BAGIKAN

552175_393212947356055_732583313_n

Advertisement Inline

Industri Komik Indonesia dewasa ini tengah bergairah dengan hadirnya berbagai karya-karya baru yang segar dan secara tidak kalah kualitasnya dengan komik buatan asing. Adalah Skylar Comics sebuah Studio Komik yang ikut meramaikan blantika industri komik tanah air dengan karya utamanya berupa komik Superhero berjudul Volt. Pada ajang Jakarta Toys & Comic Fair 2014 yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu tim KAORI Newsline mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara dengan kreator Volt Marcelino Lefrandt.   Sosok yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di beberapa kalangan terutama mereka yang tumbuh besar pada era 2000an awal berkat perannya sebagai Papa Lala dalam Sinetron Bidadari yang pernah begitu digemari pada masanya. Kini artis serba bisa yang juga ikut main dalam film Street Society ini akan menuturkan cerita dan visi misinya dalam memproduksi sebuah komik buatan anak bangsa :

Bisa jelaskan lebih lanjut mengenai Skylar Comics dan apa saja karya-karyanya?

Skylar Comic ini telah merilis komik superhero Volt secara reguler dari jilid satu dan baru saja kita di bulan maret 2014 ini mencapai jilid keenam. Skylar Comic ini berdiri tanggal 1 maret 2012. Selain Volt, kita sudah pernah merilis Jawara (Jagoan Warga Negara Indonesia) Indonesia yang kita rilis dalam format Manga satu edisi dan juga salah satu anak perusahaan Skylar Comic yaitu Alleta Comic juga kita merilis buku bertema Princess yaitu 3 Putri Pelangi yang terbit 3 edisi langsung tamat dalam format cerita bergambar yang juga sudah beredar di toko buku.

Sebenarnya apa itu Volt dan siapa saja orang-orang yang terlibat di dalamnya dan apa latar belakang dari Volt ini muncul?

Volt ini sebenarnya adalah Superhero pertama yang kita ciptakan yang boleh dibilang multidimensi dan banyak sekali latar belakang mengapa Volt yang dipilih oleh kita karena kalau saya sendiri memiliki banyak pendapat kenapa Volt ini kita taruh sebagai lini pertama dari karya kita sejak berdirinya Skylar Comic. Pertama Volt ini lahir dengan nama Volt ini, kita tahu Volt adalah satuan ukur listrik yang berlaku secara internasional. Jadi which is artinya ke manapun kita akan pergi, ke negara manapun dengan bahasa dan budaya yang berbeda tapi satuan ukur listrik namanya akan sama yaitu Volt. Dan sesuai dengan namanya Volt berarti Superhero ini memiliki kekampuan yang berdasarkan pada listrik. Dan itu memang benar adanya di mana Volt memiliki kekuatan yang dapat memproyeksikan listrik dengan level yang bisa diatur. Dia bisa memanipulasi listrik, dia bisa menciptakan tameng berbentuk listrik sesuai dengan pikiran dan kebutuhannya. Dan mengapa Volt ini lahir? Dia sebenarnya adalah sebuah karya kreatif dan imajinasi serta fantasy dari seorang anak bernama Ruben. Dan Ruben ini adalah anak yang tanpa tidak sengaja bersunggingan dengan kekuatan Dewa yang turun ke bumi sejak 3500 tahun yang lalu. Tapi kekuatan Dewa itu akhirnya mati suri dan hanya bisa dibangkkitkan oleh orang yang berhati bersih dan berjiwa murni. Nah anak kecil bernama Ruben ini memiliki aspek-aspek yang bisa menstimulasi lahirnya kekuatan dewa ini. Cuma kekuatan Dewa ini, mengapa ia bisa terlahir kembali karena doa si Ruben yang detilnya bisa dibaca langsung di bukunya. Dan kenapa listrik? Karena Ruben ini adalah anak yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Dia tinggal di sebuah rumah kontrakan yang seringkali mengalami pemadaman listrik. Karena kondisi itulah maka terlintas dalam pikiran seorang anak kecil “seandaiannya ada superhero yang memiliki kekuatan listrik, rumahku pasti tidak akan mati lampu seperti ini.” Jadi dia menciptakan superhero dengan kekuatan listrik. Sederhana sekali. Jadi sebenarnya multidimensi yang saya maksudkan tadi maksudnya menunjukkan kepolosan seorang anak  kecil. Dia mungkin belum dewasa. Dia hanya memiliki imajinasi dan dengan imajinasi itulah dia bisa menciptakan sesuatu yang besar. Something greater. Yang itu bisa memberikan arti bagi umat manusia. Dan kedua, kalau dari sisi saya sebagai penciptanya kenapa saya memberi nama Volt ialah supaya nantinya kita negara Indonesia nantinya memiliki produk, nah ini sekarang berarti Volt adalah pruduk kita, produk Indonesia. Nah harapannya nantinya, semoga saja secepatnya, kita ini negara Indonesia bukan hanya sebagai penerima semua, apa namanya, ide, semua karya2 dari luar sana. Sudah saatnya nanti suatu saat, one day, karya anak-anak kitalah yang go international. Makanya saya namakan Volt agar nanti saat dia pergi keluar sana, mereka sudah tidak akan bertanya-tanya lagi. Tapi mereka melihat packaging Volt sebagai Superhero. Dan pada saat dia buka, dia melihat Indonesia.

