Mengenang Kembali Kisah Transportasi Publik Jakarta (Oleh Ramadhan Krisna, Tim Cemplus Newsline)

Bus Volvo B11R milik Steady Safe dengan nomor lambung SAF 072, beroperasi melayani koridor 10 PGC – Tanjung Priok. (Kevin W)

Dalam kurun waktu 10 tahun, Jakarta mengalami perkembangan transportasi yang cukup pesat. Hadirnya dua moda transportasi berbasis rel pada tahun 2019 menambah ragam angkutan publik kebanggaan warga. Apa saja perubahan transportasi publik di Jakarta? Kita mulai pada transportasi publik kebanggaan warga yang pertama. Ya, PT. Transportasi Jakarta, atau yang biasa kita kenal sebagai Transjakarta. Kemunculan transportasi ini telah ada sejak tahun 2004 silam.

Setelah memiliki 8 Koridor pada tahun 2009, Transjakarta membuka Koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit) dan Koridor 10 (PGC 2 – Tanjung Priuk) pada 31 Desember 2010. Kedua Koridor ini memperkuat jaringan Transjakarta.

Begeser ke tahun 2011, tepatnya pada 28 Desember 2011. Transjakarta kembali memperkuat jaringan Koridor dalam kotanya, dengan membuka Transjakarta Koridor 11 (Pulo Gebang – Kampung Melayu), namun pada awal pengoperasiannya Koridor 11 hanya melayani hingga Halte Walikota Jakarta Timur. Sementara Terminal Pulo Gebang baru beroperasi pada 28 Desember 2016.

Advertisement Inline

Kemudian Transjakarta memiliki kado spesial Valentine, karena pada 14 Februari 2013, Transjakarta mengoperasikan Koridor 12 (Pluit – Tanjung Priuk / Sekarang menjadi Penjaringan – Sunter). Pada awal pengoperasiannya, Koridor 12 menggunakan bis gandeng asuhan Bianglala Metropolitan (BMP).

Kemudian pada tahun 2015, Transjakarta merubah status mereka dari Badan Layanan Umum, menjadi Perusahaan Terbuka (PT. Transjakarta) sebagai awal dari perubahan layanan dari Transjakarta.

Pada 2016, Transjakarta mengoperasikan rute rute yang dapat digunakan tanpa naik dari halte BRT. Layanan tersebut merupakan layanan Non BRT. Rute awal yang melayani Non BRT adalah rute 5A (Kampung Melayu – Grogol).

Kemudian Transjakarta memiliki Koridor terbaru mereka pada tahun 2017, dengan menghadirkan Transjakarta Koridor 13. Lain dari biasanya, Koridor 13 merupakan Koridor pertama Transjakarta yang menggunakan jalur layang.

Hingga 2019, Transjakarta telah memiliki penumpang perhari mencapai 998.000 pelanggan, dan memiliki target lebih baik di tahun mendatang.

Jelang 2020 ini, banyak yang telah berubah dari dunia perkeretaapian Indonesia, khususnya area Jabodetabek. Setelah lahirnya PT. Kereta Comutter Jabodetabek (KCJ), banyak gebrakan yang dilakukan oleh PT. KCJ dalam menghadirkan layanan komuter yang terus berkembang hingga saat ini.

Direktur utama KCJ M Nurul Fadhila berkoordinasi dengan petugas di TKP. (KAORI Nusantara / Farouq Adhari)

KCJ sendiri hadir setelah pemisahan layanan komuter di lintas Jabodetabek, gebrakan awal yang dilakukan oleh KCJ adalah penyederhanaan layanan KRL. Awalnya, layanan KRL sendiri lumayan banyak. Seperti KRL Ekonomi, Ekonomi AC, dan beberapa layanan Ekspres yang akhirnya disederhanakan menjadi 5 jalur utama yaitu, Central Line (Bogor-Jakarta Kota), Loop Line (Bogor-Tanah Abang-Jatinegara), Bekasi Line (Bekasi-Jakarta Kota), Tangerang Line (Tangerang-Duri), dan Serpong Line (Serpong-Tanah Abang).

