Ulasan Anime: Love Live! The School Idol Movie

1

love live“Sebenarnya untuk apa aku terus bernyanyi? Untuk tujuan apa lagu tersebut kunyanyikan?”

Lama dinanti, akhirnya film layar lebar dari seri anime Love Live! yang berjudul Love Live! The School Idol Movie akan segera hadir menyapa para penggemar seri ini di Indonesia. Sempat menorehkan beberapa prestasi sebagai film box office di Jepang, kini para anggota grup idola µ’s (dibaca: myus) akan segera hadir membawakan kemeriahan School Idol di Indonesia.

Film ini diproduksi oleh studio animasi Sunrise dengan Takahiko Kyogoku sebagai sutradaranya. Yuhei Murota membuat desain karakter di film ini dengan Sakurako Kimino sebagai konseptor original dan Hajime Yatate sebagai kreator original. Pengisi suara di film ini masih tetap menggunakan para seiyuu (pengisi suara) yang terlibat dari awal yakni Emi Nitta sebagai Honoka Kousaka, Aya Uchida sebagai Kotori Minami, Suzuko Mimori sebagai Umi Sonoda, Aina Kusuda sebagai Nozomi Tojo, Pile sebagai Maki, Riho Iida sebagai Rin Hoshizora, Sora Tokui sebagai Nico Yazawa, Yoshino Nanjo sebagai Eri Ayase, dan Yurika Kubo sebagai Hanayo Koizumi.

Cerita di film ini melanjutkan apa yang terjadi di akhir musim kedua dari seri anime Love Live! School Idol Project. Pada musim keduanya, grup idola µ’s dari SMA Otonokizaka berhasil memenangkan kontes Love Live! School Idol Project setelah gagal di kompetisi sebelumnya. Meski telah berhasil menorehkan juara, namun grup idola u’s justru menghadapi permasalahan karena para anggotanya yang duduk di kelas 3 SMA, yakni Nico Yazawa, Eli Ayase, serta Nozomi Tojo akan lulus dari sekolah dan tidak bisa lagi menjadi School Idol. Oleh karena itu, diputuskan bahwa µ’s akan bubar saat para anggota kelas 3 sudah lulus dari SMA Otonokizaka.

Masih memiliki waktu 1 bulan sebelum benar-benar lulus, para anggota grup idola u’s mendapati kabar bahwa mereka diundang untuk kembali terlibat dalam proyek Love Live! Berikutnya. Sebagai grup yang telah memenangkan kompetisi Love Live! µ’s diundang mewakili kompetisi tersebut untuk hadir ke Amerika Serikat untuk mengadakan sebuah pertunjukan khusus dari salah satu stasiun TV disana. Meskipun sudah berkomitmen untuk bubar, namun para anggota µ’s menetapkan tekad untuk berangkat ke negeri paman sam, bukan sekedar untuk tampil sebagai µ’s, melainkan untuk menunjukkan pada dunia betapa menakjubkannya sebuah school idol.

Simak trailer film ini:

Mengambil kisah plesiran ke Amerika Serikat, film animasi ini cukup mampu membawakan suasana Amerika dalam anime Love Live! Di film ini berbagai tempat ikonik di kota New York digambarkan dengan cukup baik. Mengemas cerita para anggota µ’s yang piknik ke luar negeri, cerita pun cukup mengundang gelak tawa saat para anggota grup idola tersebut mengalami gegar budaya di negeri orang.

Para idola µ’s yang mengalami gegar budaya ini menjadi satu muatan komedi tersendiri saat mereka berada di Amerika. Mulai dari kesulitan untuk berbahasa Inggris yang menyebabkan Umi nyasar di negeri orang, hingga Hanayo yang ngambek karena sulit menemukan nasi di Amerika. Komedi semakin terasa saat sifat unik para karakter anggota grup idola tersebut harus berhadapan dengan situasi gegar budaya yang dialami.

Selain mengangkat soal gegar budaya yang dialami para anggota µ’s di Amerika, pemilihan negara Amerika yang merupakan pusat dari dunia Entertainment juga menjadi latar yang pas untuk film Love Live yang memang mengisahkan para murid SMA yang terjun ke dunia Entertainment sebagai para school idol. Meski u’s piknik ke Amerika untuk melakukan sebuah pertunjukan khusus, namun disana para anggota u’s juga sedikit belajar bagaimana menjalani hidup sebagai entertainer. Terutama sang pemimpun µ’s, Honoka Kousaka yang berusaha mencari jawaban akan kelanjutan µ’s saat tengah berkeliling di Amerika.