283105_485125551498127_551812100_n

Salah Satu Cuplikan dari Komik Volt

Saya menangkap kesan rasanya membumi sekali di mana seorang anak kecil yang karena rumahnya sering mengalami pemadaman listrik akhirnya terobsesi membuat superhero berbasis listrik. Tapi di sisi lain terdapat kesan alasan menngapa dinamakan Volt adalah agar  suatu saat ketika dia berhasil go international, ke manapun dia berada orang-orang pasti menyebutnya Volt. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang ada rencana seperti itu? Di satu sisi membumi di sisi lain juga bisa mudah secara internasional.

Ya betul. Memang seperti itulah faktor pertimbangannya. Karena saya dengan tim berharap memang supaya kita punya Superhero yang bisa masuk ke semua segmen. Tidak terlalu muluk-muluk tetapi pasti. Tapi tidak juga meninggalkan esensi dasarnya yaitu komik itu adalah milik anak-anak. Makanya saya menaruh figur Ruben itu ada di sisi Volt. Jadi di balik kesederhanaan seorang anak kecil, terdapat sebuah kekuatan Dewa. Jadi seperti itu. Karena begini, anak kecil itu kan, dia punya mimpi. Dia belum tahu nantinya ketika dewasa dia akan menjadi apa sementara orang tuanya mencekoki macam-macam “kamu harus sekolah ini sekolah itu, kamu harus jadi Dokter, kamu harus jadi Pengacara” dan sejenisnya. Padahal anak kecil kan punya dunianya sendiri. Dan dunianya itu harus dia nikmati sesuai dengan berjalannya waktu dan usianya dia. Misalnya saja anak umur 5 tahun kan tidak akan besoknya tiba-tiba menjadi 10 tahun. Pasti ada fase-fasenya dari umur 6, 7, 8, 9, baru nyampe 10. Nah pada fase itu bagaimana ia menikmatinya? Makanya saya menggambar secara simbolik saja. Dan satu hal lagi bahwa ruben itu cacat kakinya. Jadi untuk bisa berjalan dia harus memakai tongkat. Jadi menunjukkan bahwa seorang anak kecil ini, kita bisa menjadi seperti ini. Walaupun kita memiliki banyak kekurangan tapi kita tetap harus memiliki mimpi, kita tidak boleh berhenti bermimpi karena kita suatu saat, kalau kita memiliki banyak passion, pasti mimpi itu bisa tercapai. Nah, anak kecil ini kan punya mimpi, “ah aku ingin punya superhero”, “ah pulang ke rumah aku ingin refreshing, gambar komik superhero”. Dan ternyata pada saatnya tiba, impiannya itu menjadi kenyataan, menjadi hidup. Itukan mimpi anak-anak juga. Bayangkan kalau suatu saat muncul Superhero dan menjadi teman, tiap hari ke mana-mana ngobrol sama dia, lalu sometimes, saving the world. Itu kan rasanya WOW, suatu hal yang luar biasa untuk anak-anak. Makanya saya kembali ke basic di mana saya tidak mau membuat komik yang langsung menjadi konsumsi orang dewasa. Karena kalau saya melakukan itu berarti saya egois. Saya menciptakan komik Superhero kok ngapain buat saya? Kita melupakan esensi bahwa komik itu milik anak-anak. Karena saya ingat ketika kecil saya pernah memiliki figur Superhero favorit yaitu Superman. Tapi saya juga punya superhero lokal yaitu Gundala. Nah anak-anak Indonesia sekarang punya Iron man, punya Avengers, punya Hulk, punya Bat Man, dan sebagainya. Lokal mana? Nah pada saat disodorin orang tuanya “kamu punya superhero lokal Gatotkaca!” anak kecilnya baca komik Wayang, belum tentu suka dia. Apalagi nonton Wayang semalam suntuk. Jadi kamu kasih Wayang “mentah” ke anak-anak zaman sekarang, belum tentu suka dia. Bisa-bisa malah tidur dia. Dia akan bilang “ah itu Wayang bukan Superhero.” Tapi kalau kita bikin komik, ada Gatotkacanya tapi kita buat bentuknya seperti Superhero yang lebih modern kan pasti anak-anak akan lebih mau mengetahui budaya tentang Wayang. Dan apalagi nantinya saya ke depannya punya obsesi adalah saya ingin membuat 33 Superhero mewakili 33 propinsi. Jadinya nantinya kan anak-anak akan menyenangi, bisa memilih, dan mempelajari seperti “ah ini dari mana?” “ini dari Jawa Tengah.” “nah kenapa superhero dari Jawa Tengah ini memiliki kekuatan super?” oh ya karena ada cerita rakyatnya yang akan saya gali misalnya. Ternyata dia tiba-tiba memiliki extraordinary delusi. Tapi saya mengambil esensinya misalnya dari cerita rakyat Jawa Tengah. Anak-anak akan belajar misalnya Sangkuriang mungin, atau based on kisah Mahabharata atau apa ya kan? Atau nanti ke daerah Papua, ada legenda burung Cendrawasih, atau Kalimantan dan sebagainya. Anak-anak akan senang baca komik, senang Superhero, tapi mereka juga belajar budaya bangsa Indonesia.

