Cerpen: Under the Vast, Blue Sky -Spring Festival-, karya BlazeFeather

Karya ini merupakan pemenang dari Loli Fanfic Competition yang diadakan pada bulan April-Mei kemarin.

kamakura

Advertisement Inline

“Festival?” tanyaku bingung, tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.

“Ya! Sebuah festival!” jawab Akatsuki dengan tiga buah anggukan.

“Err, sebentar…”

Akatsuki baru saja mendapatkan pesan dari Laksamana bahwa dia memerintahkanku untuk menyelenggarakan sebuah festival di pulau ini.

Festival tersebut tidak harus memiliki tema, karena yang diutamakan adalah kebahagiaan para pengunjung dan suasananya.

Hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan di dalam pikiranku.

Mengapa Laksamana memberikan tugas ini kepadaku?

Aku tahu bahwa dia pernah mengadakan sebuah festival untuk merayakan kemenangannya di pulau Hanedama empat bulan lalu, tetapi mengapa dia menyuruhku untuk membuat festival sekarang?

Tidak ada berita bahwa Laksamana gila itu berhasil merebut sebuah pulau untuk kedua kalinya atau mengalahkan armada besar milik musuh.

Aku ingin sekali mempertanyakan perintah yang ia berikan di depan wajahnya.

Sayang, tugasnya untuk merebut kembali pulau Haneshima membuat kami tidak bisa bertemu sejak festival terakhir diadakan.

“Komandan?”

Panggilan penuh tanya tersebut membuatku tersadar kembali ke dunia nyata.

“Ah, maaf. Ada apa, Akatsuki?”

Ketika namanya kusebut, gadis itu memiringkan kepalanya ke kiri.

“Dari tadi Komandan hanya diam saja. Apa Komandan baik-baik saja?” tanya gadis itu sambil menggerakkan kepalanya ke arah sebaliknya.

“Aku baik-baik saja,” ucapku dengan sebuah senyum. “Aku hanya memikirkan festival yang akan kita adakan.”

Sebenarnya, perintah dari Laksamana gila itu merupakan kesempatan bagus bagiku.

Alasan dari perintah tersebut pasti akan kupertanyakan jika jawabannya tidak bisa aku temukan sendiri, dan hal itu tidak penting untuk saat ini.

“Benarkah? Kalau begitu, Akatsuki akan membuatkan Komandan segelas teh!”

Karena sekarang, aku bisa membayar kesalahanku terhadap gadis kecil yang berusaha untuk menutupi kegembiraannya.

“Terima kasih, tetapi air putih saja sudah cukup.”

Matanya yang berbinar membuat tanganku bergerak secara refleks untuk mengelus kepalanya.

“Uuuhh…Komandan memperlakukanku seperti anak kecil…” gumam Akatsuki.

Ah, aku lupa kalau dia tidak suka kalau kepalanya dielus.

“Maaf, tanganku bergerak sendiri.”

Tetapi reaksinya ketika aku melakukan hal itu sungguh menyenangkan untuk dilihat.

“Muu…”

Akatsuki akan selalu menggembungkan pipi sebelah kanan dengan suara tersebut ketika seseorang mempermainkannya.

Kemudian dia akan menatap langsung orang yang bersangkutan dan berkata,

“Sudah kubilang kalau Akatsuki bukan anak kecil lagi kan?!”

Dengan suara kesal.

Mulai dari sini aku bisa menggodanya dengan mencubit pipi sebelah kirinya atau kembali mengelus kepalanya, tetapi hal itu akan membuatnya kesal dan sekarang bukan saat yang tepat.

Karena itu aku langsung mengucapkan niat yang sudah kumantapkan sejak awal.

“Akatsuki, tolong beritahu semuanya untuk menemuiku sekarang juga. Kita akan membicarakan tentang festival yang akan kita adakan.”

Mendengar itu, wajah cemberut Akatsuki berubah menjadi cerah dalam tiga tarikan nafas.

Dengan sebuah anggukan, dia membalik badannya dan melangkah cepat ke arah pintu ruangan.

Dia tampak bahagia…

Padahal kita hanya membuat sebuah festival.

Atas perintah dari atasan yang entah kenapa tidak mengatakan alasannya secara jelas.

Yang saat ini masih belum terpikirkan baik dari tema, acara, dan makanan yang akan diperjual-belikan.

Tetapi…jika hal itu bisa membawa kebahagiaan kepada Akatsuki, maka aku akan melakukannya.

Karena empat bulan lalu, aku telah merenggut senyum miliknya.

~A~

“Hmmhmhmm~”

Hari ini aku sangat senang!

Berkat perintah yang diberikan oleh Laksamana Kyoueki, Komandan akan membuat festival di kota seperti beberapa bulan lalu.

Itu artinya, aku bisa menikmati keramaian sebuah festival dan bersenang-senang bersama yang lainnya!

Ya…bersama mereka.

Sesuatu yang tidak dapat aku lakukan pada festival sebelumnya.

Kalau tidak karena paksaan dari Komandan, mungkin aku tidak akan pernah keluar dari markas.

Tetapi saat festival mencapai puncaknya, aku tidak bisa melawan ketakutan dari masa lalu dan meninggalkan mereka.

Aku selalu berpikir bahwa itu adalah perbuatan yang tidak menyenangkan, melarikan diri dari mereka yang sedang bersenang-senang tanpa mengatakan apapun.

