BAGIKAN

Akhir-akhir ini serial bertema militer dengan tambahan bumbu gadis-gadis cantik sudah sering menghiasi dunia anime. Mulai dari Girls und Panzer yang memilih rute realistis dan spesifik dalam hal teknis yang berhubungan dengan segalanya tentang tank, hingga Kantai Collection yang memilih rute fantasi di mana yang bertempur bukanlah kapal perang melainkan gadis-gadis muda bersenjata yang memiliki “jiwa” dari kapal-kapal perang tersebut. Girly Air Force bisa dibilang mengambil jalur tengah di antara dua rute tersebut.

Anime Girly Air Force
F-15 Eagle (©GAF Project/Kadokawa)

Girly Air Force adalah sebuah novel ringan garapan Kouji Natsumi dan ilustrasinya ditangani oleh Asagi Tosaka. Pada bulan Januari 2019, Girly Air Force diangkat menjadi serial anime oleh studio Satelight, dengan Katsumi Ono menjabat sebagai sutradara. Ceritanya berfokus pada seorang pemuda bernama Kei Narutani (Ryota Oosaka) yang harus melarikan diri dari tempat tinggalnya di Shanghai karena serangan kekuatan militer misterius dengan sebutan Xi. Dalam perjalanannya menuju Jepang, pesawat-pesawat Xi kembali menyerang rombongan kapal pengungsi yang ditumpangi Kei dan teman masa kecilnya Song Minhua (Lynn). Pasukan militer yang ada sama sekali tidak berdaya menghadapi pesawat-pesawat Xi berteknologi spesial yang membuat mereka nyaris mustahil untuk ditembak jatuh. Ketika segalanya seakan sudah berakhir, sebuah pesawat tempur JAS39 Gripen berwarna merah menyala menolong rombongan Kei dan berhasil melumatkan pesawat tempur milik Xi. Namun setelah aksinya yang spektakuler, tiba-tiba pesawat Gripen tersebut jatuh ke laut, kemudian mengambang begitu saja tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Kei yang nekat, berenang menuju pesawat tersebut untuk menolong sang pilot. Terkejutlah ia ketika melihat kokpit pesawat yang terbuka, menunjukkan seorang gadis berambut merah duduk di kursi pilot, yang sesaat kemudian membuka matanya yang mencium bibir Kei.

Episode satu dari anime ini terasa sedikit mengecewakan. Mengesampingkan kualitas gambar dan animasi yang tidak terlalu bagus, cerita dari episode pertama ini hanyalah murni sebuah prolog. Selama lebih dari dua puluh menit, yang disajikan dari episode ini hanya kisah latar belakang dan konflik ringan. Namun sangat disarankan untuk melanjutkan ke episode kedua, dikarenakan fokus utama dari anime ini baru diperkenalkan secara lengkap di episode tersebut.

©GAF Project/Kadokawa
Advertisement Inline

Di episode kedua, Kei akhirnya berkenalan dengan gadis berambut merah yang tak lain adalah pilot dari JAS39 Gripen yang menolongnya di lautan. Ia adalah seorang “Anima”, makhluk hasil penelitian yang ditugaskan untuk menjadi pilot pesawat tempur spesial bernama “Daughters” yang memiliki kemampuan untuk melawan serangan Xi. Nama gadis itu adalah Gripen (Yuka Morishima), sama dengan nama model pesawat Daughter yang ia kendalikan. Gripen dinilai oleh para ilmuwan sebagai Anima gagal karena ketidakstabilan dalam dirinya. Ketidakstabilan tersebut menyebabkan Gripen sering jatuh pingsan tiba-tiba, bahkan ketika mengendalikan pesawat. Anehnya, ketika bersama Kei Gripen jauh lebih stabil, bahkan ia bisa menjalani setengah hari penuh dengan terbangun. Akhirnya pihak militer Jepang memutuskan untuk memasangkan Kei bersama Gripen, dengan harapan Gripen menjadi normal dan dapat mengendalikan pesawatnya dengan baik untuk melindungi umat manusia dari serangan pihak Xi yang misterius.

Girly Air Force
©GAF Project/Kadokawa

Girly Air Force memiliki formula yang lebih mirip dengan anime seperti Date a Live atau Infinite Stratos daripada Girl und Panzer atau Kantai Collection. Fokusnya ada pada tokoh utama lelaki yang harus bekerja sama dengan gadis-gadis cantik berkemampuan khusus demi menghalau musuh yang menyerang. Serial ini juga memiliki elemen harem, meskipun sejauh ini tidak terlalu mencolok. Babak awal cerita berfokus pada hubungan Kei dan Gripen dan bagaimana mereka mulai memahami satu sama lain. Perkembangan kedua karakter terasa natural dan sangat menyenangkan untuk ditonton. Konflik yang mereka hadapi di akhir babak juga memiliki konklusi yang memuaskan.

Adegan-adegan pertarungan pesawat tempur di anime Girly Air Force juga dianimasikan dengan cukup seru (dengan teknologi 3DCG). Aksinya menegangkan dan kualitas model 3D pesawat tempur yang digunakan serial ini kelihatan cukup bagus. Studio Satelight memang memiliki pengalaman dalam merangkai pertarungan pesawat tempur dari franchise Macross yang mereka produksi bersama dengan studio Nue.

Anime Girly Air Force
F-4 Phantom (©GAF Project/Kadokawa)

Nantinya, dua Anima lain yaitu Eagle (Hitomi Oowada) dan Phantom (Shiori Izawa) muncul. Pada babak berikutnya dari serial ini, ketiga Anima tersebut harus bekerja sama untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat. Namun untuk mewujudkan hal tersebut tak semudah kedengarannya. Konflik baru yang lebih rumit terjadi, di mana lawan para Anima bukan hanya pasukan Xi, tetapi diri mereka satu sama lain. Perbedaan dari latar belakang dan cara berpikir memecah kesatuan Gripen, Eagle dan Phantom. Meski hal ini memiliki daya tarik sendiri, ada sedikit kesan plot penceritaan sedikit tersendat. Bukannya bergerak maju perlahan, plot dari serial ini terasa seperti mengambang di tempat. Belum lagi kadang kualitas gambar dan animasi terasa kembali naik turun.

Anime Girly Air Force
JAS39 Gripen (©GAF Project/Kadokawa)

Kesimpulannya, sejauh ini Girly Air Force terasa seperti sebuah perjalanan udara yang meski secara keseluruhan cukup mulus, tetap ada guncangan turbulensi yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Memang hal ini cukup tipikal untuk sebuah anime yang diangkat dari novel ringan. Tetapi, serial ini tetap layak tonton apalagi bagi penggemar pesawat tempur yang ingin melihat adegan-adegan dogfight seru, tentu saja dengan bumbu gadis-gadis cantik yang menjadi pilot pesawatnya.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.