BAGIKAN

Tren cerita berpetualang ke dunia lain atau isekai sepertinya masih belum menuju titik jenuhnya. Meskipun sebagian serial novel atau anime dengan genre cerita ini menghadirkan sifat-sifat karakter utama yang cukup umum, seperti otaku dan gamer, anime Tate no Yuusha no Nariagari yang tayang pada musim dingin 2019 ini berhasil menarik perhatian khalayak dunia maya. Anime yang diproduksi oleh studio Kinema Citrus ini diadaptasi dari seri novel ringan karya Aneko Yusagi (cerita) dan Minami Seira (ilustrasi). Lantas, seperti apa animenya?

Dalam anime Tate no Yuusha no Nariagari, Naofumi Iwatani diceritakan terpental ke dunia lain (isekai) dan telah dipilih menjadi satu dari empat pahlawan yang harus menyelamatkan kerajaan Melromarc dari kehancuran. Tetapi, tiga dari empat pahlawan lain yang terpilih memiliki senjata dengan kemampuan ofensif, sementara Naofumi dibekali oleh senjata yang bahkan tidak dapat disebut sebagai senjata, sebuah tameng. Tameng kecil yang dipasang di lengan bagian bawahnya. Bukan tameng dengan pegangan di tengah yang dengan mudah dapat dilempar sebagai sebuah manuver ofensif seperti Captain America. Apa yang Naofumi dapat lakukan hanya menahan dengan tameng kecilnya, tanpa mampu juga untuk memegang senjata karena suatu sistem di dunia isekai yang melarangnya.

@ 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Pada era Medieval, tameng adalah bagian penting untuk pertahan diri selain baju besi. Sering kali, tameng dipegang dengan tangan atau diikat pada bagian lengan. Uniknya, di era Medieval cukup jarang ditemukan tameng yang diikat pada bagian lengan. Ecranche adalah tameng yang sering digunakan dalam jousting, permainan di mana dua penunggang kuda saling mengarahkan tombak yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan. Encranche biasanya terbuat dari kayu dan diikat pada lengan penunggang kuda, sehingga tangan mereka dapat memegang memegang tali kekang dengan bebas.

Penggambaran jousting berdiri pada sebuah manuskrip Alsatian pada sekitar tahun 1420.
Advertisement Inline

Encranche yang termasuk ke dalam small shield, bertujuan khusus untuk pertahanan. Ini berbeda dengan buckler yang memiliki kemampuan lain selain petahanan, dengan kelebihan dalam bermanuver yang lebih leluasa atau bahkan dapat melakukan manuver yang lebih ofensif. Buckler pun memiliki mekanisme yang cukup berbeda, buckler lebih sering dipegang dengan tangan, bersama dengan pegangan pada bagian tengah tameng untuk menghasilkan tangkisan (parry) yang lebih kuat. Tameng dari jenis inilah yang digunakan oleh Naofumi dalam petualangannya di anime Tate no Yuusha no Nariagari.

Atas dasar kemampuannya yang hanya dapat melakukan pertahanan, Naofumi pun dipandang sebelah mata dan hal itu menjadi salah satu poin utama dari petualangan Naofumi Sang Pahlawan Tameng. Karena Naofumi pun tidak dapat melakukan serangan, ini membuat ceritanya menjadi lebih berkembang lagi. Tate no Yuusha no Nariagari pun akhirnya berkembang pada ide tentang “bergantung pada seseorang yang dapat dipercaya”.

Naofumi diceritakan sebagai seseorang yang suka pada game, punya ketertarikan pada wanita, dan menjadi otaku rumahan yang tidak memiliki pekerjaan. Meskipun dia tidak memiliki pekerjaan, atas suatu alasan yang berhubungan dengan adiknya, orang tua Naofumi tetap memberikan uang saku agar Naofumi tetap dapat tinggal di rumah bersama sang adik. Naofumi nampak tidak terganggu dengan kebiasaannya yang bergantung pada orang tuanya demi kepentingan pribadi. Sampai pada titik di mana Naofumi akhirnya harus menghadapi kebiasaannya ini, dia akhirnya sadar akan konsekuensi dalam bergantung pada seseorang.

@ 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Sayangnya bagian awal seri ini dapat dibilang cukup lemah dalam penyampaian ide awal tentang kebergantungan seseorang. Naofumi sendiri nampak bertingkah biasa saja dan tidak merasa bersalah meskipun sering bergantung pada orang tua, maupun pada anggota party-nya. Tapi, dengan kehadiran karakter Mein Sophia yang berkhianat dan memanfaatkan Naofumi, ide utama seri ini menjadi lebih jelas. Naofumi pun akhirnya harus menghadapi konsekuensi dari kebiasaannya dalam bergantung pada seseorang yang belum dapat dipercaya.

Akibat penghianatan Mein pun akhirnya membawa Naofumi pada Raphtalia. Raphtalia awalnya adalah anak kecil setengah hewan atau demi-human/ajin yang Naofumi beli untuk mempercepat perkembangan levelnya. Meskipun dengan statusnya yang sebagai budak, tindakan Naofumi yang memperlakukannya dengan ketulusan membuat Raphtalia jadi sosok yang loyal.

@ 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Eksekusi penceritaan yang sangat baik ditunjukkan saat Naofumi harus menghadapi penindasan yang membuat dia yang harus merelakan Raphtalia karena kalah berduel. Justru di sinilah Raphtalia hadir jadi sosok yang mengawali Naofumi untuk kembali percaya pada seseorang. Sosok Raphtalia yang masih kecil menjadi representasi dari Naofumi yang memandang Raphtalia tidak lebih dari sebuah alat. Sementara Raphtalia yang sudah tumbuh adalah Raphtalia yang sudah loyal dan rela berkorban demi Naofumi. Meskipun pada akhirnya mereka berdua tetap bersama, Naofumi tetap memiliki kekhawatiran akan keloyalan Raphtalia. Musik latar dalam adegan ini sangat bagus dan dihadirkan di saat waktu yang sangat tepat, membuat emosi yang dihadirkan Naofumi dan Raphtalia pun semakin dapat tersampaikan.

@ 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Sejauh bagian awal ini tidak ada yang terlalu mengecewakan dari bagian produksi, lagu penutup “Kimi no Namae” dari Chiai Fujikawa pun benar-benar pas untuk menyokong ide utama seri ini dan juga perasaan dari Raphtalia. Hal yang mengecewakan dari produksinya hanya penyampaian ide utama dan skenario pada episode dua yang terlalu lama pada pendekatan karakter Raphtalia. Pendekatan karakter Raphtalia yang menghadirkan sifat-sifat imut maupun penderitaannya sebagai budak nyaris memakan setengah durasi episode, inti dari episode ini menjadi tidak tepat pada permasalahan utama tentang Raphtalia yang harus menghadapi ketakutan masa lalunya. Tapi, meskipun dengan kelemahan tersebut, cerita anime Tate no Yuusha masih dapat dinikmati dengan amat baik.

Kelanjutan dan kekuatan dari tameng Naofumi juga cukup membuat rasa penasaran. Rasa penasaran yang sama seperti saat menunggu barang ajaib apa yang akan dikeluarkan Doraemon setiap minggu pagi. Semoga seri ini pun tetap dapat menghadirkan rasa penasaran yang sama kepada para penontonnya.

KAORI Nusantara

1 KOMENTAR

  1. Hihi… Semakin penasaran dengan sosok Naofumi yang punya kemampuan dan skill ofensif di episode mendatang…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.