Mereka semua, kecuali Komandan, mengetahui ketidakmampuanku dalam melawan rasa takut dan alasan dibalik posisi sekretaris yang aku tempati.

Pengertian mereka lah yang membuatku merasa bersalah karena telah meninggalkan mereka. Terutama kepada Komandan yang tidak mengerti apa-apa dan mengajakku untuk menikmati festival bersama-sama.

Kemudian, hal yang tidak terduga terjadi.

Komandan datang untuk menemuiku, gadis yang baru saja meninggalkannya karena sebuah ledakan di langit.

Dia mendengarkan bagian dari masa lalu yang tidak ingin kuingat, menghapus air mata yang mengalir di pipiku, dan membantuku untuk melawan ketakutan tersebut.

Sebenarnya sampai saat ini aku masih tidak terbiasa dengan suara tersebut, tetapi jika ada Komandan di sampingku, aku pasti bisa menghadapinya!

Membayar kebaikan seseorang adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh seorang wanita.

Karena itu, aku akan mengajak Komandan untuk menikmati festival bersama mereka.

Pergi bersama wanita kelas satu sepertiku adalah hal terbaik yang bisa didapatkan oleh Komandan saat festival berlangsung!

Ah! Bukannya bersenandung sambil merentangan tangan akan membuatku terlihat seperti anak kecil?

Gawat…tenangkan diri, tarik nafas panjang-

“Akatsuki?”

“Hya~!”

Sebuah panggilan yang familiar membuat kejutan menjalar ke seluruh tubuhku.

Butuh waktu sebanyak tiga hitungan untuk menoleh ke belakang…dan melihat kak Kumano berdiri di depan kamarnya.

“A…hawawa…”

Apa kak Kumano melihat diriku barusan?

Berjalan melewati lorong dengan tangan terentang dan menyanyikan sebuah senandung seperti anak kecil…

Itu adalah hal yang tidak ingin aku tunjukkan di depannya!

“Kamu terlihat bahagia. Apakah Laksamana baru saja memberikanmu hadiah?”

“I-iya! Eh, tidak! Bukan hadiah tetapi juga bukan perintah! Tetapi, Komandan-”

“Akatsuki.”

Dalam sekejap, kak Kumano sudah berdiri di depanku dan menggunakan tangan kanannya untuk mengelus kepalaku.

Uuhhh, elusan kepala dari kak Kumano memang yang terbaik…

“Sudah lebih baik?” tanya kak Kumano dengan sebuah senyum.

“Ya!”

“Sekarang, ceritakan kepadaku apa yang membuat kamu berjalan seperti orang bahagia.”

Ternyata dia melihatku!

Uuhhh, padahal aku sudah berusaha untuk terlihat seperti wanita kelas satu di depannya.

“Un…”

Kemudian aku menceritakan apa yang baru saja terjadi di ruang kerja.

Dimulai dari perintah Laksamana Kyoueki yang datang lewat radio morse sampai permintaan Komandan untuk memanggil semuanya ke ruang kerja.

“Hee, sebuah festival ya…”

Kak Kumano mengeluarkan sebuah senyuman pahit.

Reaksi tersebut membuatku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung dan menimbulkan rasa sakit di dadaku.

Saat itu, dia juga ada di sana…

Tetapi sebelum aku dapat mengatakan apapun, kak Kumano mengangguk kecil dan tersenyum lebar.

“Tampak menyenangkan!”

“Uh…Kumano? Kalau kamu tidak jadi mengambil minuman, bisakah kamu masuk dan memainkan karaktermu sekarang?”

Sahutan dari kak Kumano diikuti oleh sebuah panggilan dari dalam kamarnya.

Pemilik dari suara itu adalah Yuubari, teman satu kamar kak Kumano.

“Ah, tolong tunggu sebentar. Aku sedang berbicara dengan Akatsuki.”

Setelah aku dengar baik-baik, suara-suara aneh dapat aku dengar dari ruangan tersebut.

Suara mesin yang sedang dimainkan dengan kecepatan tinggi, suara tegas seorang pria yang diikuti dengan suara tebasan atau tusukan, dan suara orang yang mengerang kesakitan.

Kalau tidak salah nama dari mesin tersebut adalah game, mesin kesukaan Yuubari dan kak Kumano.

“Jadi Laksamana Hinata memintamu memanggil kami semua untuk menemuinya di ruang kerja?”

“Ya! Akatsuki juga ingin membuatkan Komandan segelas teh!”

“Teh?”

“Komandan terlihat lelah, jadi Akatsuki ingin membuatkannya sesuatu agar dia bersemangat kembali.”

“Benarkah? Kalau begitu, apa Akatsuki ingin membuat teh bersamaku?”

Membuat teh bersama kak Kumano?!

Ini artinya…dia akan menunjukkan bagaimana seorang wanita sejati membuat segelas teh, minuman yang menjadi kewajiban bagi para wanita?!

“Kebetulan aku sedang haus, jadi aku membutuhkan cairan untuk menyegarkan diri.”

Ini bagaikan mimpi yang datang secara tiba-tiba!

“Cepatlah, Kumano! Karaktermu sedang meregang nyawa dan ikan pasir raksasa ini selalu mengincarmu!”

Dan mimpi tersebut hilang begitu saja oleh sahutan dari Yuubari…

“Maaf ya, Akatsuki. Sepertinya Yuubari benar-benar membutuhkan bantuanku.” ucap kak Kumano sambil menggaruk sebelah pipinya.