Perlahan lahan, KRL seri Toei 6000 dan seri 103 pun harus afkir setelah digempur oleh KRL seri 205 yang mulai memenuhi lintasan Jabodetabek. Setelah belasan tahun mengabdi, akhirnya mereka harus rela mengakhiri layanan operasinya di Jakarta.

Bahkan saat ini, KCJ yang berubah nama menjadi Kereta Commuter Indonesia (KCI) masih mendatangkan KRL seri 205 dari jalur Musashino. Dengan teknologi VVVF, KRL ini tentunya sangat berbeda dengan seri 205 yang sebelumnya tiba di Indonesia yang menggunakan teknologi rheostatik.

Tak cukup sampai situ, KCJ juga memperbaiki sistem ticketing KRL yang awalnya menggunakan kertas menjadi kartu. Mulai 1 Juli 2013, PT. KCJ memperkenalkan Tiket Single Trip dan Tiket Multi Trip. KCJ juga memperkenalkan tarif progresif. Tentunya hal ini menjadi hal baru bagi perkeretaapian Jabodetabek.

Rute pun berkembang. Tak lama setelah penerapan e-ticketing, Jalur Nambo dan Jalur Tanjung Priok kembali beroperasi, jalur yang lama mati suri itu kembali hidup setelah selesainya elektrifikasi pada jalur Nambo dan revitalisasi Jalur Tanjung Priok. Ekspansi KCI juga merambah area Timur. Bekasi Line pun mengalami perpanjangan rute hingga Stasiun Cikarang. Bahkan jalur Maja diteruskan elektrifikasinya hingga Stasiun Rangkasbitung seperti saat ini.

Selain memiliki Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ/KCI), Jakarta juga memiliki moda transportasi lain yakni Moda Raya Terpadu dan Lintas Raya Terpadu (MRT & LRT) Jakarta.

MRT yang mulai dibangun pada tahun 2013, dan selesai pada 2018. Moda transportasi ini telah memiliki banyak penggunanya. Tercatat hingga akhir tahun 2019, PT. MRT Jakarta telah meraup sejumlah 100.000 penumpang lebih.

Saat ini MRT Jakarta baru melayani rute Lebak Bulus – Bundaran HI. Ke depannya MRT Jakarta akan memperluas layanan hingga seluruh Ibukota Jakarta.

Lain halnya dengan Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta. Proyek transportasi umum yang mulai dibangun pada tahun 2016 ini melayani Stasiun Pegangsaan Dua hingga Stasiun Velodrome. LRT Jakarta yang telah beroperasi sejak 1 Desember 2019 diharapkan mampu menarik minat warga Kelapa Gading untuk menggunakan Transportasi Umum. 

COMIFURO yang Semakin Ramai (Oleh Caesar E.S)

Antrian pengunjung Comifuro 8 yang membludak. (Kevin W)

Bagaimana caranya event comic market yang awalnya adalah event yang hanya menjadi bagian dari Gelar Jepang Universitas Indonesia dan hanya diikuti oleh beberapa circle menjadi event yang kini diisi dengan 500+ partisipan circle?

Berkembangnya Comic Frontier atau Comifuro mungkin menjadi salah satu kejutan terbesar yang terjadi di dunia kreatif lokal pada dekade ini. Comifuro muncul menjadi salah satu event pertama dengan format comic market di Indonesia, membawa angin segar ke skena event Jepang lokal. Bila sebelumnya fans hanya datang sebagai pengunjung, kini mereka juga aktif menjadi pembuat konten di eventnya.

