BAGIKAN
©Loka S. Ratimaya/Sworwaltz/Istori

Pertama kali saya mendengar kata lucid dream adalah dari sebuah majalah yang rutin saya dapatkan sewaktu SMA. Tidak banyak yang saya ingat saat membaca mengenai hal itu, selain bahwa dalam lucid dream seseorang bisa mengendalikan mimpi sesuai keinginannya, dan mitos bahwa memakan pisang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya lucid dream. Singkat kata, saya sendiri tidak begitu mempercayai hal itu, dan mengira bahwa orang yang menulis artikel tersebut adalah tipikal ilmuwan penggemar konspirasi.

Maka ketika saya mendengar ada novel yang menceritakan tentang lucid dream, prasangka saya langsung negatif dahulu. “Ini mungkin hanyalah satu dari sekian banyak novel sci-fi yang penuh dengan istilah-istilah sok ilmiah” atau “Pasti ceritanya terlalu intense sampai karakter-karakternya lupa untuk tertawa”, hal-hal seperti itu yang muncul di pikiran saya ketika mendengar novel ringan Lucid Temptation hendak dirilis. Belum lagi mengingat bahwa saya -dan seorang rekan di Kaori- pernah punya pengalaman buruk ketika mencoba membaca novel ringan lokal, baik itu versi cetak ataupun web.

Namun ketika saya membaca novel karangan Loka S. Ratimaya dan diilustrasikan oleh Swordwaltz ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda dari bisanya.

Sampul novel (©Loka S. Ratimaya/Sworwaltz/Istori)
Advertisement Inline

Di Oukanajima, penduduk-penduduknya mengalami fenomena aneh berupa lucid dream, di mana mereka mengalami mimpi yang dapat dikendalikan oleh pikiran mereka sendiri. Semua orang di pulau itu mengalami mimpi yang baik, kecuali Akabane Maaya. Gadis SMA ini malah sering melihat mimpi kehancuran Oukanajima. Hal itu sering membuat ia frustasi dan mengalami hari-hari yang buruk.

Suatu hari, seorang profesor asal Indonesia, Madre Ananta, pindah ke sekolahnya Akabane sebagai guru kelasnya. Guru baru ini rupa-rupanya mengetahui mengenai fenomena lucid dream yang dialami Akabane. Pertemuan antara Akabane dan Madre inilah yang akan mengantarkan mereka ke berbagai misteri dari fenomena mimpi sadar ini, termasuk adanya bahaya yang dapat mengancam keselamatan seluruh penduduk Oukanajima.

Akabane dan dua teman barunya (©Loka S. Ratimaya/Sworwaltz/Istori)

Karakter utama di novel ini, Akabane Maaya, memiliki gaya bicara yang menarik untuk diamati. Alih-alih menjadi karakter wanita yang sering ditemukan di khazanah pop kultur Jepang (sebut saja tsundere, Ojou-sama, dsb), ia malah memiliki sifat suka berbicara dengan sindiran. Monolog dari Akabane yang selalu memandang sesuatu dari sudut pandang negatif inilah yang menjadi daya tarik dari karakter ini. Gaya bicara sinisme miliknya mengingatkan saya dengan beberapa tokoh fiksi, sebut saja Kyon di The Melachonly of Haruhi Suzumiya, Oreki Houtaro pada Hyouka atau Frans Laarsman di Kaas, novel klasik asal Belanda.

Selain itu, interaksinya dengan Madre Ananta juga membuat cerita menjadi semakin hidup. Madre sangat suka menggoda Akabane dengan berbagai macam sindiran, dan sebaliknya Akabane sering dibuat kesal oleh sikap Madre. Saling balas-membalas sindiran ini yang justru menimbulkan chemistry antar kedua tokoh tersebut, meskipun di volume pertama ini, hal tersebut masih terlihat samar.

Selain tokoh, tema dari novel ini juga dibawakan dengan cukup baik. Tidak seperti The Irregular at Magic High School yang penuh dengan penjelasan rumit mengenai dunia sihir, konsep lucid dream di novel ini dijelaskan secara sederhana dan dalam porsi yang tidak terlalu banyak, sehingga tidak menyebabkan pembaca menjadi pusing sebagaimana yang sering dialami ketika membaca cerita-cerita fiksi ilmiah. Justru yang seharusnya bisa diperbanyak adalah penjelasan mengenai penggunaan senjata AGMV dan keberadaan Vragel sebagai monster di cerita ini. Penjelasannya memang sudah cukup jelas, hanya saja belum sampai dapat membangkitkan semangat pembaca terkait nuansa fiksi ilmiahnya.

Kombinasi antara fiksi ilmiah dan sinisme ini menghasilkan gaya cerita yang sedikit unik. Sinisme selalu memandang segala sesuatu dari sudut pandang negatif, dan konsep ini menganggap bahwa kebahagiaan tidak akan dapat diperoleh dari kekuatan, kekayaan, kesehatan, dan segala macam hal positif lainnya. Sebaliknya, fiksi ilmiah merupakan gaya yang menekankan pada rasa penasaran: bagaimana sesuatu yang tidak diketahui dapat menjadi diketahui dan bagaimana mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Novel ini menggabungkan dua konsep yang berlawanan menjadi sebuah cara untuk mengembangkan karakter Akabane: Ia yang awalnya selalu pesimis menjadi terbuka dengan hal-hal baru akibat rasa penasarannya terhadap fenomena lucid dream. Rasa sukanya terhadap Madre pun juga salah satu akibat dari hal ini.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah bagaimana penulis mampu menggambarkan suasana Jepang di novel ini. Percakapan dibuat mengalir apa adanya, namun nuansa pop kultur Jepang amat terasa, tanpa ada kesan “dipaksakan” sebagaimana yang pernah saya temui di beberapa novel. Adanya catatan kaki pada istilah-istilah berbahasa Jepang juga cukup membantu bagi pembaca yang masih awam dengan pop kultur Jepang. Semua hal tersebut seringkali membuat saya lupa kalau sedang membaca novel buatan orang Indonesia, bukan terjemahan dari sebuah novel Jepang.

Berlatih menggunakan AGMV (©Loka S. Ratimaya/Sworwaltz/Istori)

Ilustrasi yang digambar oleh Swordwaltz juga cukup membantu dalam memahami jalan cerita Lucid Temptation. Saya memang tidak bisa berkomentar banyak soal ilustrasinya, namun dari kacamata orang awam, penggambaran Akabane dan kawan-kawannya sudah cukup bagus untuk memikat hati para pembaca. Hanya saja, ada beberapa adegan yang menurut saya akan lebih bagus jika dibuatkan ilustrasinya, seperti gambaran rumah Madre atau pertarungan melawan Vragel di awal mula cerita, walau yang sudah ada sekarang sebenarnya cukup membuat saya puas.

Secara keseluruhan, Lucid Temptation adalah karya yang menarik untuk dibaca, setidaknya untuk anda yang memang gemar dengan gaya cerita novel ringan seperti ini. Ada beberapa hal yang sukses membuat saya penasaran untuk mengetahui rahasia di dalamnya, baik itu yang sudah terungkap di novel ini ataupun yang belum. Akan sangat bijak apabila saudara penulis berbaik hati untuk segera menyelesaikan volume keduanya. Sidang pembaca -termasuk juga saya- tentu amat menantikannya.

KAORI Newsline | oleh M Razif Dwi Kurniawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.