Dengan sebuah helaan nafas, kak Kumano tersenyum sambil membawa kedua tangannya ke masing-masing pinggang.

“Kita bisa membuat teh bersama di lain hari, oke?”

Setelah mengedipkan sebelah matanya, kak Kumano langsung memasuki kamarnya.

~T~

Siang ini, ruanganku dipenuhi oleh enam gadis kapal.

Mereka adalah: Akatsuki, Kagerou, Samidare, Yuubari, Kumano, dan Hiyou.

Keenam gadis kapal tersebut adalah seluruh anggota dari armada kedelapan yang dipimpin olehku.

Saat ini, mereka akan membantuku untuk menyelesaikan satu hal yang tidak pernah mereka lakukan.

Membuat festival.

“Aku tidak menyangka kalau sekarang giliran kita untuk menyelenggarakan sebuah festival.” ucap Samidare.

“Menarik! Aku sudah tidak sabar untuk memenangkan seluruh kios yang menyediakan tantangan.” timpal Kagerou sambil menarik ujung sarung tangan di pergelangan tangannya.

“Tetapi kita yang akan membuat tantangan tersebut…”

“Selama kita masih harus berusaha untuk menang, aku rasa tidak masalah. Iya kan, Akatsuki?”

Pertanyaan dari Kagerou membuat Akatsuki menutup matanya sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya sekali.

“Bagi Akatsuki, berjalan bersama Komandan saja sudah cukup.”

“Begitukah? Mungkin aku harus mengajakmu dan Komandan untuk mencoba tantangan yang ada.”

“Sebelum itu, bagaimana kalau kita pikirkan apa saja permainan yang kamu inginkan?” ucap Samidare yang terlihat kesal.

Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat kelakuan dari tiga gadis kecil tersebut.

Mereka punya inisiatif dan keantusiasan yang lumayan, sayangnya inisiatif itu berjalan terlalu cepat karena rapat belum dimulai.

“Baiklah semuanya!

Aku menepuk kedua tanganku dengan sekuat tenaga untuk memusatkan perhatian kepadaku.

Tiga gadis kapal yang sedari tadi membicarakan permainan langsung melihat ke arahku.

Yuubari dan Kumano yang sedang berbincang di dekat meja sekretaris melakukan hal yang sama.

Sementara Hiyou sudah berdiri di belakangku, dengan sebuah kertas dan pena di masing-masing tangannya.

Dia adalah pengganti Akatsuki dalam pekerjaan sekretaris yang berhubungan dengan tulis-menulis.

“Seperti yang Akatsuki sampaikan kepada kalian, kita akan mengadakan festival di pulau ini. Rencananya festival akan diadakan dua minggu lagi. Karena itu, apa kalian punya ide untuk tema dari festival tersebut?”

Pertama-tama, sebuah tema.

Dengan tema, kami bisa membayangkan apa saja yang akan ada dalam festival tersebut. Hal-hal seperti makanan, permainan, dan acara adalah sesuatu yang akan memperkuat atau memiliki hubungan dengan tema tersebut.

Festival empat bulan lalu memiliki tema ‘kemenangan’. Makanan yang dijual memiliki harga murah, sementara permainan yang disediakan mengandalkan refleks dan ketepatan.

Pada puncak festival, kembang api dinyalakan untuk memeriahkan suasana dan merayakan kemenangan Armada kedua.

“…”

Sayangnya, pertanyaanku disambut dengan kesunyian.

Semua gadis kapal yang berada di depanku tampak berpikir dengan serius.

Beberapa dari mereka menaruh tangannya di dagu sementara sisanya hanya menggaruk kepala.

Sepuluh detik setelah kesunyian dimulai, sebuah perubahan datang dalam bentuk suara.

“Bulan april ya…”

Suara tersebut datang dari Hiyou.

Ketika aku melihat ke arahnya karena refleks, dia sedang mengetuk keningnya dengan telunjuk kanan.

Pada ketukan ketiga, sebuah senyum terbentuk pada bibirnya.

“Apa kalian semua ingat dengan festival yang dirayakan saat musim semi?”

Pertanyaan dari Hiyou membuat semua orang terdiam lagi.

Alih-alih berpikir, mereka lebih terlihat seperti mengingat kembali masa lalu.

“Ah, aku tahu!”

Yang pertama menjawab adalah Yuubari.

“Festival Kamakura, kan?” ucap Kumano sambil menghela nafas. “Kita baru saja menamatkan ‘Krisis Moneter pada Zaman Heian’, dimana putri Shizuka melempari Yoshitsune dengan kipas karena lebih memilih pinjaman dari kakaknya untuk melawan pengaruh keluarga Taira.”

“Ya ya, yang itu! Omong-omong, aku berhasil melunasi hutangnya dan mendapatkan adegan bersama Nona Tokiwa di bawah hujan salju.”

“Benarkah?! Bahkan aku tidak bisa melewati bulan kedua…”

Sementara Yuubari membusungkan dadanya, Hiyou melirik ke arahku.

“Bagaimana dengan Laksamana? Apakah tempat dimana Laksamana tinggal mengadakan festival juga?”

Aku menjawab dengan sebuah gelengan.

Tanah kelahiranku bukanlah sebuah tempat yang dapat digunakan untuk merayakan sesuatu.

