BAGIKAN
©Alexandre S. D. Celibidache/ Sakura Quest Production Commitee

Pernah membayangkan setelah lulus kuliah kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan diri bagi perkembangan kampung asalnya? Mungkin hal itu terdengar nekat dan cukup berani bagi kaum milenial zaman sekarang, apalagi dengan desakan pemenuhan atas kebutuhan dan keinginan yang terus meningkat, serta cenderung menonjolkan kemapanan bagi branding dirinya sendiri. Untuk memulai usaha dengan effort yang besar dan memiliki efek yang luas bagi sekitar, sungguh sangat langka untuk ditempuh oleh anak muda zaman sekarang.

Sama halnya kaum milenial zaman sekarang, sang tokoh utama dari anime Sakura Quest garapan studio P.A. Works adalah seorang fresh graduate yang sudah lama menganggur dan membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun begitu ia enggan untuk kembali ke kampung halamannya, karena pandangan bahwa di kota jauh lebih menjanjikan untuk memenuhi semua ambisinya menjadi seseorang yang mapan dibandingkan hanya bekerja di kampungnya sendiri.

Manoyama ©Alexandre S. D. Celibidache/ Sakura Quest Production Commitee

Adalah sang tokoh utama, Yoshino yang “dinobatkan” menjadi seorang ratu di sebuah kerajaan buatan “Chupakabura” yang menjadi maskot kebangaan kampung halamannya Manoyama, akibat misskomunikasi. Sebagai gambaran, kota Manoyama memiliki pendapatan perkapita yang rendah, serta akses teknologi dan mobilitas transportasi yang masih jarang. Hal itu sesuai dengan yang terjadi di Jepang pada medio 1980 – an, di mana setiap daerah berhak untuk melegitimasi daerahnya sendiri untuk mandiri dan mengembangkan daerahnya melalui serangkaian promosi untuk meningkatkan pendapatan daerahnya.

Advertisement Inline

Dengan penggambaran grafis yang begitu minim akan sebuah infrastruktur pembangunan di Manoyama, tentu saja hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Yoshino. Sebagai seorang lulusan baru dengan segudang pengalaman mengenai perkembangan sosial budaya serta teknologi yang maju di kota Tokyo untuk memajukan desa Manoyama, tentu ini menjadi tugas yang berat.

Turis Banyak Berdatangan Bukan Mnejadi Suatu Pencapaian

Perbedaan usia di desa Manoyama sangat didominasi oleh kaum usia tua yang masih produktif pada sektor pertanian, wisata, dan juga kerajinan tangan. Hal itu menjadi urat nadi perekonomian sebelum kedatangan Yoshino. Pada awalnya Yoshino dibantu oleh Shiori yang memang bekerja sebagai dewan wisata Manoyama. Hal yang berkesan bagi sang karakter utama untuk menetapkan hati menjadi seorang ratu di Manoyama berasal dari kue manju khas Manoyama yang enak dengan bahan baku asli dari warga lokal. Hal itu tentu saja masih belum cukup untuk membuat Manoyama terus maju. Berbagai gagasan telah dilakukan dari mulai promosi di media sosial dan juga menjalin kerja sama dengan produsen film untuk mengunakan sebagian area Manoyama untuk keperluan syuting. Tentu saja hal tersebut dapat meningkatkan atensi warga sekitar dan beberapa turis dari Manoyama untuk berdatangan ke kampung yang didominasi kaum lansia tersebut. Namun beberapa permasalahan terjadi, salah satu nya adalah ketika kue manju yang menjadi makanan khas Manoyama sudah mulai direncanakan untuk diproduksi massal. Tentu saja, hal tersebut mengalami penolakan dari berbagai dewan, termasuk dewan perdagangan yang menolak keras hal tersebut. Hal ini dikarenakan pengunaan anggaran secara berlebihan dan produksi massal manju dapat membunuh sektor pertanian di sekitarnya, karena produksi manju yang besar tentu saja membutuhkan bahan baku yang banyak, dan hal itu tidak dapat disanggupi oleh pertanian desa tersebut. Kedatangan turis pun tergolong besar ketika kedatangan band Ptolemaios. Namun hal itu menimbulkan permasalahan baru yaitu kebutuhan fasilitas turis yang ada di Manoyama sangat minim sekali dan hadirnya sampah begitu banyak setelah konser terjadi. Dan rupanya konser tersebut tidak menimbulkan kesan tersendiri bagi Manoyama sebagai kampung wisata, namun hanya berkesan sebagai tempat nonton konser yang pernah mendatangkan penonton yang besar.

