“Made in Abyss” Episode 7: The Unmovable Sovereign

0
© 2017 Akihito Tsukishi / Takeshobo / Kinema Citrus Production Committee

Awas: Ulasan ini mengandung spoiler

Episode Ini …

Riko akhirnya menemukan rahasia yang disembunyikan oleh Ozen, Kotak-Penangkal-Kutukan. Namun, itu bukanlah rahasia tentang Abyss, melainkan tentang Riko sendiri. Riko ternyata sudah mati dan bisa hidup kembali berkat kekuatan misterius Kotak-Penangkal-Kutukan. Karena itulah, masa hidupnya lebih pendek dari kebanyakan orang. Teror Ozen berlanjut ketika ia menyerang Reg.

Tersembunyi di Balik Klise

© 2017 Akihito Tsukishi / Takeshobo / Kinema Citrus Production Committee

Episode tujuh adalah jawaban dari cliffhanger yang ada di episode enam. Hasilnya adalah pembukaan klise untuk adegan latihan dengan nuansa yang sama klisenya. Tetapi, klise tidak menjadikan episode ini buruk. Bahkan, justru karena klise itulah Abyss kembali pada daya pikat sejatinya: cerita sederhana tentang perjalanan seorang pahlawan. Episode ketujuh adalah episode yang cukup bagus, walaupun tidak sebagus episode-episode awal serial ini. Jika ada satu hal yang menonjol di episode ini, penonton harus mau melihat hal yang tersembunyi dibalik cerita klisenya.

© 2017 Akihito Tsukishi / Takeshobo / Kinema Citrus Production Committee

Melihat Abyss kembali ke struktur cerita sederhana setelah hiruk-pikuk episode enam minggu lalu adalah hal yang bagus. Serial ini kembali fokus pada satu hal, di episode ini adalah Ozen. Dengan pola yang sudah familiar, penonton secara intuitif akan tahu bahwa Ozen bukanlah sosok yang menyeramkan dan menakutkan seperti yang digambarkan. Kenyataannya, dia adalah mentor bagi Riko dan Reg. Ozen bisa disebut tampil dengan pakem karakter mentor kejam yang memberikan latihan-latihan spartan dan berat, persis seperti Gardoa dari One Piece atau Master Korin dari Dragon Ball. Mungkin penggambaran Ozen terasa terlalu berlebihan dan tidak perlu. Membuat penonton mengantagoniskan Ozen bukanlah hal yang benar-benar bijak, apalagi Ozen merupakan kenalan dekat Lyza. Tidak mungkin ia akan mengancam nyawa Riko. Akan tetapi, di balik klise dan penggambaran yang berlebihan itu, ada satu hal yang membuat episode biasa-biasa saja ini menjadi lebih berarti

Advertisement Inline
© 2017 Akihito Tsukishi / Takeshobo / Kinema Citrus Production Committee

Bukan dengan klisenya, tetapi bagaimana klise itu digunakan untuk memperkaya sebuah cerita. Dalam sebuah cerita perjalanan hero, arc latihan menjadi titik tolak yang penting. Sebagaimana peran mentor dalam cerita semacam ini, peran Ozen adalah menguak (dengan kasar) kelemahan-kelemahan protagonis cerita, Riko dan Reg. Dalam hal itu, sikap Ozen yang dingin dan agak kejam sangat cocok untuk Reg dan Riko yang masih amatir dan naif. Setelah membeberkan apa yang terjadi pada Riko saat ia masih kecil, Ozen memperingatkan bahwa Riko tidak akan dapat menjelajahi Abyss karena umurnya yang pendek. Riko menjawab ia tidak mengharapkan umur panjang dan akan bahagia jika bisa menjelajahi Abyss sebisa mungkin. Ozen juga memberitahu Reg walaupun dia berhasil mengkontrol incinerator miliknya, ledakannya akan membuat Reg pingsan dan tidak mampu melindungi Riko. Reg tidak memiliki jawaban, namun ia memperoleh sedikit tekadnya ketika mengingat pesan Hobbo dan Nat untuk melindungi Riko.

Walaupun ada saat-saat penggambaran yang berlebihan mengurangi kesan penceritaannya, Made in Abyss minggu ini berhasil kembali pada fondasi awalnya. Daripada berfokus pada clifhanger yang berjibun, penceritaan episode ini kembali sederhana.

KAORI Newsline

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.