Setiap harinya diisi dengan perselisihan dan latihan untuk berperang. Terkadang suara senjata dapat didengar di malam hari, dimana teriakan dan sahutan mengikutinya.

Lalu keesokan harinya, mereka akan menguburkan sebuah mayat.

Aku selamat dari kengerian tersebut berkat status ayah sebagai seorang Laksamana Muda.

…dan sekarang aku telah menggantikannya.

“Hmm, ini sulit. Gadis kecil seperti Akatsuki tidak mengetahui jenis festival yang ada sementara Yuubari dan Kumano mengetahuinya dari game.” gumam Hiyou sambil menghela nafasnya.

“Maaf, aku tidak pernah merasakan festival kecuali empat bulan lalu.”

“Karena itu Laksamana meminta bantuan kami kan?”

Kalimat tersebut membuatku memalingkan wajah darinya.

“Ya…kurang lebih.”

Aku dapat mendengar tawa kecil dari Hiyou, yang membuat warna pipiku menjadi lebih merah dari biasanya.

“Jangan malu-malu, Laksamana. Aku memang tidak pernah mendatangi festival ketika masih menjadi kapal, tetapi penumpang yang menaiki diriku sudah lebih dari cukup untuk memberikanku pengetahuan tentang festival.”

Aku berusaha untuk tidak membayangkan kalimat yang ia ucapkan.

“Sebenarnya masih ada festival lain seperti Festival Hamamatsu, Festival Azalea, dan Festival Tarian Singa. Tetapi yang diketahui oleh sebagian dari kita adalah Festival Kamakura, jadi festival ini adalah pilihan terbaik.” lanjut Hiyou.

Festival Kamakura ya…

Aku tidak tahu apapun tentang festival itu.

Karena Hiyou sudah menawarkan bantuan, aku akan menerimanya dengan senang hati.

Sebelum itu, ada satu hal yang ingin kutanyakan.

“Kenapa kamu memilih musim semi?”

Hiyou memiringkan kepalanya ke kanan sebelum menjawab.

“Karena bulan april adalah pertengahan dari musim semi.”

Dia seperti mengatakan sesuatu yang sangat wajar…

“Terlepas dari itu, kalian tidak keberatan dengan Festival Kamakura sebagai tema kan?”

Seluruh gadis yang ada di dalam ruangan menjawab dengan sebuah anggukan.

Gadis seperti Kagerou menambahkan sebuah jempol kepada Hiyou, walau wajahnya tampak seperti orang yang tidak tahu apa-apa.

“Kalau begitu sudah diputuskan, festival yang akan kita buat adalah Festival Kamakura!”

~T~

Setelah persetujuan tersebut, Hiyou menceritakan segala hal tentang Festival Kamakura.

Festival Kamakura adalah sebuah festival yang diadakan di kota Kamakura untuk mengenang sejarah. Festival ini berlangsung selama dua hari, dimana hari pertama diisi dengan sebuah tarian sakral sementara hari kedua diadakan pertunjukkan menembak panah dari atas kuda.

Karena tema festival kali ini mengambil dari masa lalu, kesesuaian dengan jenis makanan dan permainan yang akan diadakan dapat dimusyawarahkan dengan mudah.

Lalu untuk acara pertama yang dikenal sebagai Shizuka no Mai, salah satu dari kami akan menari di atas panggung dan menunjukkan perasaannya terhadap seseorang lewat tarian tersebut.

Sang penari belum ditentukan, tetapi karena mereka ingin aku menikmati festival yang akan kami buat, maka aku didiskualifikasi dari posisi tersebut.

Sementara untuk acara kedua, Yabusame…

“Bagaimana kalau kita ganti saja atraksi memanah dengan menembak meriam?” tanya Yuubari.

“Ditolak! Kamu mau merusak kota atau membuat takut para penduduk kota?!” teriakku panik.

Tidak terlihat masa depannya…

“Eh? Bukannya menembak meriam dari atas kuda terlihat sangat keren?”

…sudah berapa sekrup yang copot dari otak gadis ini sampai dia bisa mengatakan hal tersebut dengan wajah polos?

“Ya, dia akan terlihat hebat. Tetapi kehancuran setelahnya akan membuat orang itu menjadi musuh bagi rakyat!” jawabku kesal.

“Karena itu kita serahkan saja peran tersebut kepada Laksamana.” ucap Kumano dengan sebuah senyum.

Eh, aku?

“Uh, aku tidak akan kuat mengangkatnya…”

Mengingat kekuatan fisikku berada jauh di bawah tentara lain, senjata lama seperti katana membutuhkan seluruh tenagaku untuk mengayunkannya.

Belum ditambah baju zirah yang terlihat berat…tunggu sebentar-

“Bukan itu masalahnya!”

Aku langsung berteriak dengan panik ketika menyadari arah pembicaraan yang mulai berbelok.

“Eeh, padahal kita bisa meminta para peri untuk membuat meriam yang cocok untuk Laksamana.” ujar Kumano dengan nada kecewa.

Jangan bercanda. Manusia biasa sepertiku tidak pernah menggunakan meriam di dalam perang.

Terlepas dari itu, masalah utama dari Yabusame hanya satu.

Tidak ada yang bisa menggunakan busur untuk memanah.

Hiyou berkata bahwa dua minggu tidaklah cukup untuk belajar memanah di atas kuda.

Karenanya kami mencoba untuk mengganti atraksi memanah dari atas kuda dengan sesuatu yang lain.

