BAGIKAN
The Rising of the Shield Hero
© 2019 Yusagi Aneko - Media Factory - Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Tate no Yuusha no Nariagari atau The Rise of Shield Hero dapat dikatakan dengan pasti adalah salah satu seri yang cukup menarik perhatian banyak penikmat anime. Lewat arc pertama animenya, mulai dari episode satu sampai empat, Tate no Yuusha berhasil menghadirkan cerita yang dapat membuat penontonnya tergolak mental dan fisik. Kita diperlihatkan bagaimana seorang pahlawan tameng harus menghadapi diskriminasi atas kelemahannya yang tidak dapat melakukan serangan, hanya dapat melakukan pertahanan tanpa perlawanan.

Penonton dengan pasti diarahkan untuk membenci karakter antagonis dan membenci ketiga pahlawan lain. Penonton dibawa untuk mengalami perasaan yang sama dengan Naofumi, berempati pada Naofumi. Tapi, sayangnya hal ini tidak lagi hadir ketika arc pertama selesai.

© 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Memasuki episode lima, cerita mulai menghadapi titik jenuh. Screentime Mein sebagai anatagonis terpenting di seri ini mulai menurun, malah nyaris tidak ada. Tidak ada lagi orang yang siap untuk memberikan rintangan berarti bagi Naofumi dan kawan-kawannya, termasuk burungnya, Filo. Hal ini membuat ceritanya terkesan hanya menjadi selingan tanpa memberikan perkembangan karakter yang signifikan.

Advertisement Inline

Berawal dari sana, saya bersama dengan lingkar pertemanan saya mulai berdiskusi dan bercanda ria maupun melakukan roasting bagaimana Tate no Yuusha mulai berubah menjadi sebuah seri yang cukup mengecewakan.

@ 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Kami sering kali bercanda bagaimana antagonisnya punya role amat penting untuk membuat animenya tetap menarik untuk diikuti, tetapi sayangnya punya penulisan atau pengkarakteran yang cukup buruk dalam perihal motif dari karakter antagonis yang ada. Cukup sulit untuk mengetahui pasti alasan di balik diskriminasi yang dilakukan raja dan bawahannya, atau bahkan kenapa Mein memilih Shield Hero untuk ditipu. Motif uang tentu bukan hal yang dicari oleh seorang putri, Mein pun dapat dengan mudah mendapatkan ketenaran dari Motoyasu dengan statusnya sebagai putri raja. Maka dari itu motif dari antagonis yang ada, benar-benar tidak dapat diketahui atau dijabarkan dengan baik di dalam animenya.

Baca juga:

Winter 2019 Anime: Tate no Yuusha no Nariagari

Kesan Pertama Anime Tate no Yuusha no Nariagari: Kembali Percaya pada Ketulusan Seseorang

Ada lagi hal-hal seperti bagaimana Naofumi bukan lagi seorang Shield Hero, tetapi adalah seorang Flame Thrower Hero. Di mana hal ini menghilangkan esensinya sebagai seseorang yang tidak dapat melakukan perlawanan dan membuat cerita kembali kehilangan rintangan yang berarti. Semua seperti dibuat untuk mempermudah Naofumi. Tapi, hal itu tidak serta merta membuat saya membenci anime Tate no Yuusha, justru saya dibuat merasakan kembali perasaan bahagia seperti menonton Naruto saat kecil dulu. Bersamaan dengan lingkar pertemanan saya yang jadi punya pembahasan jenaka dan hal itu jadi membuat kami lebih sering untuk bercakap dan bercengkrama.

“Oh, hi Mark!” © The Room (2003)

Saya senang dengan mengakui fakta bahwa anime yang terasa mengecewakan justru memberikan kebahagiaan tersendiri yang jarang saya alami. Kebahagian yang sama ketika saya menonton film paracinematic seperti Troll 2 (1990) maupun The Room (2003).

Saya senang ketika melihat Naofumi menggunakan Shield of Rage miliknya atau bahkan saat Naofumi mengeluarkan Iron Maiden dari langit. Saya dibawa kembali menikmati rasa yang sama ketika Naruto berubah ke mode Kyuubi di saat-saat genting dan membalik keadaan lawan dengan cepat.

“Iron Maiden” © 2019 Yusagi Aneko – Media Factory – Tate no Yuusha no Nariagari Production Committee

Salah satu teman saya bahkan berpendapat bagaimana Tate no Yuusha amat sangat Chuuni baginya. Bagaimana Tate no Yuusha menghadirkan sebuah dunia yang lepas dari kenyataan dunia nyata di mana seseorang harus berusaha keras untuk dapat menjadi kuat. Bagaimana Naofumi maupun pahlawan lain harus merapalkan jurus ketika akan menggunakannya. Dan bagi teman saya, itulah yang membuatnya mau mengikuti petualangan Naofumi.