IMG04818-20140315-1704

Bersama Ilustrator Aswin Siregar (tengah) & Volt

Siapa saja tim-tim di balik Volt selain anda sebagai kreator?

Di antaranya ada bos saya, teman saya namanya Sardjono Sutrisno. Kenapa saya bilang teman karena usianya masih sepantaran dengan kita juga. Dan dia sebagai Executive Producer dan President Director juga. Dan dia juga senang baca komik, senang nonton film juga, senang musik juga. Dan ada juga satu lagi ilustrator kita, dia boleh dibilang juga sebagai orang yang memvisualisasikan imajinasi saya. Namanya Aswin Mc Siregar. Dia expert dalam hal menggambar. Jadi setiap ide apapun yang terlintas di kepala saya saya ceritakan ke dia. Baru begitu dia terima, semua ide itu dia tuangkan di atas kertas. Mostly yang menjalani roda itu dari atas kita bertiga.

IMG04816-20140315-1655

Ilustrator Volt Aswin Siregar

Lalu apa alasan membuat komik dengan format Full Colour?

Jadi begini, saya dulu kecil kan baca komik lebih senang yang interiornya berwarna. Jadi biasanya anak-anak senang dengan yang berwarna. Apalagi ini kan Superhero Indonesia baru yang bisa dibilang saya hampir tidak memiliki role model. Ada tapi itu dulu sekali tahun 1980an dan itupun mereka hitam putih. Nah kita tidak mau menerapkan itu langsung mengikuti misalnya langsung Manga. Jadi kita langsung bikin yang berwarna. Jadi kita langsung main warna biar eye catching buat anak-anak. Walalupun sebagai konsekuensinya kita harus sedikit menaikkan harga. Namun kita punya tim-tim yang lihai dalam memilih bahan baku. Berbeda misalnya kalau di major distributor atau toko buku yang besar, semua sudah diprovide dari mereka. Kalau kita main indie, kita masih bisa melakukan survey-survey sendiri untuk mencari sendiri bahan-bahan sendiri yang lebih murah. Nah baru setelah kita melewati 3 edisi baru kita menerbitkan spin off dengan style Manga. Karena memang pembaca Manga itu memang sangat besar.

Volt sebagai sebuah komik saat ini kan sudah beredar sampai 6 edisi. Lalu sejauh ini bagaimana respon dan penerimaan masyarakat, apa tantangan dan kendala yang dihadapinya, dan apa pula harapan ke depannya?