Perbedaan atensi acara festival dan konser musik di Manoyama ©Alexandre S. D. Celibidache/ Sakura Quest Production Commitee

Di berbagai daerah di Indonesia telah mengalami kasus tersebut. Dengan kedatangan banyak turis, tidak dapat menggerakan perekonomian di sekitar daerah tersebut. Hal tersebut dikarenakan masyarakat sekitar tidak menjadi bagian dalam pergerakan perekonomian di daerahnya. Dan kalah bersaing dengan sektor swasta yang bisa memproduksi secara massal dan berkualitas yang sangat dibutuhkan oleh para turis. Sebagai salah satu contohnya yaitu yang terjadi di NTB. NTB sudah terkenal dengan pesona alam pantainya yang sangat indah seperti Lombok, Sengigi dan juga Pulau Gigi yang memiliki pesona yang begitu indah bagi turis lokal dan juga mancanegara. Namun hal tersebut tidak dibarengi oleh kemampuan masyarakat sekitar untuk mengelolah potensi alam tersebut, dan justru kalah dengan parah investor yang menanamkan modal untuk membuat hotel, bar dan juga restoran di daerah tersebut. Meskipun turis banyak berdatangan ke NTB, namun menurut catatan BPS, bahwa NTB tercatat sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan 21,55 % dari seluruh masyakarakat yang terdapat di daerah tersebut.

Etnhobiologi yang Aesthetic

Ethnobiologi adalah studi tentang pengetahuan biologi dari kelompok etnis tertentu yang berhubungan dengan pengetahuan tentang tumbuhan, hewan dan budaya. Ethnobiologi berkembang dari ethnobotany dan ethnozoology (Ford 2001 dan Hunn 2007). Dewasa kini Ethnobiologi dapat dikatakan sebagai kajian studi mengenai interaksi manusia, organisme dan lingkungan sosial yang mempunyai hubungan ketergantungan antar satu sama lain. Hal itu berkaitan erat dengan adat istiadat, mitos dan budaya yang telah mengakar oleh suatu ethnis golongan masyarakat tersebut. Tujuannya dari etnobiologi tersebut adalah untuk memahami makna dari kearifan lokal untuk dapat menjaga keseimbangan alam dan upaya untuk konservasi lingkungan serta menghidupkan kembali eksistensi masyarakat tersebut.

Ririko, Cucu dari Dewan Perdagangan Manoyama yang mengembalikan kembali cerita lokal ©Alexandre S. D. Celibidache/ Sakura Quest Production Commitee

Manoyama dengan kearifan lokalnya sudah menjadi kesatuan utuh yang dipercayai oleh masyarakatnya. Namun hal tersebut tidak terdistribusi secara sempurna oleh para anak muda nya. Sebagai contohnya adalah Anaknya dari Angelica, Erika Suzuki yang berpandangan bahwa Manoyama sebagai daerah yang kuno dan tidak mempunyai prospek ke depannya. Bahkan ia pun tidak tahu menahu mengenai kearifan lokal yang ada di Manoyama dan membandingkannya dengan Harajuku yang sudah jelas perbedaan yang begitu mencolok. Namun saudaranya justru berbanding terbalik dengan dirinya, Anji Suzuki sangat mencintai Manoyama, meskipun ia lebih muda dari Erika, Dia sudah berperan secara aktif bagi kearifan lokal di Manoyama, dengan berperah sebagai pemukul tako di sekolahnya. Selanjutnya ialah dari pada generasi yang lebih tua, yaitu Ririko Oribe, Cucu dari ketua dewan perdagangan. Sebelum datang Yoshino ke Manoyama, Dia seorang yang sangat tertutup di lingkungannya, bahkan hanya untuk keluar rumah dan bersosialisasi selain dari neneknya ia tidak bisa. Namun ia memiliki kesan tersendiri kepada Manoyama, meskipun ia tidak lahir dan besar di Manoyama. Dengan cerita daerah yang selalu didongengkan oleh neneknya yaitu bercerita tentang sesosok naga yang tinggal di suatu gunung yang turun ke daerah Manoyama dan memberkahi daerah tersebut dengan kesuburan dan hasil bumi yang melimpah. Namun ketika musim kemarau datang, hasil bumi semakin turun. Masyarakat merasa kesal dengan sang Naga yang tidak membawa berkah. Pada akhirnya Naga tersebut dibakar dan ditengelamkan di danau. Beberapa waktu berselang kekeringan semakin menjadi. Semua masyarakat merasa bersalah kepada sang naga. Sang naga telah tiada dan hanya meninggalkan roh yang terus bergentayangan. Untuk menghormati roh naga yang bergentayangan, Seluruh masyarakat menyanyikan lagu naga untuk menghidupkan kembali arwah naga tersebut. Pada episode pertengahan Ririko menyanyikan lagu tersebut di acara malam keakraban Manoyama.

