BAGIKAN

Jepang merupakan negara yang terkenal akan industri pangan dan pertaniannya. Kemajuan industri negara tidak terlepas dari campur tangan pemerintah itu sendiri. Tidak heran jika pertanian Jepang begitu maju. Pasalnya, pemerintahan Jepang telah menerapkan empat pilar pada sistem pertaniannya salah satu diantaranya adalah Farm Size Expansion. Sebuah kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kepemilikan lahan pertanian untuk setiap keluarga petani dari 4 hektare menjadi 15-20 hektare. Hasil pertanian yang paling tersohor di Jepang adalah beras, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

Tepat pada hari Sabtu, 9 Maret 2019 lalu ada sepasang petani sukses asal Jepang datang ke sebuah desa yang di mana terdapat sebuah pondok modern dengan sistem/pola pertanian Organik Kreatif dan inovatif yang disebut PTSA (Pola Tatanan Sehat dan Amanah). Apa saja yang membuat petani sukses asal Jepang tersebut memilih destinasi wisatanya di desa? Kenapa tidak memilih ke kota besar yang memiliki banyak tempat-tempat yang menarik seperti Jogja misalnya?

Pada kesempatan kali ini salah satu Staff KAORI berhasil mewawancarai seorang Ustad yang menjadi pemandu wisata saat kunjungan tersebut, Ustad. Amam Baharuddin.

Advertisement Inline

Bagaimana bisa Orang Jepang itu sampai ke sini?

“Saya saja surprise, nggak tau juga awalnya. Beliau ke sini itu tanpa undangan kok, Tiba-tiba saja.

Hanya saja. yang membawa mereka ke sini itu memang teman kita orang UKM, dulu juga dia bekerja di Jepang.

Nah yang orang Jepang itu Asalnya Osaka hanya saja dia bekerja di daerah Okinawa, dia bertani di sana. Dia kebetulan petani. Yang cowok petani mangga dan yang cewek petani tembakau di Okinawa.

Yang cowok namanya Tomo-san sedangkan yang cewek Kaya Miyamoto-san. Saya friend di Facebook juga.

Mereka juga gak bisa bahasa Indonesia, nah Translatornya itu temen kita yang dari Patianrowo (Kertosono, Nganjuk Jawa Timur) yang suaminya juga bekerja sebagai translator di Jakarta sana namanya mbak Erika Kartika Sari.

Orang Jepang itu stay di hotel Kertosono.”

Orang Jepang di Desa

Tujuan mereka datang kemari?

“Tujuan mereka sebenarnya hanya jalan-jalan saja. Yang cowok, Tomo-san kan petani mangga, nah dia itu mau mencari varietas mangga yang unggulan, seperti itu. Mereka mampir ke sini (POMOSDA) itu juga ingin cari siapa tau di POMOSDA juga ada mangga unggulan.

katanya beliau mau mencari mangga Kuweni gitu. Tidak hanya di sini, beliau juga melakukan pencarian di Bali.

Beliau cari bijinya saja berhubung di kita (Indonesia) kan ada pembatasan, bahwasanya dari bea cukai itu kan. Jadinya tidak bisa membawa barang dari kita sembarangan untuk orang luar negeri dan sebaliknya akhirnya beliau pakai peloknya. jadi beliau beli buah matang dan dikirim ke sana (Jepang).”

mereka mengamati pola pertanian di POMOSDA

Kebetulan kunjungan mereka bertepatan dengan acara Wayangan. Bagaimana tanggapan mereka?

“Mereka lihat wayangan juga. Tapi sebenarnya di Jepang juga ada kebudayaan seperti wayang begitu, yang juga sakral kan? Karena berkaitan dengan Shinto. Tetapi mereka di sini ya nggak gimana-gimana, cuman sebentar liat wayangnya. Terus kita ke tempat kuliner prasmanan, kita makan bareng-bareng di dalam pondok dan sempat foto-foto juga sama mas-mas Pokja (UPT dalam POMOSDA).”

Mereka mencoba beberapa makanan daerah Indonesia

Tempat-tempat yang dikunjungi?

