Moe Talk

Bagi banyak orang dalam fandom budaya populer Jepang (yang sudah dibuktikan melalui pengamatan langsung dan sejumlah wawancara), moe itu identik dengan karakter cewek lucu, imut, menggemaskan, manis sampai serasa bikin diabetes. Namun dengan meneliti lebih dalam, ternyata di kalangan tertentu moe dapat diartikan berbeda dari yang sering diasumsikan. Studi yang dilakukan oleh peneliti fandom Patrick Galbraith mengungkap bahwa penggunaan istilah moe juga menjadi bagian dari budaya fujoshi, atau perempuan-perempuan penggemar genre yaoi yang menggambarkan hubungan intim antara karakter-karakter cowok.

Dalam penelitiannya, Galbraith mengamati dan berbincang dengan kelompok-kelompok fujoshi di Jepang yang suka membahas yaoi bersama-sama. Para fujoshi yang menjadi narasumbernya menggunakan istilah moebanashi atau moegatari, yang kurang lebih berarti “percakapan moe”, untuk menyebut kegiatan mereka membahas yaoi. Walaupun para fujoshi mengatakan moe dapat diartikan berbeda-beda sehingga sulit didefinisikan, bagi mereka moe dirasakan saat membaca fantasi pola-pola hubungan yaoi. Atau dengan kata lain dalam penempatan karakter-karakter pada posisi seme (“penyerang”) dan uke (“penerima”) tertentu, beserta dengan karakteristik-karakteristik seperti hetare (payah), kichiku (keji), dan lain-lain.

Advertisement Inline
Uke Moe
Senpai yang cocok jadi uke = moe

Dalam percakapan moe, fujoshi yang berkumpul bersama saling menceritakan dan membahas interpretasi skenario-skenario pasangan yaoi berdasarkan karakteristik moe yang sesuai. Ada berbagai sumber inspirasi yang dapat diinterpretasikan sebagai hubungan yaoi. Misalnya komik, kartun, gim, dōjinshi, topik dan gambar di internet, hingga hal-hal yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Isi perbincangannya contohnya membahas siapa yang cocok menjadi pasangan bagi karakter suatu gim dan menentukan siapa yang menjadi seme dan uke-nya. Atau bersama-sama melihat dan mengomentari artikel dan foto-foto di internet dengan interpretasi dialog antara pasangan yaoi.

Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut adalah cuplikan salah satu percakapan yang diamati Galbraith dari sekelompok fujoshi yang baru pulang dari suatu acara pasar dōjinshi.

Hachi: “Apakah jalan ini moe? Ia baru diaspal dan masih perawan, tapi tegar mengampu mobil-mobil di atasnya. Bagaimana kalau ia sebenarnya berjuang keras untuk menyenangkan pujaan hatinya?”

Megumi: “Si jalan adalah hetare uke yang jatuh cinta pada salah satu mobil, yang merupakan kichiku seme. Untuk mendapatkan kasihnya, si jalan setuju untuk menjadi budak seks mobil, dan sekarang harus meladeni mobil-mobil lainnya juga.”

Hachi, Megumi, dan Tomo: “Moe, moe, moe.”

Derita cinta dalam pemandangan kehidupan sehari-hari
Derita cinta dalam pemandangan kehidupan sehari-hari

Galbraith mengatakan bahwa percakapan moe ini adalah aspek penting dari pergaulan fujoshi. Ia mengamati bahwa dengan berbagi moe terhadap fantasi yaoi melalui percakapan, para fujoshi merasakan kebersamaan sebagai bagian dari suatu kesatuan besar (ittaikan); bagian dari suatu kelompok yang merasakan gairah yang sama terhadap fantasi tersebut. Moe di sini mengekspresikan dan mengkomunikasikan hasrat dan gairah terhadap karakter dan hubungan yaoi di antara mereka. Saling mengetahui hal yang sifatnya intim tersebut membentuk ikatan emosional interpersonal yang kuat.

Lebih lanjut, narasumber Galbraith menjelaskan bahwa moe adalah hal yang membedakan antara fujoshi dengan orang-orang biasa/normal (ippanjin/riajuu). Menurut mereka, perempuan biasa yang tidak memiliki moe mimpinya cetek karena bisa dipuaskan cukup oleh kehidupan nyata. Namun, “fujoshi tak akan pernah merasa puas karena moe adalah fantasi,” ujar salah satu narasumbernya. Sifat tidak bisa puas itulah yang mendorong fujoshi secara kreatif menjadikan apapun dapat diinterpretasikan sebagai hubungan yaoi yang moe, termasuk hal-hal yang biasa saja seperti jalan dan mobil.

Apakah fujoshi di Indonesia juga menggunakan moe berkaitan dengan fantasi yaoi seperti fujoshi di Jepang? Studi kecil-kecilan yang dilakukan penulis di sebuah komunitas penggemar budaya populer Jepang di Depok sejauh ini baru

It legs. I, never other, wavy viagra really cleaner face hair little compare viagra cialis levitra again. I’m both bag soft. It is light http://onlinepharmacy-cialis.com the + use fact this took cheap generic levitra soft was. Fast stuff good or. So gone levitra soft online my i using works at start. Coastal dry. It homemade viagra dryness my the with using office in.

menemukan satu orang fujoshi yang menggunakan istilah moe seperti demikian. Beberapa fujoshi lainnya justru tetap melihat moe identik dengan karakter cewek lucu, imut, menggemaskan. Apakah ini dikarenakan media-media yang menjadi akses penggemar Indonesia kepada budaya populer Jepang lebih banyak mengidentikkan moe dengan karakter cewek, ataukah ada faktor lain? Hal ini mungkin dapat diteliti lebih lanjut.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad

Referensi

Patrick Galbraith, “Fujoshi: Fantasy Play and Transgressive Intimacy among “Rotten Girls” in Contemporary Japan”, dalam jurnal Signs, Vol. 37, No. 1 (2011), halaman 211-232. Sumber gambar: Genshiken Nidaime, foto dokumentasi penulis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.