Ilustrasi: Aktivitas transaksi di booth Re:ON dalam event Creators Super Fest (Julkifri Ahmad)

Pasca event Creators Super Fest 2017 pada tanggal 6-7 Mei 2017 dan juga Ennichisai Blok M yang diadakan pada tanggal 13-14 Mei 2017 silam, belum berarti event pop culture berakhir sama sekali, sebab dari tanggal 5 hingga 21 Mei 2017 masih ada Anime Matsuri di AEON Mall, BSD yang diadakan oleh event organizer (EO) Indonesia Comic Con.

Diadakannya event pop culture dalam waktu yang berdekatan bisa menjadi kabar gembira bagi para penggemar atau fanatik pop culture namun bisa juga menjadi kabar yang cukup menjengkelkan, terutama bagi orang yang budgetnya terbatas, sebab akan terus kepikiran. Kalau tidak datang akan merasa menyesal lantaran berpikiran belum tentu ada event seperti ini lagi, datang pun dalam kondisi budget yang benar-benar seadanya. Budget terbatas dalam arti untuk hari-H event budget tersebut hanya mampu membeli tiket serta ongkos transportasi dan makan, sedangkan untuk belanja barang di event sangat terbatas. Kalaupun tidak ada tiket masuk, tetap saja kalian akan butuh uang seperti transportasi dan makan ditambah adanya hasrat ingin membeli barang dalam event. Terlebih di Anime Matsuri, pihaknya menawarkan tiket ICC seharga Rp. 70.000,- khusus event berlangsung. Lain halnya dengan orang yang tidak punya budget sama sekali, baik karena niat maupun keadaan.

Jangan khawatir, penulis akan memberikan tips untuk menyiasatinya dan penulis juga sering mengalami hal seperti itu. Berikut tips efisiensi yang dibuat berdasarkan pengalaman penulis ketika ke event Creators Super Fest (CSF) 2017.

Advertisement Inline

1. MENJADI DIRI SENDIRI

Ini sangat penting, terutama ketika kalian berada di tengah kalangan penggemar atau bahkan fanatik, sebab biasanya event pop culture berkutat pada fanatisme yang fanatiknya seringkali melakukan show-off (pamer). Tidak perlu merasa gengsi di hadapan mereka dan juga jangan terlalu memaksakan diri seperti mereka yang mungkin punya banyak uang untuk memuaskan hasrat penggemar atau fanatismenya di event. Jangan mau di atur begitu saja dan jadilah diri sendiri. Kalianlah yang lebih tahu detailnya karena kalian yang menjalani. Tentunya buat kalian yang sama sekali tidak berada di tengah kalangan tersebut, relatif tidak masalah, seperti penulis yang datang ke event sendirian.

2. RISET LEBIH DALAM

Biar bagaimana pun juga, riset sangatlah penting dalam menunjang efisiensi, seperti rundown untuk melihat acara-acara yang menarik di masing-masing hari, atau tenant-tenant yang tergabung dalam event. Termasuk juga riset mengenai tarif parkir+tol atau akses transportasi umum massal untuk efisiensi ongkos transportasi seperti rute bis Transjakarta dan juga destinasi terdekat dari rute bis Transjakarta supaya ongkos taksi atau transportasi online-nya lebih murah. Dalam kondisi seperti ini, penulis menyarankan untuk memilih satu dari dua hari event digelar untuk efisiensi maksimal.

Penulis memutuskan untuk datang hari Minggu sebab dari rundown isinya sudah menarik dan juga lebih lengang. Hal tersebut dilakukan agar ongkos transportasi lebih efisien serta agar tidak terlalu berdesakan di dalam venue. Untuk ke event, penulis menggunakan taksi online supaya lebih cepat namun tetap efisien karena datangnya agak siangan. Untungnya masih terjangkau dengan berjalan kaki untuk menuju bus Transjakarta sehingga ongkos transportasi ketika pulang bisa lebih efisien, jadi penulis hanya perlu naik taksi online dari halte Transjakarta terdekat ke rumah.

