Misteri Harta Karun (Noroi no Kuro Juuji)

Komik asal Jepang atau dikenal juga sebagai manga sudah cukup lama populer di Indonesia. Sejak diterbitkannya Candy Candy oleh Elex Media di awal tahun 90an lalu, komik-komik manga asal Jepang terus mendominasi pasar komik di Indonesia hingga sekarang.

Salah satu hal yang cukup menarik dari penerbitan komik Jepang oleh Elex Media di era tahun 90an adalah adanya pelabelan terhadap sejumlah komik dengan genre shojo. Pelabelan ini adalah Serial Cantik yang mencakup komik-komik bergenre shojo, atau komik untuk anak perempuan. Pelabelan lainnya adalah Serial Misteri, sebuah pelabelan untuk komik-komik bergenre misteri, thriller, hingga horor. Uniknya, komik-komik Serial Misteri ini umumnya adalah komik-komik bergenre shojo. Karenanya Serial Misteri boleh dibilang merupakan komik Serial Cantik yang memiliki bumbu misteri, thriller, atau horor.

Salah satu komik Serial Misteri yang pernah diterbitkan oleh Elex Media adalah Misteri Harta Karun, atau dalam judul aslinya adalah Noroi no Kuro Juuji, yang berarti Kutukan Salib Hitam. Komik ini merupakan komik karangan Yoko Matsumoto, seorang komikus asal Jepang yang memang cukup banyak membuat komik-komik bergenre misteri di era 80an. Beberapa komik misteri karya Yoko Matsumoto lainnya pun juga telah diterbitkan di Indonesia, di antaranya adalah Mienai Kao (diterbitkan oleh Elex dengan judul Missing Face) dan Nusumareta Houkago (diterbitkan oleh Elex dengan judul Missing Time). Baik Missing Face, Missing Time, dan Misteri Harta Karun sendiri semuanya diterbitkan di awal 90an, di mana Misteri Harta Karun yang diterbitkan di Jepang pada tahun 1987, diterbitkan di Indonesia pada tahun 1993.

misteri harta karun
Cover Noroi no Kuro Juuji versi Jepang © Yoko Matsumoto / Kodansha

Misteri Harta Karun bersettingkan di sebuah pedesaan di sebuah wilayah di Eropa. Tersebutlah Pendeta White yang ditugaskan mengelola sebuah Gereja di sebuah desa bersama dengan anaknya, Arden dan Adell. Gereja yang menjadi rumah baru mereka ini memiliki sebuah kejanggalan, sebagaimana yang disebutkan Adell, bahwa Salib yang terdapat di atap teratasnya memiliki bagian atas yang patah. Bertahun-tahun keluarga White tinggal di Gereja tersebut, mereka masih tetap dipandang sebagai orang asing oleh warga setempat. Meskipun begitu mereka bertiga hidup bahagia, sampai suatu saat Pendeta White harus meregang nyawa akibat kecelakaan. Di akhir hidupnya ia berpesan kepada Arden dan Adell untuk tidak menyentuh Salib hitam. Tapi Salib hitam yang mana? Padahal mereka sebelumnya tidak pernah melihat ada Salib berwarna hitam di dalam Gereja. Apa sebenarnya Salib hitam yang dimaksud oleh Pendeta White tersebut, dan teror apa yang ada di baliknya? Dan apa sesungguhnya misteri yang berada di balik sejarah dari Gereja tempat Adell dan keluarganya tinggal tersebut?

Seram, Gore, Nampol di Zamannya

Awal mula penulis berkenalan dengan komik Misteri Harta Karun adalah ketika masih SD dulu. Komik ini memang sudah cukup lawas karena diterbitkan di Indonesia pada tahun 1993, dan kini bisa dibilang sudah sangat langka, bahkan penulis kini tak lagi memiliki komiknya. Komik ini sendiri dulu milik kakak penulis yang sayangnya komiknya juga saat ini sudah lama hilang. Karenanya mungkin komik ini seskarang hanya bisa didapatkan melalui toko-toko online.