Tantangannya sih sebenarnya kita masih bisa terima karena selama bertahun-tahun pembaca Indonesia inikan belum tahu ada Superhero Indonesia dan itulah yang harus kita terima. Jadi saat kita mendistribusikan ini ke toko buku, walaupun ada marketing, tapi kan marketingnya tidak bersifat langsung menyeluruh ya. Jadi penjualannya itu tidak mulus. Kalau boleh jujur, bulan pertama kita jual Volt volume pertama itu hanya laku terjual 12 eksemplar sementara kita cetaknya 20.000. bisa dibayangkan? Nah itu kalau orang yang dari segi bisnis melihat hasil seperti itu, jilid kedua selesai bungkus. Tapi kenapa kita masih terus karena kita punya komitmen bahwa ini kita ciptakan buat generasi indonesia. Jadi saya yakin ini akan maju terus. Jadi saya, Sardjono dan Aswin memiliki semangat dan point of view yang sama untuk berjuang sama-sama untuk terus maju.

539223_472019416142074_1719814402_n

Volt Goes to School

Kemudian bagaimana cara anda dalam mempromosikan karya ini?

Pertama saya mencoba membuka pintu marketing dengan menggunakan kredibilitas saya sendiri sebagai pekerja seni. Misalnya ketika menjadi bintang tamu dalam acara-acara talk show seperti Hitam Putih, Bukan Empat Mata, dan sejenisnya, saya selalu membawa karya saya. Saya tunjukkan bahwa Indonesia memiliki Superhero. Yang kedua kita juga ada penerapan road show school to school di mana kita memberi penyuluhan kepada anak-anak di sekolah.

untitled

Kaos Volt

Bagaimana respon masyarakat sampai saat ini, saat sudah terbit sampai 6 volume sejauh ini?


Nah inilah karena buah dari kesabaran kita, penjualannya meningkat. Dan so far rata-rata terjual tiap edisi sudah di atas 500 dan itu masih terus ya karena kan orang beli misalnya jilid 3, dia pasti akan mencari jilid 2 dan 1 dan begitu dia tahu ada 4 dan 5 pasti dia akan cari. Jadi ada semacam reaksi berantanya. Dan juga karena adanya statistik yang meningkat itu kita tidak mau Volt ini hanya berada di media baca saja. Kita juga ingin membuat maju selangkah lagi sebagai pernghargaan mereka yang sudah mengapresiasi komik volt, kita akan mencoba merealisasikan dalam media visual seperti animasi. Dan juga kemungkinan sinetron dan layar lebar. Dan juga untuk merchandise kita mulai mencoba masuk untuk kaos, t-shirts, dan figurine.

Kemudian untuk respon di tingkat industri bagaimana?

Sangat didukung. Sempat dipandang sebelah mata sebagai sensasi Artis belaka saat saya baru rilis buku pertama. Tapi pada saat saya berhasil menembus edisi 3, baru di situ dedikasi saya mulai dihormati. Karena semua orang tahu jualan Komik Indonesia itu, istilahnya kalau pergi perang itu dadanya sudah tertembus Bazooka. Dan untungnya sampai saat ini kita sudah bisa memecahkan rekor terbit sampai 6 edisi.

 

Ulasan Volt dalam NET Entertainment News

Apa harapan Volt ke depan apa dan targetnya akan berjalan sampai berapa volume?

Kita punya taget adalah Volt akan terbit lebih lama dari usia kita. Jadi mungkin saya sudah tidak ada tapi Volt ini akan maju terus dan satu lagi, Volt tidak sendirian. Masih ada lagi Superhero-Superhero lain yang akan muncul. Dan ini ke depannya nanti Superhero-Superhero yang membawa budaya Indonesia akan terus hadir ke blantika hiburan Indonesia baik itu komik, visual, film, dsb.

Apa pandangan anda mengenai industri komik di Indonesia saat ini? Apa saja yang sudah dicapai  dan apa saja tantangan ke depannya?

Di Komik Indonesia ini sejak hadirnya karya-karya yang mulai menonjol dan juga bisa terbit secara berkala seperti karya-karya dari Skylar Comics itu memberikan semangat kepada komikus-komikus indonesia lainnya baik yang senior maupun yang junior. Jadi akhirnya mereka menjadi lebih bergairan, mau membuat karya walaupun mungkin belum semua berani beredar secara massal ke toko-toko buku, tapi mereka terus berkarya salah satunya melalui Social Media. Itu impact yang boleh dibilang salah satu yang menggembirakan kita.

