Ulasan Film: Attack On Titan Part 2 – End Of The World

0

AOT2-poster_70x100

Terror raksasa yang mengancam kehidupan manusia serta memangsa manusia berlanjut. Setelah film pertamanya, kali ini para Titan kembali dalam film live-action Attack on Titan Part 2: End of The World yang akan segera hadir di tanah air. Film live-action dari seri yang sempat populer di tahun 2013 ini disutradarai oleh Shinji Higuchi, yang dikenal dengan karyanya, The Sinking of Japan, serta juga cukup dikenal sebagai salah satu founder studio animasi Gainax. Mengusung konsep sebagai film live action dengan efek khusus, Onoue Katsuro terlibat dalam film ini untuk menangani efek khusus dalam film ini.

Sinopsis

Film kedua ini dibuka dengan flashback masa kecil dari Eren Jaeger (diperankan oleh Haruma Miura), saat masih tinggal bersama dengan kedua orangtuanya. Saat kecil, Eren harus melihat kenyataan yang mengerikan saat rumahnya didatangi oleh pihak militer dari pemerintah yang bermaksud mencari hasil riset dari ayah dan ibunya yang merupakan seorang peneliti. Dalam penggeledahan tersebut, kedua orang tua Eren bermaksud untuk melindungi sang anak agar ia bisa menjalani hidup yang lebih baik dibanding orang tuanya.

Tersadar dari kenangan masa lalunya, Eren pun membuka matanya. Kini ia tersadar tengah dalam keadaan diborgol dan dikelilingi oleh pasukan pemerintah. Setelah pada akhir film pertamanya sempat berubah menjadi Titan, kini Eren pun dicurigai oleh pihak pemerintah. Ia diinterogasi karena dicurigai bahwa kekuatannya untuk berubah menjadi Titan dapat mengancam keberlangsungan hidup para manusia dibalik tembok. Di hadapan Eren, berdiri para rekan-rekannya dari pasukan pembasmi Titan yang berusaha keras meyakinkan pihak pemerintah bahwa Eren adalah manusia, bukan raksasa. Di tengah ketegangan antara pasukan Eren dengan pihak pemerintah tersebut, datanglah raksasa yang memiliki tubuh sekeras baja. Dengan seketika raksasa tersebut berhasil membunuh beberapa pasukan pemerintah serta pasukan pembasmi Titan. Mikasa dan yang lain pun terkejut begitu melihat Eren diambil oleh raksasa tersebut.

Advertisement Inline

Keadaan pun semakin kacau saat diketahui bahwa bahan peledak yang harusnya digunakan untuk membantu proses penyumbatan tembok yang rusak pun hilang dicuri oleh pasukan misterius. Hilangnya sosok Shikishima dari pasukan pembasmi Titan yang lain pun semakin menimbulkan pertanyaan. Harapan keberlangsungan hidup umat manusia pun bertaruh pada nasib Eren, serta kawan-kawannya yang mencari solusi untuk menutup kembali tembok yang rusak.

Titan Di Dunia Modern

Adaptasi live action Attack on Titan ini mengambil tema yang cukup berbeda dibanding seri komik dan animenya. Jika di komik dan animenya mengambil tema di dunia yang terlihat seperti abad pertengahan, maka di film ini mengambil kisah di dunia modern. Diambilnya tema yang sangat berbeda dari komik dan seri animenya ini mempengaruhi konflik dan jalan cerita di film keduanya ini.

Tema besar yang diangkat di film keduanya ini adalah mengenai bagaimana pasukan pembasmi Titan yang hanya tersisa Eren dan kawan-kawannya untuk berusaha menutup lubang yang ada di tembok luar. Di film pertama, akibat lubang tersebut, umat manusia di dalam tembok pun berhasil diporak porandakan oleh para raksasa yang merangsek masuk. Berlatarkan dunia modern, penggambaran teknologi termasuk tembok raksasa pun digambarkan dengan serba modern.

Tidak hanya itu, dalam usaha untuk menutup lubang di tembok, solusi yang diambil oleh pasukan Eren adalah untuk meledakkan bagian atas tembok agar puing-puingnya bisa menutup lubang dibawah. Cara yang digunakan untuk meledakkan bagian atas tembok tersebut adalah dengan menggunakan bom sisa perang yang gagal diaktifkan. Disini terlihat jelas bahwa pengambilan tema modern di film ini cukup mempengaruhi jalannya cerita di film ini.