Untuk ukuran sebuah komik produksi tahun 1987 yang diterbitkan di Indonesia di tahun 1993, dan dibaca oleh penulis yang saat itu masih duduk di bangku SD, wow, komik ini benar-benar amat sangat seram. Ini benar-benar sebuah komik supranatural yang sangat menaikkan bulu kuduk, bahkan penulis mengaku cukup trauma saat pertama kali membacanya dulu. Yoko Matsumoto benar-benar tidak segan-segan mengerahkan segalanya dalam membuat sebuah kisah horor yang sangat mengerikan di zamannya. Kisah misteri dibalut sejarah perburuan penyihir di Eropa abad pertengahan, harta karun tersembunyi (yang menjadi dasar dari Elex Media membuat judul versi Indonesianya menjadi Misteri Harta Karun), hingga sejumlah sosok misterius yang mencurigakan, tak lupa dengan grafik-grafik yang bisa dibilang cukup gore dan membuat bulu kuduk berdiri. Sebut saja sejumlah kumpulan zombie, termasuk di antaranya zombie tanpa kepala, orang terbunuh dengan kepala terpenggal (lengkap dengan kepala yang terlepas dan diperlihatkan secara eksplisit), zombie dengan leher masih menyisakan sejumlah sayatan dengan darah segar yang masih merembes, pemandangan yang akan mengingatkan kita dengan Misa Hitam ala Gereja Setan yang kontroversial, hingga makam yang terobrak abrik meninggalkan kepala sendirian dan tubuh yang bergerak sendiri entah ke mana. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat traumatis dari sebuah komik Jepang (yang sejatinya cenderung bergenre shojo) pada masanya. Bahkan sampai saat ini penulis masih jarang menemukan komik Jepang dengan kadar gore yang bukan cuma membuat trauma, namun juga membuat bulu kuduk berdiri sedahsyat Misteri Harta Karun. Apalagi penulis sejatinya memang bukan penyuka genre atau grafik gore, dan grafik gore di komik ini sebenarnya tidak benar-benar membuat pembaca akan “mual” ala MPD Psycho atau Akame Ga Kill, tapi, serius serem banget.

Alur cerita dari komik ini sendiri cenderung berjalan cukup stabil. Edisi pertama komik ini hadir dengan nuansa kengerian yang amat sangat dengan misteri, teror, dan kengerian yang diperlihatkan dan terbangun satu per satu. Sementara di edisi keduanya elemen horor mulai berkurang setelah sejumlah misteri mulai terbuka, dan berakhir dengan klimaks yang lebih “action” dan untungnya berakhir dengan cukup bahagia dan memuaskan, meski dibalut pula dengan sejumlah kesedihan. Satu hal yang cukup menarik, komik versi terbitan Elex Media ini memiliki ilustrasi cover yang berbeda dengan versi Jepangnya. Entah apakah Elex meminta langsung Yoko Matsumoto untuk membuat desain cover yang berbeda dengan asli Jepangnya, atau Elex membuat sendiri cover ini, entah digambar oleh siapa.

Setidaknya penulis hampir tidak menunjukkan sama sekali seperti apa isi dari komik ini dengan alasan kengerian yang terlalu vulgar, maupun fakta bahwa penulis saat ini sayangnya sudah tidak lagi memiliki komiknya.

Plagiat?

adversary cycle
© Paramount Pictures
© F. Paul Wilson / William Morrow
© F. Paul Wilson / Matthew Dow Smith / IDW Publishing

Di tengah kengerian yang disajikan oleh Yoko Matsumoto dalam Misteri Harta Karun, komik ini rupanya menyimpan sebuah kontroversi, di mana isi ceritanya disinyalir sama persis, kalau tak mau dibilang plagiat dengan sebuah novel horor asal Amerika yang berjudul The Keep. Informasi ini secara tak sengaja penulis dapatkan dari sebuah forum yang sempat membahas mengenai adanya kesamaan antara Misteri Harta Karun dengan The Keep.

The Keep sendiri merupakan novel karya penulis Amerika, F. Paul Wilson. Novel ini dirilis tahun 1981, dan sempat diangkat menjadi film oleh Paramount Pictures pada tahun 1983, dengan disutradarai oleh Michael Mann. Kemudian pada tahun 2006 F. Paul Wilson juga mengadaptasinya menjadi komik yang digambar oleh Matthew Dow Smith, dan diterbitkan oleh IDW Publishing.

The Keep sendiri berkisah mengenai sekelompok tentara NAZI Jerman yang menduduki wilayah Rumania di masa Perang Dunia Kedua. Sekelompok tentara NAZI tersebut dikisahkan mendatangi sebuah desa yang memiliki sebuah benteng tua yang misterius, yang dianggap sakral oleh penduduk setempat, tanpa benar-benar mengetahui apa sebenarnya benteng tersebut. Rentetan pembunuhan misterius terhadap sejumlah tentara NAZI yang memasuki benteng tersebut belakangan membuka tabir akan sebuah teror dan kengerian di balik benteng misterius tersebut.

