Perhelatan Jiyuu Matsuri 2019, atau yang sering kita kenal dengan JiMats, kembali diselenggarakan pada 16-17 November 2019 lalu di Universitas Negeri Jakarta. Acara yang digelar tahunan ini selalu membawa tema yang berbeda di tiap tahunnya. Jika tahun lalu mengusung tema seni dari harajuku dan komik, kini Jiyuu matsuri mengusung tema animasi, yang tentunya saja dalam perhelatan tersebut ada seminar yang membahas ranah animasi. Tidak hanya seminar animasi saja yang membuat acara ini dinantikan oleh para penggemar jejepangan, sebab banyak pertunjukan spektakuler dibalik suksesnya perhelatan Jiyuu Matsuri. Kira-kira seperti apa keseruan acaranya?

Suasana Jiyuu Matsuri pada pembukaan acara

Sejak awal penyelenggaraannya sebagai event skala kampus ataupun sekolahan Jiyuu Matsuri memiliki tradisi tersendiri, yaitu “kebebasan”. Yang dimaksud kebebasan di sini bukan berarti kita boleh bertindak sesuka hati dalam event tersebut, tetapi untuk masuk ke dalam event Jiyuu Matsuri 2019 dari awal tidak dikenakan HTM (harga tiket masuk), alias kalian bisa masuk dan menikmati event ini secara gratis!

Untuk mengganti biaya produksi gelang tiket, para pengunjung yang datang ke di event Jiyuu Matsuri ini ditandai dengan sebuah cap ke tangan pengunjung (atau juga bisa di-cap di pergelangan, lengan, atau di tangan). Bahkan sampai capnya menghilang pun (terkena keringat atau terkena air), para staf Jiyuu Matsuri ini bisa sangat hebat untuk mengingat para pengunjung yang sudah terkena cap atau belum. Jadi, jika Anda sudah terkena cap dan setelah itu capnya terhapus karena keringat, Anda tidak perlu khawatir harus menunggu antrian untuk dicap kembali di tangan, karena para staf ini sudah cukup ahli untuk menghafal wajah pengunjung, dan langsung memperbolehkan Anda masuk kembali ke dalam area event.

Advertisement Inline
Ramainya antusias pengunjung Jiyuu Matsuri di tengah hari.

Setelah membahas tiket masuk, akhirnya kita masuk ke dalam venue event yang disampingnya itu penuh dengan toko-toko merchandise yang berbau anime, dan juga ada beberapa booth yang menjual hasil karya tangannya sendiri. Oh iya, di sana juga kita bisa mencoba beberapa permainan tradisional, seperti salah satunya menangkap ikan layaknya matsuri-matsuri di Jepang.

 

Tidak jauh dari panggung utama yang megah, tepat di samping booth panitia ada booth yang mencuri perhatian saya dibanding booth lainnya. Di dalam booth tersebut, terdapat mini dojo yang menyediakan gim Tekken 7 yang bisa dimainkan oleh para pengunjung, lengkap dengan turnamen kecil-kecilan! Tentunya ini adalah sebuah keunikan tersendiri di dalam event Jiyuu Matsuri 2019, karena baru kali ini ada turnamen Tekken 7. Saya dan rekan KAORI yang juga ikut meliput pun langsung mendaftarkan diri ke dalam turnamen tersebut. Tentu saja itu adalah tindakan naif yang kami lakukan hanya karena terinspirasi oleh pemain Tekken pro seperti Arslan Ash, Knee, dan EyeMusician. Kami pede bahwa kami setidaknya bisa lolos ke ronde selanjutnya. Naasnya, hasil pengalaman bermain Tekken kami yang waktu itu baru genap seminggu tidak bisa dibohongi ketika melawan pemain yang membawa Joystick Arcade, plus memakai kaos tim salah satu tim e-sport fighting game ternama dalam negeri.

jiyuu matsuri 2019
Salah satu staf KAORI Mencoba mengikuti mini turnamen Tekken 7 yang diselenggarakan di Jiyuu Matsuri 2019, dan akhirnya ambyar mengenaskan….