Tate no Yuusha no Nariagari tidak menghadirkan cerita kompleks penuh twist maupun intrik yang digodok habis-habisan sampai matang dengan worldbuilding bikin mindblown. Tate no Yuusha hadir sebagai sebuah karya yang bagi saya mengecewakan karena cerita yang kurang matang, pengkarakteran yang kurang dalam sampai kekuatan seperti Kyuubi di anime Naruto versi Naofumi. Tetapi karna hal itulah, justru saya dapat merasakan kebahagiaan yang jarang saya temui.

KAORI Newsline | Oleh Rizqi Satrio

Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

26 KOMENTAR

  1. Coba diliat dulu sampe season ini selesai, karena motif antagonis diskriminasi dsb itu terungkap di bagian akhir cerita light novel. Episode terkahir kemaren, raja udah ngasih hint kenapa dia benci shield hero n ras setengah binatang “takut kehilangan anggota keluarga lagi”

  2. Gak pernah baca manga atau novelnya gini nih. Alasan raja benci sama Naofumi karena dulu keluarganya diburu sama makhluk demi human. Sejak itu dia benci sama demi human, dan semua orang yang dikenal dekat dengan demihuman. Salah satu contohnya adalah pahlawan perisai. Mein, sebenarnya dia memang suka dengan uang dan ketenaran. Disaat ratu dan adiknya pergi, dia memanfaatkan orang orang untuk mendapatkan semua yang diinginkannya. Buktinya saat Naofumi mendapat modal awal untuk mulai menjadi pahlawan, dia langsung bubar dari grup Motoyatsu (tombak; yang paling terkenal) untuk memanfaatkan Naofumi. Nanti setelah beberapa arc (SPOILER ALERT)

    Mein juga akan memanfaatkan ketiga pahlawan lainnya untuk memenuhi kebutuhannya lagi, sehingga pahlawan lainnya menjadi terpuruk dan mengaktifkan versi senjata kutukannya.

  3. Selesein dulu manganya sampe chapter 40-an aja. Semua motif antagonis di awal dijelasin dengan sangat bagus kok.

    Kecewa sama penulis Kaori Nusantara nih

  4. Menurut saya review yang dijabarkan memang cocok untuk penonton yang hanya mengikuti animenya saja. Bagi penonton anime, alasan Naofumi dibenci masih belum jelas karena kurangnya informasi yang diberikan di dalam animenya. Mungkin dengan adanya penjelajahan Naofumi mencari tahu mengapa keluarga kerajaan begitu membenci tameng, dapat membantu penonton berpendapat dan membuat teori.

    Harapan saya di cour keduanya agar ada perpindahan sudut pandang, dari yang kita mengikuti Naofumi, kita dapat mengikuti Ren, Itsuki, atau bahkan Motoyasu untuk melihat narasi dari sisi mereka juga.

    Kemudian berkomentar kalau para penonton anime belum membaca source materialnya tidak serta merta membuat penonton tiba2 ingin membaca LNnya begitu saja. Adanya adaptasi ini memang untuk mempromosikan source material, namun menurut saya adaptasi ini rada ‘lemah’ dan melewatkan banyak momen petualangan ke3 cast yang bagus untuk diikuti.

  5. Ya…kita tunggu saja di cour 2 mungkin di cour 2 bakal lebih menarik dan gak mengecewakan
    Semoga bisa memperbaiki di cour ke 2

  6. Ga pernah baca komik atau ligt novel jdi gini.. saya yg nonton juga merasa kecewa tapi ga sampai menganggap ini anime yg buruk..tiap orang memang punya pendapat berbeda dengan suatu objek..

  7. Malah bagus bro kaya gitu ceritanya, kalau antagonisnya terus terusan begitu aja apa ga jadi monoton tuh ceritanya, kaya sinetron tv lokal

  8. Haha begini nih lingkaran yg ngaku fans anime yg setengah setengah. Kl da baca novel pasti tau gmn ceritanya. Trs gmn nasib raja n putrinya. Trs MUSUH sesungguhnya para pahlawan.

  9. Sebenarnya motif nya dijelasin saat akhirnya. Saya sudah baca manganya dan penjelasan motifnya dimulai sekitar chapter 30 atau 40-an.

  10. Hadehh kayaknya yg nulis blm pernah baca Manga sama Novelnya ya??
    Emng di awal itu msih kurang memuaskan tapi pas di klimaks bakal sangat menegangkan mulai dari hilangnya tiga pahlawan munculnya pahlawan lain dan sebagainya
    Bahkan gw saranin mnding baca aja manganya biar tau betapa serunya cerita ini

  11. Untuk artikel disini mungkin lebih opini untuk animenya sendiri, tanpa ngelihat manga atau novelnya. Buat penonton animenya aja bisa jadi relevan sih.

  12. Gan, hargai yang membuat opini. Jangan serta merta berkata kasar

    Karena tidak semua yang nonton anime bakalan membaca novel atau manganya

  13. yaa nama’a juga anime berepisode masih ongoing juga, jadi rada bikin penasaran ,klo kita mau ngikutin alur’a sih menurut gw bagus ..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.