Munculnya Comifuro dan comic market lainnya rasanya tidak lepas dari perkembangan-perkembangan yang terjadi di dekade sebelumnya. Pertama, berkembangnya fandom lokal namun minimnya suplai konten dan merchandise official. Kedua, meningkatnya minat terhadap kreasi konten seperti ilustrasi digital, ditambah kemudahan akses ke tools kreasi bagi kreator seperti laptop/komputer maupun pen tablet, serta semakin tersedianya layanan pembuatan karya, seperti digital printing untuk komik dan art print, atau konveksi untuk pembuatan merchandise seperti gantungan kunci akrilik, & pin.

Ketiga, mungkin karena selama ini belum banyak tersedia kesempatan untuk berinteraksi dengan media yang mereka gemari, tampaknya semangat fandom  dan kreator lokal untuk berkarya memang tidak terbendungi. Ketika muncul kesempatan tersebut dalam bentuk Comifuro, mereka sangat antusias untuk terlibat di dalamnya melalui aktifitas circle, cosplay, atau mengikuti utattemita stage.

Melihat itu semua, berkembangnya Comifuro terasa seperti tidak terhindari. Tetapi kesuksesan Comifuro juga tidak luput dari staf dan penyelenggaranya yang dapat dengan konsisten menghadirkan event ini dua kali setahun. Paling tidak, itu kesan yang saya dapat sebagai partisipan & pengunjung yang tidak pernah absen dari Comifuro. Rasanya tidak banyak event dengan skala sama bahkan lebih besar yang terorganisir sebaik Comifuro- sebuah pencapaian mengingat banyak stafnya terdiri dari volunteer.

Mungkin itulah letak kekuatan Comifuro sebenarnya: sebuah event oleh fans, bagi fans, dan untuk fans. Menyediakan wadah dan panggung untuk fans dan kreator berkumpul dan menunjukkan kemampuan mereka. Hal favorit saya setiap menghadiri Comifuro (selain menjadi ajang silahturahmi antar sesama fans) adalah melihat betapa bertalentanya kreator-kreator lokal, dan betapa gigihnya semangat mereka untuk berkarya. Ketika para kreator dan fans tersebut dikumpulkan di satu tempat, interaksi dan ide-ide unik yang muncul selalu menarik untuk dilihat. Tidak ada event yang sama seperti Comifuro di seluruh dunia, dan itu rasanya patut disyukuri.

Saya lantas berpikir tentang Comiket. Terlintas di kepala saya bahwa mungkin dulu Comiket, event dengan lebih dari 35.000 circle dan 520.000 pengunjung itu, juga pernah seperti Comifuro. Melihat karya teman-teman tiap tahunnya, rasanya mungkin saja kalau seperti halnya kreator-kreator besar dan karya-karya besar mendunia lahir dan dikembangkan di Comiket, karya dan kreator mendunia masa depan berikutnya lahir dari Comifuro.

Melihat bahwa pihak penyelenggara seperti SOZO pun menyadari potensi kreator lokal dengan membuat event seperti Creator’s Super Fest, rasanya masa depan fandom dan industri kreatif lokal ada di tangan yang tepat: para kreator dan fans itu sendiri.

Artikel kilas balik pop culture Jepang satu dekade KAORI Nusantara bagian keempat berlanjut di halaman ketiga.

1 KOMENTAR

  1. Kalau boleh ane tambahin gan:

    1. Perkembangan anime multimedia: Love Live, Bandori, dkk. Pasca K-On sih ni. Termasuk Linked Horizon yg khusus dibuat utk Attack on Titan, atau band mainstream kayak RADWIMPS juga berperan sangat di Your Name.

    2. Dulu Anisong di Jepang dipandang sebelah mata, sekarang malah selalu ada di Oricon dan jadi industri yang gede, bahkan punya acara-acara sendiri di NHK. Konser2 anisong juga semakin wow tiap tahunnya. Sekarang hampir tiap tahun pasti ada aja yg tampil di Kouhaku Uta Gassen.

    3. Kalau di Indonesia ada ini nih: Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) dari KPI yang terbit tahun 2012 yang literali bikin sulit banget anime tayang di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.