“Mereka keliling pondok dan paginya ke sini lagi dengan membawa beberapa orang temannya yang dari Indonesia. Mereka keliling pondok mulai jam 10 hingga jam 1 siang.

Tujuan wisatanya ke pondok itu lihat-lihat sayur dan tanaman. Salah satu ahli dari Jepang pernah mengatakan bahwa pertanian kita lebih bagus. yang dalam artian model sederhanapun bisa maksimal. jadi hanya dengan lahan yang simple dan sistem pertanian yang serba simple itu, Kok Iso? (Kok bisa?). Mereka kagum melihat metode tersebut kan rata-rata di kita ini model pertaniannya integrasi. misalkan atasnya polibag bawahnya kolam. Kan itu semua simple, dalam artian siapapun bisa melakukannya.

Mereka melihat sawi yang ukurannya besar-besar di Kalo Argo Kompleks (Greenhouse di POMOSDA), mereka heran dan terkejut. kok bisa ya, kok bisa ya.

Jadi mereka belum pernah menemukan tanah di Indonesia yang bisa seperti itu. Di Jepang juga kan mereka menemukan tanah yang subur, tapi tidak sesubur di sini katanya. Kan Jepang juga memiliki proses integrasi yang bagus juga kan. Baik penelitian tanah, Kandungannya, dsb. di sana kan komplit

Mereka juga ke sini karena ingin menjalin komunikasi dan mendapatkan banyak teman. tapi Tujuan utamanya hanya jalan-jalan saja, yang kata gaulnya Trip.”

kunjungan di Green House

Fakta unik mereka?

“Yang bisa kita tangkap dari mereka itu sopan, humble, Bersosialnya juga bagus. Kalo mau foto-fotonya juga ada, yang artinya dari Foto-fotonya itu bahasa tubuhnya bisa kebaca kan ya.

Cari saja di Facebook saya, beliau juga sering ngeTag dan menandai (Facebook) kami dalam Statusnya. Pertemanannya juga sedikit, beliau jarang buka Facebook. kita tau juga bahwa di Jepang itu kan etos kerjanya luar biasa sehingga membuat mereka tidak sempat pegang hape. Di sana juga persyaratan kerja tidak melalui ijasah, tapi melalui pemantauan etos kerja mereka oleh atasan. Berkepribadian bagus, bersosial juga bagus, dsb. Syaratnya hanya itu saja. Nah itu semua diamati oleh bos kerjanya selama 1 Minggu, jadi tidak mengenakan ijasah begitu dia mengatakan. Ijasah is non sense jadi perilaku dan sikap itu yang utama.

Sebenarnya kita juga menerapkan konsep seperti itu di sini (POMOSDA). Tapi yang melakukan malah mereka karena aturan negara mereka yang mendukung.”

Resep rahasia pertanian di POMOSDA. Pupuk “Manutta”

Dampak positif atas kunjungan tersebut?

“Dampak positif bagi POMOSDA ya kita dapat friendship, kita juga saling bertukar ilmu mengenai pertanian di sana bagaimana di sini juga bagaimana. Kita bisa studi banding meskipun kita tidak datang ke sana kan.”

Pemimpin sekaligus Imam POMOSDA, Bapak Kyai Tanjung.

Akhir kata. Pondok Modern Sumber Daya At-taqwa (POMOSDA) merupakan salah satu instansi pendidikan yang memiliki metode pembelajaran luar biasa. Sebagai salah satu pondok yang memiliki beberapa jenjang pendidikan (SMP,SMA,STT), POMOSDA menerapkan sistem pembelajaran pengembangan diri. Sistem pengembangan diri di sini yang dimaksud ialah, para santri diberi fasilitas penuh sesuai minat bakat yang dimiliki. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari dan disebut ekstra vokasional skill(VS). Ekstra VS di POMOSDA terbilang sangat lengkap, mulai dari pertanian, peternakan, tata boga, perbengkelan, kesenian, dan masih banyak lagi. Pondok ini juga dikenal sebagai pondok hijau atau pesantren hijau.

KAORI Newsline

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.