Selain adanya bom, di film kedua ini juga ditampilkan berbagai persenjataan militer mulai dari senapan riffle hingga kendaraan lapis baja. Menariknya, meski memiliki persenjataan serba modern dan canggih ini, namun tetap saja senjata yang dapat membunuh titan hanyalah 3D Maneuver Gear dan pedang khas milik pasukan pembasmi titan. Keberadaan senjata modern ini hanyalah pelengkap karena senjata-senjata tersebut tidak bisa membunuh titan. Sehingga untuk aksi membunuh Titan, tetap akan dilakukan dengan adegan khas saling berayun-ayun lincah dengan 3D Maneuver Gear bertenagakan pegas.

Yang cukup mengejutkan lagi di film ini adalah, bukan adanya senjata militer canggih maupun kendaraan lapis baja, melainkan sebuah ruangan dengan teknologi super canggih yang sangat berbeda dengan dunia luar yang sudah porak poranda. Di ruangan berteknologi canggih inilah Eren diperlihatkan kebenaran akan alasan dibalik keberadaan para Titan di muka bumi.

Nuansa Post-Apocalyptic Yang Sangat Kental

Berbicara mengenai tema, jika di film pertama sangat terasa kesan horror dari serbuan para Titan yang merangsek masuk saat tembok dijebol, maka di film kedua ini tema yang tergambar dengan jelas adalah dunia post-apocalyptic. Akibat dari jebolnya tembok dan serbuan para Titan di film pertama, kini dunia di dalam tembok sudah hancur lebur dan porak poranda. Selama menyaksikan film kedua ini, penonton akan disajikan suasana dunia yang sudah hampir tak berpenghuni. Kesan post-apocalyptic semakin terasa dengan hanya sedikitnya manusia yang mampu bertahan hidup di film ini. Meski demikian kesan horror dan mencekam masih juga terasa di film keduanya ini.

Aksi di film kedua ini juga memiliki perbedaan yang cukup jelas dibanding film pertamanya. Jika di film pertama penonton akan terfokus pada upaya pasukan manusia yang bertarung mati-matian melawan para raksasa yang tanpa ampun menggilas dan memakan manusia, di film kedua ini fokus aksi beralih pada sosok manusia yang dapat berubah menjadi raksasa. Alih-alih menampilkan Eren yang berayun-ayun untuk membasmi Titan, di film kedua ini Eren cukup menggunakan kekuatannya untuk berubah bagaikan Ultraman dan bertarung melawan raksasa lainnya. Ya, menonton para manusia yang dapat berubah menjadi raksasa ini mengingatkan akan seri Ultraman. Ada sosok manusia raksasa, yang bertarung melawan monster raksasa ditengah bangunan-bangunan tinggi.

Intens nya pertarungan di film kedua ini tidak lagi hanya pada persoalan manusia yang harus membunuh Titan, tapi juga pada perlawanan terhadap manusia lain yang dapat berubah menjadi Titan. Alhasil, Eren harus berubah menjadi Titan untuk melawan ancaman dari manusia lain yang juga dapat berubah menjadi Titan.

Efek Khusus Memukau

Dalam adegan aksi ini, memang film live-action Attack on Titan menampilkan efek khusus yang memukau. Meski memang belum sampai bisa menyamai efek khusus sekelas film Hollywood, namun sebagai film Jepang efek khusus di film ini tampil memuaskan. Terutama saat adegan manusia berubah menjadi Titan, jika di anime saat-saat Eren berubah menjadi Titan tidak ditampilkan secara mendetail, di film ini penonton akan melihat detik-detik manusia yang berubah menjadi Titan yang terlihat bagaikan manusia perlahan mengenakan armor berukuran super besar.

Tidak hanya itu, di film ini juga diperlihatkan para manusia yang berubah menjadi Titan sebenarnya berada dalam tubuh Titan bagaikan pilot robot raksasa di dalam kokpit. Lagi, efek spesial yang digunakan untuk menggambarkan adegan ini sangatlah memukau dan menjadi satu nilai tambah dari film ini.

Tidak Ada Yang Abadi Di Dunia, Selain Kepentingan

Alur konflik di film kedua ini sangat berbeda dengan film pertamanya, karena tidak hanya membicarakan pada upaya manusia melawan Titan, namun lebih pada konflik kepentingan yang ada diantara para manusia yang berhasil bertahan hidup dari serangan di film pertama. Shikishima, yang di film pertama merupakan pemimpin dari pasukan pembasmi Titan ternyata memiliki faksi tersendiri di film kedua ini yang bertujuan untuk melawan rezim pemerintah.