Sambil menangisi kekalahan telak di turnamen tersebut, saya pun melanjuti untuk menjelajahi event ini lebih dalam, sampai saya berhenti di area venue makanan, tampaknya Jsaya perlu mengucapkan ini; “bukan Jiyuu Matsuri jika tidak ada makanan ala Jepang yang bisa disantap.” Yap, ketika saya melihat gurita atau cumi saya tidak tahu jenis hewan tentakel yang dibakar itu, tetapi saya yakin itu adalah cumi raksasa yang lezat jika saya membelinya. Tidak berlama-lama, saya langsung memesan 1 porsi untuk saya sendiri. Hanya dengan merogoh kocek Rp. 35.000, saya bisa mendapatkan 1 kesempatan untuk mencoba cumi bakar itu.

Sambil melihat cumi raksasa itu dibakar secara bergantian, jujur itu membuat saya sangat tergiur. Ketika cumi itu dihidangkan, saya cukup kaget. Ternyata isinya cukup banyak untuk dimakan. Jujur saya dulu pernah membeli cumi bakar seperti ini di sebuah event jejepangan dengan harga yang sama, tetapi isinya sedikit. Saya cukup puas kali ini bisa menyantap 1 porsi cumi raksasa bakar itu dimakan oleh saya sendiri.

Setelah cukup kenyang dari venue makanan, saya kembali ke panggung utama untuk menikmati konten acara yang ada, yang awalnya dimulai dari drama Jiyuu Matsuri 2019 (drama yang dimaksud di sini adalah pertunjukkan drama panggung, bukan “drama” internet ya). Setelah itu ada tarian yosakoi dengan perkusi uniknya, naruko. Setelah itu ada beberapa pertunjukan yang mungkin tidak saya sebutkan semuanya. Tetapi yang paling ditunggu oleh para pengunjung adalah penampilan HENOHENOMOHEJI. Band asal Bandung ini cukup sukses menggoyang 1 lapangan UNJ dengan lagu anime yang sedang hits belakangan ini, contohnya saja Inferno (dinyanyikan oleh Mrs. Green Apple) dari anime Fire Force serta “Gurenge” (dinyanyikan oleh LiSA) dari anime Kimetsu No Yaiba.

Setelah itu penampilan di panggung langsung dilanjut oleh Nanairo Symphony, grup vokal yang sudah eksis di event jejepangan. Ada juga Shojo Complex yang membuat para pengunjung mengangkat lightsticknya kembali. Di akhir acara ada Astro Paper yang membawakan berbagai lagu lagu anime jadul dan ditutup oleh OST Weathering with You/Tenki no Ko. Tentunya penutupan ini dibarengi oleh hanabi atau kembang api yang telah disiapkan oleh staf Jiyuu Matsuri. Hanabi ini, membuat langit malam sungguh bercahaya, menandakan event jejepangan masih eksis sampai saat ini. Tidak, selama masih ada penggemar jejepangan, event jejepangan akan terus eksis mengisi kosongnya hari anda.

Akhir kata, event Jiyuu Matsuri 2019 yang mengusung kebebasan ini, memang membuat kita benar-benar bebas. Nuansa “kebebasan” tersebut memberikan kesan terhadap event ini. Tidak hanya sekedar datang pulang saja, para pengunjung akan mendapatkan rasa kangen terhadap event Jiyuu Matsuri yang akan selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Tetapi sangat disayangkan juga, event tahun ini tidak mengundang DJ Anisong seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai penikmat anikura, saya cukup kecewa tidak bisa melakukan party bersama teman-teman. Tetapi kekecewaaan itu tertutupi dengan beberapa hal yang saya telah paparkan diatas. Saya sendiri selalu berharap tinggi agar event Jiyuu Matsuri ini semakin meriah dan konsep kebebasaanya selalu dilestarikan.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.