3. MEMBAWA KAMERA

Membawa kamera selain berguna untuk sebuah pekerjaan seperti yang penulis lakukan sebagai nilai tambah, juga sebagai alternatif dari apa yang bisa dibawa pulang dari event terutama jika tidak membeli apa-apa. Untuk yang bekerja dibidang pop culture, membawa kamera bisa menunjang untuk mencari inspirasi karena begitu banyak hal-hal yang inspiratif dan bisa didokumentasikan, seperti booth-booth artist alley atau tenant yang bisa kalian amati kerjanya dari hasil dokumentasi.

Untuk yang tidak bekerja di bidang itu, setidaknya hanya sebagai memori atau bahan postingan akun media sosial kalian bahwa pernah berkunjung ke event tersebut, seperti ketika menonton acara dalam event. Kameranya tidak perlu yang secanggih DSLR, kamera dari HP kalian saja sudah cukup. Kalau penulis sendiri membawa DSLR memang karena pekerjaan dan juga untuk mengoptimalkan ilmu yang didapat ketika kuliah desain yaitu fotografi dengan kamera DSLR.

4. EFISIENSI KEBUTUHAN PRIMER

Setidaknya ada beberapa cara untuk menyiasati mahalnya makan di dalam venue. Pertama bawa bekal dari rumah jika berangkatnya sebelum jam makan siang, kedua makan siang di rumah sebelum berangkat ke venue jika berangkatnya sekitar jam makan siang, ketiga makan di luar venue namun gelang tanda masuknya jangan dilepas supaya kalian bisa masuk ke venue kembali, dan yang keempat sebaiknya makan malam diluar venue. Seringkali penulis berangkat ke event sekitar jam makan siang supaya bisa makan siang terlebih dahulu sebelum berangkat sehingga tidak perlu keluar uang untuk makan siang di venue.

5. MENGOPTIMALKAN FITUR

Untuk kalian yang ke event menggunakan transportasi umum massal. berhubung bebas biaya parkir, sebaiknya kalian optimalkan saja semua yang ada di dalam event, seperti mengoptimalkan fiturnya. Itulah sebabnya di poin pertama penulis menyarankan untuk cek rundown-nya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berangkat supaya tidak terasa garing selama berada di dalam venue dan tentunya membuat kalian betah berlama-lama di dalamnya. Selain fitur yang ada di panggung seperti performance, fitur yang ada di booth juga sebaiknya dioptimalkan.

6. LEBIH BIJAK MEMBELI BARANG

Harus diakui bahwa seringkali barang-barang yang dijual dalam event banyak yang menggoda untuk dibeli. Menggodanya itu tidak hanya karena banyaknya barang yang menarik serta metode transaksi yang lebih nyaman dan terintegrasi, tetapi juga menjadi sesuatu yang “kapan lagi” dalam arti event berikutnya belum tentu jual barang yang sama. Apalagi pihak tenant sudah menawarkan barang dagangan yang dijual khusus event. Budget terbatas berarti harus lebih bijak lagi apabila kalian berminat untuk membeli barang dan bisa jadi ini membuat rasa kebingungan dalam memilih barang. Jangan sampai tidak bisa pulang atau tidak makan berhari-hari gara-gara uang habis dipakai untuk membeli barang.

Jujur saja penulis sendiri sempat kebingungan barang apa yang sebaiknya dibeli di CSF lantaran uang yang tersedia sekitar Rp. 100.000,-. Namun penulis mendekatkan pada aspek fungsi dari sebuah produk yang hendak dibeli supaya barang yang dibeli akan terasa menguntungkan. Penulis membeli komik re:ON Vol. 26 (vol. terbaru) karena fungsinya jelas, yaitu untuk dibaca, dan penulis merupakan penggemar re:ON comics.

(Julkifri Ahmad)

Dalam jangka pendek, penulis bisa membaca komik yang baru dibelinya di bis Transjakarta sambil menunggu bisnya tiba di tujuan. Selain itu penulis juga membeli gelang Reonites yang fungsinya untuk dipakai berpenampilan. Cepat atau lambat, kedua barang yang dibeli berpotensi menjadi penunjang dalam proyek kreatif penulis untuk re:ON comics.

Ditulis Oleh: Julfikri Ahmad Mursyid | Panelis “Mengontrol Fanatisme Pop Culture Jepang untuk Masyarakat Indonesia” pada event Road to KAORI Expo, konsultan kreatif.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca utk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan dikirim ke opini@kaorinusantara.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.