Di sisi lain, rezim pemerintah juga memiliki kepentingan sendiri demi terwujudnya dunia yang lebih teratur ditengah kondisi porak poranda. Di tengah berbagai konflik kepentingan itu terdapat pasukan Eren dan kawan-kawannya yang memiliki pemikiran sendiri untuk solusi atas serangan raksasa tersebut. Film ini seakan-akan kembali mengingatkan bahwa sejatinya tidak ada yang abadi dan absolut selain kepentingan. Konflik kepentingan akan menjadi bumbu yang terasa jelas di film ini.

Penceritaan Yang Kurang

Hadir dengan tema yang berbeda, dan efek khusus yang memukau, tak lantas menjadikan film ini sangat sempurna. Hal yang sangat dirasa kurang dari film ini adalah penceritaan yang memang pada dasarnya kurang. Cerita yang ada sangatlah sederhana, tidak terlalu dieksplor lebih dalam. Justru cerita di film ini kalah porsi dari adegan adu jotos para raksasa dan ledakan yang meletup-letup.

Jika di komik dan seri animenya para pasukan pembasmi Titan memutuskan untuk mencari hidup di luar tembok, namun di film kedua ini cerita hanya dibawakan sebatas pada bagaimana tembok harus dipugar kembali. Sehingga cerita benar-benar hanya berfokus pada para manusia yang bertahan hidup (yang notabene hanya sedikit) di dalam tembok. Penelitian profesor Jaeger yang sempat disebut diawal film malah justru tidak disentuh sama sekali di film ini.

Cerita di film kedua ini jadinya hanyalah cerita klise karena kalah porsi dari adegan aksi yang ada. Sedikitnya porsi cerita di film ini semakin didukung dengan sisa manusia yang hidup sehingga tidak ada banyak cerita yang diceritakan selain bagaimana upaya untuk bertahan hidup saja.

Kesimpulan

Adaptasi live-action dari seri komik Attack on Titan karangan Hajime Isayama memang benar-benar menampilkan sebuah adaptasi. Tidak hanya membawa kisah dan para karakter yang ada di media komik dan animasi menuju film live-action layar lebar, film ini juga membawa sebuah orisinalitas tersendiri dengan setting dunia yang sangatlah berbeda dibanding komik dan anime nya. Bagi yang tidak suka dengan perbedaan setting dunia ini memang akan menjadi satu ganjalan tersendiri saat menontonnya, namun bagi yang justru ingin melihat “apa jadinya jika serangan Titan terjadi di masa depan?”, maka inilah jawaban bagi anda.

Mengambil setting dunia di masa depan untuk serangan Titan memang sedikit absurd pada awalnya, tapi karena berlatarkan dunia masa depan, film ini justru menyajikan cerita yang berbeda terutama dalam bagaimana cara melawan ancaman para raksasa. Melibatkan persenjataan dan teknologi canggih, umat manusia alih-alih memiliki kemudahan untuk melawan para raksasa, justru menghadapi konflik baru karena perebutan persenjataan dari berbagai pihak demi kepentingan masing-masing. Kepentingan menjadi kunci dalam konflik yang ada di film kedua ini.

Meski hadir dengan efek spesial yang tampil memukau, namun penceritaan di film kedua ini tidaklah terlalu menonjol. Alih-alih berfokus pada cerita, film ini lebih memilih menampilkan adu jotos raksasa tapi manusia serta berbagai macam ledakan dimana-mana. Namun bahkan sepertinya cerita di film keduanya ini tidaklah terlalu signifikan di seisi film. Jika dibandingkan dengan film pertamanya, memang di film kedua ini lebih terfokus pada adegan aksi dengan efek khusus yang tampil maksimal.

Bagi anda yang sudah terlanjur menonton film pertamanya, maupun anda para pecinta Eren yang dapat berubah menjadi raksasa, film kedua ini tidak ada salahnya untuk ditonton. Efek khusus di film ini setidaknya cukup dapat memanjakan mata. Atau bagi anda yang sekedar ingin melihat Eren bermesraan dengan Shikishima, maka film kedua ini cocok bagi anda. Kapan lagi melihat ada siswi SMA yang saat belanja di super market lalu tiba-tiba berubah menjadi Titan?

Meski mengusung judul End of The World, namun di akhir film, penonton akan dibuat bertanya-tanya apakah benar ini akhir dari film live action Attack on Titan atau bukan. Maka dari itu sangat diharapkan bagi anda yang hendak menonton film ini, tontonlah sampai akhir credit title karena ada kejutan yang menanti disana, meskipun ini bukanlah film Marvel Cinematic Universe.

KAORI Newsline | Diulas oleh Rafly Nugroho

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.