Sebuah pertunjukkan yang tidak menggunakan busur ataupun meriam.

“Bagaimana kalau kita sudahi saja sekarang? Aku rasa kita semua sudah terlalu lelah untuk melanjutkan.” ucap Hiyou sambil menepuk kedua tangannya.

“Aku setuju dengan Hiyou. Kalau kita membiarkan rapat ini terus berjalan, bisa-bisa otak Yuubari mencair.” timpal Kumano yang sedang memegangi kepala teman sekamarnya.

“Huah! Akhirnya selesai juga…”

Sahutan dari Kagerou diikuti oleh helaan nafas lega Samidare dan anggukan kecil dari Akatsuki.

“Laksamana, apa kamu ingin mempersiapkan festival sekarang?” tanya Hiyou.

“Tidak. Kalian bisa beristirahat untuk hari ini.” jawabku pelan.

Tanpa mengatakan apapun, Hiyou berjalan ke arah gadis kapal lain.

“Kalian dengar apa yang Laksamana ucapkan barusan kan? Ayo kita kembali ke kamar untuk istirahat. Pekerjaan besok sudah menanti.”

Semua orang kecuali diriku dan Akatsuki meninggalkan posisinya masing-masing dan berjalan ke arah pintu.

“Terima kasih, kalian semua.”

Mereka pun meninggalkan ruang kerja secara teratur, melambaikan tangan ke arahku sebelum keluar dari pintu.

~A~

Satu minggu sudah lewat sejak Komandan mengumpulkan kami semua di ruang kerja.

Saat ini aku sedang berada di kamar Samidare, membuat hiasan untuk festival bersama Kagerou dan sang pemilik kamar.

Para peri juga ikut membantu dalam membuat hiasan.

Sebagian dari mereka adalah peri yang menempati senjata kami, dan sisanya adalah petugas kebersihan.

Samidare berkata bahwa Komandan memperbolehkan kami untuk meminta bantuan para peri karena pekerjaan ini tidak mungkin diselesaikan bertiga.

Ada juga yang pergi ke kamar kak Kumano untuk membantunya memotong dan menghaluskan kayu bersama-sama.

Aku tahu karena kak Kumano menceritakannya tiga hari yang lalu.

Peri memang serbaguna!

“Akatsuki.”

Panggilan dari Samidare membuatku menoleh ke arahnya.

“Ya?”

“Kenapa kamu ingin membantu Komandan?”

Pertanyaan dari Samidare membuatku mengerutkan alis.

Alasannya sudah jelas.

“Karena Akatsuki menyukai Komandan!”

“Wah, ternyata Akatsuki gadis yang terus-terang!” timpal Kagerou.

“Tentu saja! Seorang wanita sepertiku tidak akan pernah menyembunyikan rasa sukanya di hadapan orang lain.”

“Kagerou, bukankah kamu juga suka dengan Komandan?” tanya Samidare.

“Ah…kalau itu bagaimana ya…”

Kagerou menggaruk kepalanya dengan sekuat tenaga, seolah mencoba untuk menghilangkan noda putih yang terus tumbuh di rambut.

“Aku menyukai Komandan yang telah menerimaku dengan sepenuh hati.” ucap Kagerou sambil memainkan ujung rambutnya dengan telunjuk kanan.

“Aku juga. Berusaha untuk melakukan yang terbaik demi orang yang disukai adalah hal yang paling menyenangkan!” ujar Samidare yang tersenyum bahagia.

Aku mengangguk kecil mendengar isi hati dari teman seperjuanganku.

Mereka juga menyukai Komandan, dan berusaha untuk membantunya dengan sepenuh tenaga.

Seorang wanita tidak akan pernah membiarkan teman sehatinya berusaha sendiri, walaupun saat tujuan mereka sama.

“Kalau begitu aku akan membawakan kalian minuman. Ada yang kalian inginkan?” tanyaku.

“Ohh! Aku mau jeruk dingin!”

“Teh hangat saja.”

Setelah mencatat pesanan mereka di dalam otakku, aku langsung melangkah keluar kamar dan berbelok ke kanan.

Di depanku terdapat sebuah koridor yang agak panjang. Untuk mencapai dapur, aku perlu berjalan sampai ujung koridor dan belok ke kiri.

Tetapi di pertigaan tersebut, ada seseorang yang melambaikan tangan ke arahku.

“Kak Hiyou?”

“Tumben bertemu denganmu di tempat ini. Ada sesuatu yang sedang kamu lakukan?” tanya kak Hiyou dengan wajah terkejut.

“Ya! Kagerou dan Samidare tampak kehausan, jadi aku mengambil inisiatif untuk mengambilkan mereka minuman.”

Kak Hiyou memandangiku sejenak sebelum berjalan ke arahku,

“Gadis pintar.”

Dan mengelus kepalaku…

“Muuuu….”

Aku langsung menggembungkan pipi dan menggumamkan kekesalanku dalam dua huruf.

Padahal aku sudah sering bilang kalau aku bukan anak kecil lagi!

“Tenang saja, aku hanya ingin mengusikmu sedikit.” ucap Hiyou sambil melepas tangannya dari kepalaku.

Hal itu membuat udara yang tersimpan di dalam pipi keluar melewati hidungku, sementara aku menaruh kedua tanganku ke pinggang agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

“Baguslah kalau kak Hiyou mengerti.”

Kak Hiyou menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi tawa kecilnya.