Sempat disebut-sebut sebagai kisah Love Live yang berlatarkan negeri paman sam, namun nyatanya film ini tidak hanya mengisahkan perjalanan µ’s di Amerika saja. Sekembalinya ke Jepang grup idola µ’s pun dihadapkan masalah baru, ketenaran yang sudah semakin meningkat namun disisi lain mereka harus menghadapi kenyataan untuk membubarkan grup tersebut atas komitmen yang telah dibangung dan disepakati bersama.

Di film ini, meski menampilkan para anggota grup idola µ’s yang menjadi fokus utama dari film ini, namun ada juga karakter lain yang cukup berpengaruh di film ini. Salah satunya adalah duet Alisa dan Akiho, adik dari Eli dan Honoka. Jika di akhir musim kedua mereka berdua diterima di SMA Otonokizaka dan memutuskan untuk menjadi School Idol, di film inilah kelanjutan tekad mereka berdua ditampilkan. Tidak luput pula grup idola A-RISE dari sekolah UTX juga hadir di film ini. Selain itu, Mama Live juga sempat mendapat porsi di film ini.

Sebagai sebuah anime yang memiliki tema musik, film ini cukup berhasil menampilkan kesan sebagai sebuah film musikal. Saat para karakter tengah menghadapi suatu permasalahan, dialog-dialog yang diucapkan mengarah pada lagu yang akan segera dinyanyikan. Layaknya film-film musikal yang ada, para karakter langsung menari dan bernyanyi saat mereka tengah berada dalam sebuah dialog. Hal ini akan mengingatkan penonton sejenak dengan berbagai film-film musikal lainnya.

Aksi musikal di film ini juga tampil dengan menarik, baik secara lagu maupun koreografi tarian. Saat para anggota µ’s tampil mendendangkan berbagai lagu, adegan yang ditampilkan cukup memukau. Penuh dengan keceriaan dan warna-warni yang seirama dengan alunan lagu yang diputar. Dalam berbagai adegan menyanyi, para karakter idola ditampilkan menari dalam balutan 3D yang berhasil membuat gerakan koreografi para idola terlihat cukup luwes.

Menariknya, dalam beberapa bagian terlihat adegan yang menggabungkan antara animasi 3D serta 2D saat para karakter ini tengah berlenggak-lenggok menari sambil bernyanyi. Selain pergerakan animasi para karakter, pergerakan kamera yang cukup dinamis juga semakin menambah warna dalam adegan musikal yang ada.

Sebagai sebuah anime musik, selain aksi musikal yang dihadirkan para karakter school idol di film ini, musik latar juga cukup berperan penting di film ini. Sejak awal mula film dimulai, penonton akan disajikan dengan musik latar yang mampu membangun suasana yang sesuai dengan adegan yang ada. Suasana semangat, tegang, dan melodrama yang ada di film ini tergambar juga dalam musik latar yang tidak kalah menggugah hati.

Berbicara mengenai animasi, secara visual film ini tampil cukup menarik. Masing-masing karakter anggota grup idola µ’s yang memiliki sifat-sifat uniknya tersendiri mampu membawa warna-warni yang khas. Secara visual film ini tampil penuh warna yang menggambarkan semarak kebersamaan yang ada. Mengambil latar di kota yang dijuluki sebagai pusat dunia, New York, film ini mampu menghadirkan nuansa New York dengan baik.

Mulai dari latar belakang berbagai bangunan-bangunan beton tinggi pencakar langit yang memadati kota yang digambar dengan cukup detail, hingga padatnya kota New York yang digambarkan dengan keramaian kota yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang. Saat tengah berada di New York banyak adegan yang menampilkan animasi belasan bahkan puluhan orang yang saling berlalu lalang di jalanan kota yang mengiringi perjalanan anggota µ’s disana.

Penggambaran latar yang ada di film ini mampu membawa penonton pergi ke tempat yang sedang ditayangkan. Selain segala kemegahan dan padatnya kota New York, di film ini juga penonton akan diajak menyusuri semaraknya nuansa jalanan Akihabara yang penuh warna.

Satu yang cukup menarik di film ini adalah bagaimana teknik pengambilan perspektif gambar yang ditampilkan. Selain sudut pandang yang ditampilkan cukup dinamis, di film ini juga ada beberapa adegan yang menampilkan sudut pandang memutar dan makin menambah kesan dinamis.

Meskipun sebagai sebuah film musikal berbagai adegan menyanyi ala idola dan musik latar yang tampil cukup memukau, namun sebagai sebuah film, Love Live! The School Idol Movie ini cukup kurang dalam hal penceritaan. Bisa dikatakan seisi film cerita yang disajikan cukup datar, mudah ditebak, biasa, dan kurang terlalu menarik. Tidak terlalu banyak yang menarik dari cerita di film ini.