Jika diperhatikan dengan seksama, baik Misteri Harta Karun maupun The Keep memang memiliki kesamaan alur cerita, hingga premis yang disajikan. Iblis yang tersembunyi di dalam bangunan tua misterius, rentetan pembunuhan misterius dan mengerikan, hingga sosok misterius yang nantinya akan memiliki hubungan dengan karakter utama dari masing-masing cerita. Dan satu hal yang cukup mencolok adalah adanya simbol berupa Salib dengan bagian atas yang patah, dan menyisakan sedikit gundukan, menjadikannya nampak seperti sebuah huruf “T” dengan sedikit gunungan di tengahnya. Yang menarik, jika sudah pernah membaca komik Misteri Harta Karun maupun menonton film The Keep, terungkap betapa miripnya penampakan simbol Salib patah tersebut, dan hanya warnanya saja yang berbeda. Perhatikan perbandingan gambar berikut ini:

the keep
Perbandingan simbol Salib hitam dari Misteri Harta Karun (kiri) dengan Salib perak dari film The Keep (kanan). Mirip bukan? © Yoko Matsumoto / Kodansha © Paramount Pictures

Penulis sendiri belum pernah mengetahui tentang The Keep sebelumnya. Namun setelah membaca lebih lanjut mengenai The Keep, dengan ingatan akan isi cerita Misteri Harta Karun yang masih cukup jelas, rupanya memang keduanya bisa dibilang amat sangat mirip. Tidak jelas apakah Yoko Matsumoto memang bekerjasama (atau setidaknya meminta izin atau membeli lisensi) dengan F. Paul Wilson untuk “melokalisasikan” The Keep, ataukah ini benar-benar sebuah plagiat. Karena kesamaan ini sendiri memang sangat jarang dibicarakan, dan hanya pernah dibicarakan dalam sebuah forum internet saja. Padahal di Amerika sendiri The Keep merupakan sebuah novel yang cukup populer bahkan dinobatkan sebagai best seller oleh New York Times, tentu saja novel ini bukanlah novel biasa. Tapi fakta ada sebuah komik dari Jepang yang memiliki kesamaan cerita, namun sangat jarang disadari orang menjadi sebuah misteri tersendiri. Apakah masyarakat kebanyakan, termasuk F. Paul Wilson sendiri menyadari ada sebuah komik dari Jepang yang memiliki cerita yang sama dengan karyanya?

Dengan mengingat sangat dekatnya hubungan Amerika dengan Jepang, maka besar kemungkinan kalau novel tersebut juga diterbitkan di Jepang, dan Yoko Matsumoto hampir pasti juga mengetahui dan membaca langsung novelnya. Namun apakah novel The Keep sendiri populer di Jepang? Karena jika jawabannya iya, harusnya masyarakat Jepang pasti akan menyadari kalau ada sebuah komik yang “menjiplaknya”. Nyatanya jika melihat informasi mengenai Noroi no Kuro Juuji dalam Wikipedia berbahasa Jepang, sama sekali tidak disebutkan apa-apa mengenai The Keep. Tapi mungkin juga berhubung keterbatasan pengetahuan penulis akan bahasa Jepang, jadi akan sulit untuk menelusuri lebih lanjut. Ditambah dengan era penerbitan The Keep pada tahun 1981 maupun Misteri Harta Karun atau Noroi no Kuro Juuji yang terbit pada tahun 1987, era 80an di mana belum ada internet maupun keterbukaan informasi seluas sekarang, juga kesadaran hak cipta yang belum semutakhir sekarang, ditambah anime dan komik Jepang belum mengglobal seperti sekarang, mungkin ini juga salah satu penyebab mengapa kesamaan cerita dari keduanya kurang disadari publik.

Sebenarnya ada satu cara untuk menerka apakah Noroi no Kuro Juuji merupakan plagiat ataukah “lokalisasi” resmi dari The Keep, bahkan dengan menggunakan komik Misteri Harta Karun versi terbitan Elex Media saja. Lihat saja bagian credit hak cipta yang biasa terdapat di halaman depan komik-komik Elex Media. Jika dalam credit tersebut terdapat nama F. Paul Wilson, maka bisa dipastikan komik ini adalah sebuah “lokalisasi” resmi. Namun jika tidak terdapat nama F. Paul Wilson…

Kira-kira novel The Keep terbit di Indonesia juga tidak ya? Jadi penasaran.

KAORI Newsline | Oleh Dody Kusumanto

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.