Tidak diragukan lagi, perilaku yang mulai mendekati milik wanita sejati dapat membuat orang lain bahagia.

“Akatsuki, kakak punya satu permintaan kepadamu.”

~T~

Di bawah terik matahari siang, festival dimulai.

Dengan kerjasama walikota dan para peri di markas, seluruh hal yang dibutuhkan selesai semua pada H-1.

Festival yang kita beri nama Kamakura-ko ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu utara, tengah, dan selatan.

Bagian utara adalah daerah pertokoan dengan satu jalan yang tersambung ke taman air mancur. Bagian tersebut berisi berbagai macam kios makanan, salah satunya menjual nasi khas pulau Kawashiro.

Bagian tengah mengisi taman air mancur, dimana sebuah panggung didirikan di sebelah kiri air mancur. Panggung tersebut adalah tempat dimana seseorang akan menyatakan perasaannya dengan sebuah tarian.

Bagian selatan adalah tempat permainan, dengan cabang yang berujung pada komplek perumahan yang berbeda.

Di sana Kagerou menjaga kios senapan, menunggu seseorang untuk menembak jatuh hadiahnya.

Saat ini aku sedang mengelilingi bagian utara bersama Kumano untuk mencari es krim.

Hari panas seperti ini memang cocok kalau diisi dengan kesegaran.

“Kumano, kamu mau rasa apa?”

“Coklat saja cukup.”

“Kalau begitu, saya pesan satu es krim vanilla dan satu es krim coklat.”

Wanita yang menjaga kios es krim itu mengangguk, lalu membalikkan badan untuk membuka sebuah kotak dan mengeluarkan dua buah tongkat kecil yang menahan es krim pada ujungnya.

Aku menerima es krim pemberiannya dengan tangan kiri, sementara tangan kananku kugunakan untuk menyerahkan uang.

Setelah uang tersebut ditukar dengan kembalian, aku dan Kumano kembali berjalan menikmati festival.

“Mmmmm~ Coklat memang enak~”

Wajah Kumano berubah menjadi bahagia setelah menjilat es krim tersebut.

Aku melakukan hal yang sama untuk memasukkan rasa vanilla di es krim milikku ke lidah dan tenggorokan.

Dingin dan vanilla, tidak ada yang bisa mengalahkan gabungan dari dua hal itu di bawah sinar matahari.

Rasa dingin ini membuatku ingin mendengarkan sesuatu.

“Hei, Kumano. Bagaimana kalau kita pergi ke sektor 8? Aku dengar ada orkes suling dari ‘The Pavel Blower’ disana.”

“Kalau tidak salah mereka adalah orkes yang melantunkan lagu dengan dua suling berbeda untuk setiap anggotanya.”

“Benar sekali. Suling buatan mereka memiliki suara sendiri yang memperkuat suara dari suling biasa. Kelihaian sang ketua, ‘Dazz Dizz Favavlava’ juga tidak boleh dilewatkan. Melihat pergantian suling yang terjadi dibawah satu detik adalah kewajiban bagi penggemar The Pavel Blower!”

Kumano memandangku dengan wajah yang…sangat terkejut. Matanya terbelalak dan mulutnya dibiarkan terbuka, hal yang tidak pernah dia lakukan sekalipun di markas.

Uh, sepertinya aku terlalu antusias dalam membicarakan mereka.

Aku memang tertarik dengan orkes sejak kecil karena mereka adalah hiburan satu-satunya yang ada di tanah kelahiranku.

Tidak ada yang ingin membunuh mereka karena selain tidak berpihak pada siapapun, mereka juga akan kehilangan hiburan satu-satunya di tanah itu.

Karena itu ketertarikanku…agak terlalu tinggi.

“Hi hi, aku tidak menyangka bahwa Laksamana memiliki sisi seperti itu juga.” ucap Kumano yang menggunakan tangan kanannya untuk menutupi tawa kecilnya.

“Ah…ahaha, maaf.”

Aku pun ikut tertawa sambil menggaruk kepalaku walau tidak ada apa disana.

“Seharusnya aku yang minta maaf, Laksamana. Aku tidak bisa menemanimu ke sana, dan acara di panggung sudah akan dimulai.”

Kami berdua pun melihat ke arah panggung.

Sisi kiri dan kanannya tertutup oleh kain, karenanya kami tidak bisa melihat apapun.

Tetapi kami tahu, bahwa di balik kain itu akan ada seseorang yang menari.

Selain diriku, Kumano, dan Kagerou.

“Bagaimana kalau kita lihat dansa yang akan dimulai?”

Aku tidak punya alasan untuk menolak, karena itu aku mengiyakannya.

~A~

Saat yang menegangkan telah dimulai.

Shizuka no Mai…sebuah tarian yang memiliki nilai sejarah tersendiri.

Karena pulau Kawashiro tidak memiliki sejarah yang bisa diulang dalam sebuah tarian, Hiyou menginterpretasikannya sebagai tarian penyampai perasaan.

Hal itu membuat Hiyou menaruh tanggung jawab seorang penari kepadaku.

Dia tahu bahwa aku memiliki sebuah perasaan yang ingin kusampaikan kepada Komandan.

Walau Kagerou bilang aku orang yang blak-blakan, aku tetap tidak berani mengatakan hal sensitif di depan orangnya.

Seorang wanita memang seperti itu, yang kemudian dikonfirmasi oleh kak Kumano.