Suatu hal yang Aesthetic sangat digemari oleh semua orang. Suatu hal yang orisinal, tidak dibuat – buat dan juga tertanam sebagai suatu identitas yang asli mempunyai karakter yang kuat dibandingkan suatu hal yang dibuat – buat. Sebagai suatu contoh, Manoyama sebetulnya telah gagal dalam branding kerajaan Chupakabura ataupun Kabuya (Nama kerajaan sebelumnya) karena memang tidak memiliki kaitan historis mengenai kearifan lokal di Manoyama, dan sebagai suatu hal yang asing, karena ide dan pemikiran nya berasal dari luar yang dipaksakan ke masyarakat lokal. Sedangan cerita naga tersebut meskipun itu hanya fiksi namun mengambarkan bagaimana Manoyama begitu subur dan makmur serta sejahtera masyarakatnya.

Dari Tokyo untuk Manoyama Lebih Baik ©Alexandre S. D. Celibidache/ Sakura Quest Production Commitee

Jogja, Bandung, Bogor dan juga berbagai daerah lain mempunyai  identitas tersendiri bagi daerahnya. Hal tersebut tentu saja menjadi modal utama untuk meningkatkan potensi budaya serta menerapkan akan pemahaman akan kearifan lokal tersebut. Sehingga dapat dilanjutkan oleh para generasi muda nya. Untuk menerapkan kearifan lokal bukan hanya menghadirkan dalam bentuk pelajaran yang terdapat di setiap jenjang pendidikan. Namun hal tersebut harus diimplementasikan langsung bagi masyarakatnya. Sebagai contoh, Pemkot Bogor telah mengadakan kegiatan Rebo Nyunda, di mana seluruh jajaran ASN Pemkot Bogor wajib untuk mengunakan baju khas sunda serta mengunakan bahasa sunda selama seharian penuh. Hal tersebut bertujuan untuk pelestarian budaya sunda kepada setiap kalangan golongan masyarakat.

Kesimpulan

Manoyama dengan segala kerumitan yang kompleks menjadi suatu hal yang menarik bagi Yoshino dan kawan – kawan untuk terjun langsung untuk memajukan daerah tersebut. Begitupun dengan masyarakat sekitarnya yang sangat membutuhkan adanya suatu gebrakan besar untuk menjaga eksistensi Manoyama sebagai daerah yang asri serta menjanjikan potensi di masa depan. Alur cerita Sakura Quest mungkin tergolong lambat, namun hal tersebut menarik bagi diri saya untuk mempelajari tentang antroplogi masyarakat Manoyama pada umumnya, serta memahami bagaimana membangun sebuah desa dengan tepat tanpa meninggalkan etnobiologi yang terdapat di daerah tersebut. Sama halnya, Bu Risma yang sangat dicintai oleh masyarakat Surabaya. Yoshino pun sangat dicintai oleh masyarkat Manoyama. Keduanya telah memperlihatkan kepada kita bahwa pembangunan daerah dapat dibangun dengan pesat tanpa meninggalkan aspek aspek yang terkandung asli dan dipercayai oleh masyarakat di sekitarnya.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.