan cerita beralih ke Doraemon yang dipaksa untuk kembali ke masa depan karena program Sewashi sebelumnya. Sisi emosional sangat ditunjukkan dengan Doraemon yang menahan sedih karena tidak mau berpisah dari Nobita. Lalu, film pun diakhiri dengan adaptasi chapter penutup volume 6 dan chapter pembuka volume 7 komik aslinya.

Eksekusi cerita dalam Stand By Me Doraemon bisa dikatakan secara singkat, klise. Alurnya mudah ditebak dan feels saat menonton adaptasi Doraemon Petualangan tidak bisa ditemukan di sini.

Duet Yagi Ryuichi dan Yamazaki Takashi mengerjakan Stand By Me Doraemon dalam waktu 1 tahun dan sebelumnya telah dipercaya menangani film animasi full 3D pertama Jepang, Friends: Mononoke Shima no Naki. Eksekusi oleh duet sutradara ini dilakukan dengan cukup mulus. Meja dan kamar Nobita digambarkan dengan detail dan dalam film ini, bisa dilihat render kepala Doraemon yang tidak 100% kinclong (sedikit dof) serta celana Nobita yang terlihat seolah berbahan denim.

Lagu latar dalam Stand By Me Doraemon bisa dikatakan lumayan, dengan nada-nada yang tidak asing bagi penonton Doraemon episode terbaru (yang dibuat tahun 2005 ke atas.) Sangat disayangkan Doraemon no Uta, lagu “kebangsaan” pembuka setiap seri Doraemon tidak ditampilkan di sini, tetapi Himawari no Yakusoku oleh Hata Motohiro mengisi lagu penutup film ini. Ada yang teringat Kotonoha no Niwa?

doraemon

Selain cerita, nilai minus lain dalam pemutaran Stand By Me Doraemon adalah takarir yang tidak mudah dimengerti dan memasukkan istilah-istilah aneh yang tidak akurat diterjemahkan ke bahasa Inggris atau Indonesia, tetapi bahasa Jepang yang dipergunakan dalam film ini umumnya cukup sederhana (minim istilah sulit) sehingga bisa dinikmati oleh mereka yang cukup mampu memahami percakapan sederhana bahasa Jepang. Audio yang tidak disulihsuarakan mungkin akan terasa asing bagi penonton yang tidak menonton Doraemon dalam bahasa Jepang, khususnya yang terbiasa mendengarkan suara “berat” Doraemon versi Nurhasanah. Terlepas dari itu, dubbing para pengisi suara aslinya dapat dikatakan sempurna, apalagi bila mempertimbangkan animasinya dikerjakan setelah dan berdasarkan hasil proses dubbing-nya.

Stand By Me Doraemon berhasil meraup pendapatan 81 juta dolar di Jepang sendiri, menjadikannya termasuk sukses, namun begitu pula film-film Doraemon sebelumnya.Bila Anda ingin menikmati Doraemon dari segi berbeda dan pengalaman yang baru, Stand By Me Doraemon akan sangat menarik ditonton, dengan catatan siap menerima alurnya yang rada klise. Selain itu, mungkin film ini akan cukup terasa asing, khususnya bagi yang tidak pernah menonton Doraemon selain versi berbahasa Indonesia. Adapun untuk tahun 2015, Doraemon akan meluncurkan Movie dengan kembali menggunakan teknologi 2D konvensional bertajuk Nobita’s Space Hero Record of Space Heroes.

Doraemon-640x311

Sampai jumpa di 2015. Siapa bilang Doraemon akan berakhir?

Anda bisa menyaksikan Stand By Me Doraemon mulai 10 Desember 2014 mendatang di jaringan Blitzmegaplex dan Cinemaxx. Adapun bagi anda yang berdomisili di Cibinong, Solo, Sidoarjo dan Magelang anda bisa menyaksikannya di Platinum Cineplex.

KAORI Newsline | oleh Kevin Wilyan | Terima kasih kepada PT. Jive Entertainment

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.