Panutan yang kupakai untuk menjadi seorang wanita sejati tidak mungkin salah dalam mendeskripsikan wanita kan?

Karena itu, aku mengumpulkan segenap keberanianku.

Dengan pakaian yang sedikit lebih besar dari tubuhku, aku berjalan ke tengah panggung lewat sisinya yang tertutup.

Bersamaan dengan itu, pemandanganku berubah menjadi lautan manusia.

…uwaaa, banyak sekali orang yang melihatku!

Bagaimana ini, bagaimana ini bagaimanaini bagaimanaini-

Tunggu. Tarik nafas…buang. Tarik nafas…buang.

“Fuuh~”

Setelah menghela nafas, aku mengambil kipas yang telah ditempel pada bagian dalam pergelangan tangan.

Kemudian aku membuka kipas di tangan kananku dan mengangkatnya ke langit.

Itu adalah tanda bagi pada peri di belakang panggung untuk memainkan lagu yang sudah disiapkan.

Dan juga tanda bahwa tarian akan dimulai.

~T~

Akatsuki?!

Aku tidak dapat mempercayai mataku.

Gadis kecil yang berdiri di atas panggung, dengan mengenakan kimono berwarna putih dan kipas di kedua tangan, adalah Akatsuki.

“Ini adalah keinginan dari Akatsuki sendiri.”

Pertanyaan yang baru saja akan aku ucapkan telah dikatakan oleh Kumano.

“Shizuka no Mae adalah tarian dari putri Shizuka untuk menunjukkan cintanya kepada Minamoto Yoshitsune. Jika kita mengartikannya dari sisi lain, tarian tersebut menjadi hal yang dilakukan oleh seseorang untuk menunjukkan perasaannya kepada orang lain.”

Lalu dia menjawab apa yang ingin aku ketahui secara panjang lebar.

“Artinya, Akatsuki ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang?”

“Benar sekali, Laksamana.”

Kumano mengeluarkan sebuah senyum tipis dan menunjuk ke arah Akatsuki dengan jempol kanannya.

“Apakah Laksamana mengetahui apa yang ingin ia sampaikan dan kepada siapa?”

~A~

Bersama dengan tabuhan gendang ke-20, aku menggerakkan tangan kanan yang menggenggam kipas ke dahiku.

Dua tabuhan berikutnya, aku membuat gerakan zig-zag dengan tangan tersebut ke bahu kiri dan lutut kanan.

Pada gerakan terakhir, kedua kakiku berlutut sedikit untuk menunjukkan keelokan dari aliran gerakan sebelumnya.

Setelah tabuhan berikutnya mengudara, aku menegakkan kembali kedua kakiku dan membuka kedua kipas di tanganku.

Saat itu juga, aku dapat melihat kak Kumano dan Komandan di tengah lautan manusia.

Aku tersenyum kecil sambil mengangkat tangan kiriku secara diagonal.

Aku telah berlatih siang-malam bersama kak Hiyou dan kak Kumano untuk menari di atas panggung ini.

Aku pasti akan menyampaikan rasa terima kasihku dan kebahagiaan di dalam hatiku kepada Komandan.

Untuk dirinya yang telah membuatku menerima ingatan bernama trauma, aku tidak akan gagal!

~T~

Aliran dari gerakan Akatsuki membawa sebuah kekuatan.

Kekuatan itu tidak nyata tetapi dapat kurasakan.

Sesuatu…yang disebut sebagai keanggunan.

Setiap Akatsuki mengangkat lengannya, ujung dari kipas tersebut mengirimkan sebuah kekuatan tidak terlihat ke sekitarnya.

Seakan tangan dan kipas tersebut telah menjadi…ular.

Semakin lama gendang di belakang panggung bergema, semakin tajam gerakan Akatsuki.

Gerakan tangan yang seperti ular tersebut terlihat lembut dan kuat di saat bersamaan.

Mungkin jika ada sebuah tongkat yang mengganggunya, tebasan dari kipas tersebut bisa membelahnya dengan mudah.

Aku tidak menyangka…bahwa gadis mungil sepertinya dapat melakukan hal seperti itu.

“Semakin lama tarian berlangsung, semakin kuat dirinya.”

Kumano mengatakan sesuatu, tetapi pandangannya terfokus pada Akatsuki.

“Bukankah saat ini Akatsuki sedang mengatakannya? Sesuatu yang ingin ia sampaikan.” tambah Kumano tanpa berpaling sedikitpun.

Mengatakan…sesuatu?

Artinya, kalimat Kumano sebelumnya merupakan sebuah petunjuk…?

Jika benar itu sebuah petunjuk, maka kesimpulan yang bisa kudapat…

“…”

…jadi begitu ya?

“Dasar gadis bodoh.”

Bersamaan dengan terucapnya gumaman tersebut, Akatsuki melakukan gerakan terakhirnya dengan kipas yang menunjuk ke arahku.

~A~

Saat ujung dari kipas di tanganku mengarah kepada Komandan, tepuk tangan yang riuh memenuhi taman air mancur.

Rasa kagum, kebahagiaan, semangat, semua terpancar dari orang-orang di depanku.

“Ah…”

Aku tidak tahu harus berkata apa…

Karena itu-

“Maaf!”

Aku menundukkan kepalaku dan langsung berlari ke belakang panggung.

Di sana terdapat para peri yang sudah siap untuk mengganti kimono di tubuhku dengan pakaian biasa milikku.