Premis utama yang menjadi ide besar dari film ini adalah mengenai bagaimana nasib grup idola u’s sepeninggal para senior kelas 3 yang sudah lulus dari sekolah. Dalam musim kedua seri animenya, telah disebut bahwa u’s akan bubar. Dilema Honoka dan para anggota µ’s yang lainnya terkait kesepakatan ini menjadi premis utama di film ini. Namun meski demikian, premis ini kurang bisa dieksplor dengan baik. Suasana melodrama yang dihadirkan dari kisah ini kurang terlalu terasa.

Selain nuansa melodrama yang kurang terasa, jalannya cerita juga cukup biasa dan kurang bisa menampilkan sesuatu yang wah. Cerita berjalan apa adanya begitu saja.

Cerita semakin terasa datar karena secara keseluruhan cerita di film ini sedikit kurang fokus. Banyak unsur cerita yang tampil di film ini namun kurang bisa terjalin dengan baik sehingga cerita terkadang terasa cukup terpotong-potong. Di satu sisi film ini mengisahkan kelanjutan grup µ’s, disisi lain film ini juga mengisahkan mengenai kelanjutan dari kontes Love Live!.

Sama seperti seri animenya, satu ciri khas dari seri anime Love Live! adalah perkembangan karakter para anggota idola µ’s yang unik satu sama lain. Namun meski demikian perkembangan karakter di film ini bisa dibilang tidak ada yang terlalu baru, masih sama seperti dua musim seri animenya. Satu karakter yang perkembangan nya cukup mendapat porsi di film ini adalah Honoka Kousaka. Sebagai pemimpin dari grup idola ini seisi film Kousaka memikirkan mengenai langkah apa yang harus ia ambil terkait kelanjutan µ’s.

Sebagai sebuah keseluruhan grup, perkembangan grup idola µ’s di film ini bisa dibilang sangat biasa dan cenderung adem ayem saja. Setelah memenangkan kontes Love Live!, secara tiba-tiba saja kepopuleran µ’s meroket, begitupun saat sepulang dari Amerika, kepopuleran µ’s langsung meroket begitu saja. Satu yang kurang dari seri Love Live! sebagai sebuah anime yang menampilkan tema idola adalah mengenai perkembangan grup nya yang cenderung terasa sangat biasa, dari tidak terkenal lalu tiba-tiba menjadi terkenal, dinamika di dalam grupnya kurang terlalu di ekspos. Sepertinya terlalu berlebihan sekali hanya dengan tampil di jalanan Amerika lalu tiba-tiba kepopuleran µ’s meroket tinggi hingga Honoka dan kawan-kawan serasa menjadi superstar dan seakan tidak ada hambatan. Bagian inilah yang membuat cerita di film ini mudah ditebak, karena kurangnya dinamika yang ada di dalam grup µ’s itu sendiri. Proses bagaimana mereka bisa tenar, itu yang kurang dieksplor.

Kesimpulan

Lama dinanti akhirnya film Love Live! Yang sempat menjadi box office di Jepang dengan single lagu di film ini yang juga pernah bertengger di berbagai tangga lagu musik dunia akhirnya hadir di Indonesia. Sebagai sebuah film musikal memang Love Live! The School Idol Movie tampil menarik dengan adegan menyanyinya yang cukup kolosal dan musik latar yang dapat membangun suasana. Koreografi gerakan para karakter, dan nuansa dinamis serta penuh warna saat adegan menyanyi merupakan satu keunggulan dari film ini.

Namun dari segi cerita, film ini tidak menampilkan sesuatu yang wah. Jalannya cerita terlalu datar dan biasa saja, memiliki potensi yang kuat namun sepertinya cerita di film ini kurang mampu dieksplor dengan baik. Bahkan tema mengenai pembubaran grup idola µ’s yang berpotensi membuat kisah drama yang kuat tapi kurang bisa menghasilkan impact di film ini.

Meski demikian, para penggemar Love Live! cukup bangga karena akhirnya film yang sudah dinanti-nanti kini tayang di bioskop Indonesia. Setelah konser live nya disiarkan langsung di Jakarta, kini giliran film nya tayang secara resmi di berbagai bioskop. Film ini cocok bagi anda yang memang penggemar Love Live! maupun anda yang sekedar mencari tontonan animasi musikal, Love Live! The School Idol Movie cocok untuk anda.

Saksikan film ini mulai 21 Oktober 2015 di CGV Blitz, Cinemaxx, dan Platinum Cineplex.

KAORI Newsline | Diulas oleh Rafly Nugroho

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.