BAGIKAN

halal

Warga Jepang percaya label halal telah menyihir mereka. Tak sedikit pengusaha percaya diri dan meyakini jika sudah mendapatkan label, produk mereka bakal laris manis di tangan konsumen.

“Ada yang melihat label halal seperti alat sihir saja. Kalau sudah diberikan label, pikirnya barang mudah dijual dan bisa menguntungkan,” ujar Tomohiro Sakuma, CEO Asosiasi Bisnis Halal Jepang sebagaimana dilansir dari Tribunnews.

Advertisement Inline

Pada hakekatnya, kata Sakuma, banyak pengusaha belum mengenai dunia Islam dan maksud pelabelan tersebut.

“Saya sering katakan kepada mereka (pengusaha), jangan berpikir label seperti alat sihir. Sebaiknya segera belajar mengenai Islam dan halal lebih baik lagi. Apabila memang mau menjalankan bisnis dan mencantumkan label pada produknya,” papar Sakuma.

sakuma-halal_20150502_004014

CEO Asosiasi Bisnis Halal Jepang, Tomohiro Sakuma. 

Seperti orang Jepang kebanyakan, Sakuma bukan Muslim tapi mau belajar mengenai Islam selama tiga tahun sebelum mendirikan asosiasi yang dipimpinnya sekarang. Sakuma juga sudah empat kali pergi ke Indonesia.

Menurut Sakuma secara umum warga Jepang punya perhatian kepada label halal justru wanita. Terutama karena mereka suka berbelanja produk kosmetik, makanan dan minuman.

Sementara laki-laki, demi bisnis, pekerjaan dan usaha mereka, kebanyakan mereka terpacu untuk mencari sertifikasi. Harapan mereka produknya laku di tangan konsumen dan bisnisnya menjadi lancar.

“Laki-laki hanya ingin agar produk dan bisnisnya lancar dengan mencantumkan produk halal. Tampaknya mereka semakin percaya kalau sudah ada labelnya. Tapi wanita lebih menekuni dan punya perhatian besar soal dunia Muslim dan halal ini,” tambah Sakuma.

KAORI Newsline

1 KOMENTAR

  1. Kesimpulan dari artikel ini yang saya tangkap :

    1. Sebagian pengusaha di Jepang menganggap bahwa label ‘halal’ di produk mereka akan membuat kenaikan penjualan pada barang yang mereka produksi. Sebagian pengusaha tadi juga beranggapan bahwa label ‘halal’ hanya sekedar pendobrak keuntungan semata tanpa mendalami arti dari label ‘halal’ itu tadi.

    2. Kebanyakan pria yang mengetahui sertifikasi ‘halal’ adalah kalangan pengusaha dan berpendapat seperti nomor satu. Kebanyakan wanita yang mengetahui sertifikasi ‘halal’ adalah konsumen yang mungkin mementingkan kualitas dan keamanan dari barang yang dibeli.

    Intinya, pengertian dari sertifikasi ‘halal’ ini mesti didalami lebih lanjut, karena sertifikasi ‘halal’ hakikatnya bukanlah sebuah alat untuk mendongkrak keuntungan pengusaha semata, tapi untuk memberikan konsumen keamanan dan membuat konsumen yakin akan apa yang dibeli dan dikonsumsinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.