Mereka semua mengacungkan jempol sebelum terbang ke arahku.

Reaksi tersebut membuat sebuah perasaan muncul di dalam dadaku.

Keingintahuan.

Apakah tarian tadi cukup bagus untuk menyampaikan perasaanku?

Dan,

Apakah perasaanku sampai kepada Komandan?

~T~

Aku menunggu selama beberapa menit di bagian belakang panggung untuk menunggu Akatsuki.

Kumano berkata bahwa dia ada urusan di bagian selatan, karenanya dia meninggalkanku sendiri di taman air mancur.

Hal itu merupakan sebuah kebetulan karena aku ingin bertemu dengan Akatsuki sendirian.

Ada sesuatu yang harus kukatakan kepadanya…

“Komandan?”

Ah, dia datang.

“Kamu memang hebat, Akatsuki! Hiyou dan lainnya tidak salah memilihmu untuk menari di atas panggung.

“Benarkah?! Ini semua pasti karena Akatsuki\ latihan intensif bersama kak Hiyou dan kak Kumano selama dua minggu!”

Mengabaikan alasan mengapa gadis kapal yang menemaniku kabur tadi, aku berkata.

“Akatsuki…apa kamu ingat tentang festival empat bulan lalu?”

Sebuah senyum pahit muncul sesaat dari bibir Akatsuki yang mulai bergerak.

“Tidak perlu meminta maaf, Komandan.”

“Eh?”

Kenapa…dia tahu?

“Komandan selalu memikirkan orang lain. Karena itu aku tahu bahwa Komandan masih merasa terganjal hatinya.”

…Akatsuki benar.

Walaupun hasil dari perbuatanku empat bulan lalu berujung pada hal positif, aku tetap saja melakukan hal yang tidak dapat dimaafkan.

“Saat itu, Akatsuki menangis kan?”

Aku mengangguk, menjawab pertanyaannya sekaligus mengkonfirmasi pernyataan batinku.

“Komandan pasti merasa bersalah karena Akatsuki sampai meneteskan air mata setelah menceritakan masa lalu.”

Itu juga benar.

Saat itu Akatsuki bercerita mengapa dia tidak kuat menghadapi suara ledakan.

Tubuh yang bergetar ketika mengingat masa lalu kelam tersebut…terlihat ringkih dan lemah.

Karena itu aku langsung memeluknya, dan berkata bahwa dia tidak perlu takut terhadap ledakan tersebut.

“Tolong jangan khawatirkan Akatsuki, Komandan. Karena saat ini Akatsuki lebih kuat dari Akatsuki yang dulu.”

Dengan sebelah tangan, Akatsuki melepas topi yang selalu ia kenakan.

Kemudian ia memandangku tepat di mata dengan wajah yang tidak terhalang apapun.

“Dan juga, terima kasih atas semangat yang Komandan berikan empat bulan lalu. Karena itulah, Akatsuki bisa berdiri di atas panggung dan berubah menjadi lebih kuat lagi.”

Akatsuki mengeluarkan sebuah senyum yang kehangatannya memancar sampai ke dalam hatiku.

Tetapi, aku menolak kehangatan tersebut dengan sebuah kalimat.

“Akatsuki, aku akan tetap meminta maaf kepadamu.”

“Eh…? Mengapa Komandan masih mau meminta maaf soal semangat yang membebaskan Akatsuki dari trauma masa lalu?”

…aku menggelengkan kepalaku.

Karena,

“Itu bukan alasan kenapa aku ingin meminta maaf kepadamu. Setelah melihat tarianmu hari ini aku menyadari satu hal, bahwa seharusnya aku meminta maaf karena aku berusaha meminta maaf kepadamu tentang empat bulan lalu.”

Mata Akatsuki terbelalak mendengar ucapanku, tetapi itu belum semuanya.

“Aku sekarang tahu bahwa kamu adalah gadis yang kuat. Karena itu, tolong maafkan Laksamana ini yang tidak bisa melihat bawahannya sendiri.”

Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar omonganku sendiri.

Tidak menyadari bahwa gadis yang selama ini menjadi sekretarisku bertambah kuat dan tidak membutuhkan permintaan maafku…adalah perbuatan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja.

Tetapi, sebuah suara membuyarkan pikiran tersebut.

“Komandan!”

Sebuah pelukan datang bersama dengan suara, mendekap tubuhku dengan sepenuh tenaga.

“Terima kasih Komandan…karena telah menerima perasaanku.”

“Seharusnya aku yang mengucapkannya, Akatsuki.”

“Tidak! Yang mengirimkan perasaannya hanya Akatsuki! Karena itu yang berterima kasih harus Akatsuki juga!”

Senyum pahit yang sedari tadi menghiasi wajahku berubah menjadi halus.

“Baiklah, Akatsuki. Kalau begitu aku menerima perasaanmu dengan sepenuh hati.”

Aku merasa beruntung diberkati dengan gadis kapal seperti Akatsuki.

Karena bersamanya, aku merasa bahwa apa yang akan kulakukan pasti didukung olehnya.

Jika ada kesempatan kedua untuk berterima kasih kepadanya, maka aku akan mengambil kesempatan tersebut tanpa menunggu lama.

Sementara itu, aku akan menyimpan baik-baik kalimat ini di hatiku.

Terima kasih, Akatsuki.

***
*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Tautan cerita : Under the Vast, Blue Sky -Spring Festival-.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.