BAGIKAN

Setelah sekian lama bertempur dengan segala macam tugas untuk UAS, akhirnya saya mendapatkan waktu luang untuk kembali menulis. Tidak seperti sebelumnya yang lebih sering menulis opini yang berkaitan tentang anime percintaan dan romansa, kali ini saya ingin menulis mengenai event di tempat yang umumnya dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dan diidentikan dengan istilah “wibu bau bawang”.

Tebakan Anda tidak salah, event yang akan saya bahas adalah Event Mangga Dua alias ‘Event Mangdu’, event yang banyak didatangi oleh insan-insan yang disebut-sebut sebagai para “wibu bau bawang” atau “akar rumput”.

Anyway, saya akan menggunakan istilah “wibu” dalam artikel ini dikarenakan kata ini terasa lebih familiar dan dipahami pada saat artikel ini ditulis.

Menghadirkan kembali kenangan yang terlupakan

Beberapa minggu lalu, tepatnya pada Minggu, 13 Mei 2018, saya menghadiri sebuah event di kawasan Mangga Dua. Saya pun ingin turut mengucapkan selamat kepada komunitas Wake Up, Girls Indonesia selaku panitia event “Wake up, Girls! ID Carnival ‘Alysa In WUGnerland’” yang berhasil dengan sukses dilaksanakan. Tahu Wake up, Girls! kan? Iya! Idol yang keren itu!

Wake up, Girls! ID Carnival ‘Alysa In WUGnerland’

Jika kebanyakan event saat ini umumnya diadakan dalam ruangan indoor ataupun ruang terbuka yang luas dan memiliki pemandangan yang menarik, maka di event Mangdu lebih seperti sebuah ‘lorong’ menurut saya secara pribadi.

Di sepanjang tempat tersebut, berkumpul para penikmat pop-culture Jepang. Mulai dari komunitas itasha, komunitas / fanbase anime yang eksis di media sosial seperti Facebook dan Instagram, sampai fanbase grup idol atau anime tertentu. Suasana daerah yang panas, ditambah dengan padatnya orang yang berkumpul semakin membuat lokasi tersebut semakin terasa pengap, namun hal itu masih sangat bisa ditoleransi.

This slideshow requires JavaScript.

Berbagai komunitas saling unjuk eksistensi, lengkap dengan bannernya masing-masing

Menariknya, di sini kamu dapat melihat berbagai macam pengunjung. Mulai dari pengunjung biasa, cosplayer sampai para wota yang hampir selalu berada di depan panggung. Para guest star yang mengisi panggung pun sangat jarang diisi oleh para sosok ‘idol internet‘ ataupun cosplayer papan atas yang biasa tampil di berbagai acara jejepangan di sini.

This slideshow requires JavaScript.

Jika sudah membaca sampai sini, saya menduga Anda pasti berpikir apa menariknya event Mangdu yang seperti ini? Bukannya event tersebut tidak lebih dari event tempat berkumpulnya para “wibu bau bawang”?

Maka saya akan menjawab, Ya.

Event di Mangdu memang sulit untuk dibandingkan dengan event-event saat ini. Namun, jika kembali mengingat tahun 2010’an awal, saat penikmat pop culture Jepang masih belum sebesar ini, event yang digelar masih sebanyak hitungan jari dan hanya dilaksanakan beberapa bulan sekali, event Mangdu, saya katakan berhasil kembali membawa saya ke zona waktu tersebut. Ketika suatu waktu, saat para penikmat budaya pop Jepang berkumpul bersama dan menikmati event yang ada, tanpa memikirkan drama ataupun mencoba untuk ‘panjat sosial’ dengan teman-temannya.

Event Mangdu kembali membawa sebuah suasana dan euforia dari event popculture Jepang yang menurut saya selama ini telah hilang. Suasana serta euforia yang telah lama tidak saya temukan pada sebagian besar event saat ini.

Kapan lagi ada event jejepangan yang penontonnya bisa membawa bendera seperti di konser Slank?

Saya pun bisa merasakan bagaimana rasanya mereka bisa berkumpul bersama dengan teman-teman dari berbagai macam kota, serta menikmati event bersama, mencari cosplayer untuk foto bersama, berbagi dan bertukar anime, mencoba untuk bercosplay pertama kali, belajar untuk melakukan photo session dengan cosplayer, berkenalan dengan teman-teman baru, serta membahas bagaimana serunya event pada hari itu bersama dengan teman pada saat perjalanan pulang.

Untuk sesaat setelah menikmati event Mangdu selama beberapa jam, kenangan-kenangan saat saya menikmati event bersama dengan teman-teman beberapa tahun lalu pun kembali terlintas dalam kepala.

This slideshow requires JavaScript.

Lengkap dengan berbagai itasha, dengan beragam jenisnya lho!

Di tengah berbagai macam kekurangannya, event Mangdu kembali menghadirkan hal yang mungkin tidak akan Anda dapatkan di tempat lain. Saya lebih suka menyebutnya sebagai event ketika semua pengunjung bersenang-senang menikmati acara tanpa memikirkan drama yang ada, menikmati event dikarenakan memiliki ketertarikan dan kesukaan yang sama kepada budaya pop culture Jepang.

Event Mangdu sampai saat ini memang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun bagi saya, event Mangdu menghadirkan sesuatu yang berbeda dan tidak pantas untuk dipandang sebelah mata. Don’t judge by cover, itulah ungkapan yang menurut saya tepat untuk menggambarkan Event Mangdu setelah saya merasakan pertama kali event di sana.

Masih Banyak Hal yang Dapat Diekplorasi

Sekali kunjungan ke event Mangdu, rasanya tidak cukup untuk langsung menilai dan menyimpulkan bagaimana event di sana. Rasanya masih banyak sekali hal yang dapat saya eksplorasi, terutama bagaimana kawasan Mangdu bisa menjadi seperti saat ini, menurut saya pun tidak menutup kemungkinan jika hal ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin Mangdu dapat menjadi sebuah “Akihabara-nya Indonesia”.

Jika memang memiliki waktu kosong. Rasanya tidak masalah bagi saya untuk kembali datang dan menikmati Event Mangdu sambil mengamati dan melihat hal-hal menarik lainnya yang belum saya ketahui di sini.

Mungkin, dalam beberapa minggu ke depan saya akan mencoba kembali untuk melaksanakan #EkspedisiMangdu serta membuat tulis seperti ini kembali, menulis beberapa sisi dari event Mangdu yang sepertinya hingga saat ini jarang diekspos oleh media.

Tim KAORI Nusantara yang hadir dalam Ekspedisi Mangdu di Mangga Dua Square

KAORI Newsline | Oleh Ahmad Faisal | Artikel ini adalah opini pribadi penulis, dan tidak merepresentasikan kebijakan editorial KAORI Nusantara

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.