581809_615313108479370_354448530_n

Jawara Indonesia. Spin-Off Komik Volt  yang mengadaptasi gaya Manga

Selain Volt, Skylar Comics juga membuat satu komik Superhero lagi yaitu Jawara Indonesia. Bisa diceritakan sedikit mengenai jawara indonesia?

Jawara Indonesia boleh dibilang adalah komik yang menghibur bahkan bagi saya sendiri yang menulis. Karena di situ saya menulisnya tidak melalui satu tekanan ide imajinasi yang cukup berat seperti ketika saya menulis Volt. Di situ sekumpulan manusia-manusia biasa yang tidak punya superpower melainkan hanya manusia2 biasa yang terinspirasi dari Superhero Volt. Mereka terkumpul dari berbagai kalangan seperti bekas satpam, ada yang personal trainer di sebuah pusat kebugaran, ada juga supir, ada juga anak orang kaya, bahkan artis sinetron. Jadi orang-orang ini adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Tidak jauh seperti Volt yang terlalu seperti Dewa seperti kita. Tapi mereka mau memakai kostum dan menegakkan kebenaran dengan cara mereka. Jadi makanya saya memang sengaja menelurkan Jawara ini dengan format Manga karena pembaca Manga sendiri sangat besar di Indonesia. Jadi saya mau memberikan sebuah karya juga untuk mereka.

 

Teaser Volt The Movie yang sedang dalam tahap pengerjaan

Ke depannya Volt mau dibuat film. Mungkin bisa diceritakan sedikit?

Ke depannya Volt ini memang kita sedang mengembangkan Volt the Movie. Pastinya kita sudah siap dari segi persiapan untuk penggarapan secara keseluruhan. Cerita dan skenarionya sendiri sudah hampir rampung. Dari segi CG kita juga sudah siap. Kemudian dari segi kostum kita masih dalam pengembangan. Karena akan berdasarkan desain yang baru jadi mungkin dalam waktu dekat kita akan umumkan sutradara dan beberapa pemainnya. Tapi belum buru-buru lah. Masih step by step.

Apa pesan anda untuk para pembaca dan harapan untuk industri Komik Indonesia ke depannya?

Harapan saya adalah cintaila dan hormatilah karya2 anak negeri karena anak2 negeri ini, kita adalah anak-anak yang bisa menghasilkan sesuatu untuk dunia. Jadi orang yang di luar sana pasti akan melihat karya kita.

Kalau boleh jujur, mencari komik Volt ini bahkan meskipun katanya ada di toko buku tetapi nyatanya agak gampang-gampang susah. Jadi untuk yang masih kesulitan mencari di toko buku, di mana kira-kira mereka bisa menemukannya?

Oke, saya memberikan beberapa trik bagi mereka yang ingin mencari di toko buku. Saya memberikan trik seperti ini : kalau di toko buku besar seperti Gunung Agung atau Gramedia, langsung cek komputer databasenya. Cek di situ dan ketik Volt. Kalau misalnya ada atau tidak ada, panggil karyawannya dan tanyakan ke mereka. Nah nanti misalnya ternyata ada edisi 1, 2 pieces, edisi 2, 3 pieces, nah itu langsung tanya tempatnya di mana. Dan kalau misalnya tidak ketemu, suruh cari terus sampai dapat. Karena kalau memang tidak ada berarti nol kan? Nah kalau ada harusnya memang ada walaupun nyempil. Karena kita sendiri tidak bisa mengontrol di mana buku harus ditaruh. Jadi itu trik pertama.

Yang kedua kalau memang benar-benar tidak ketemu, hubungi saja langsung facebook kita di Skylar Comics, atau website kita di http://www.skylarcomics.net/ atau Twitter di @SkylarComics. Langsung ke situ dan tanyakan langsung melalui wallnya untuk memesan. Nanti kita akan selalu update lihat timelinenya saja dan ada nomor telepon yang bisa dihubungi, bisa Whatsapp atau SMS.

Tambahan lagi, ke depannya kita juga berencana untuk masuk Indomaret. Jadi tidak akan terlalu bergantung pada toko-toko buku besar lagi dan bisa memanfaatkan semua celah.

Oke terima kasih banyak atas waktu dan kesediaannya untuk berbagi. Sukses terus buat Volt dan teruslah berkarya.

Terima kasih.

KAORI Newsline | oleh Dody Kusumanto & Kevin Wilyan | Photo Courtesy of Skylar Comics, Stromotion & Koleksi Pribadi | Video Courtsey of Skylar Comics & NET Mediatama

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.