Secara garis besar, seseorang yang telah beranjak menuju kedewasan akan merasakan ketertarikan kepada lawan jenis. Tak ayal, layaknya makhluk hidup perlu adanya proses berkembangbiak untuk mempertahankan eksistensi di muka bumi. Dewasa kini, bentuk dari suatu cinta dapat diafirmasi oleh berbagai bentuk bukan hanya sesuatu yang hidup, tetapi juga sesuatu yang dirasa hidup namun hanya sebuah kefanaan.

Cinta adalah bentuk investasi terhadap keseluruhan sumberdaya suatu individu kepada sesuatu yang dicintainya. Waktu, uang, perasaan dan berbagai hal lain akan tercurahkan secara sukarela demi satu tujuan yaitu mendapatkan perasaan dicintai kembali. Megumi Kato, yang boleh saya katakan sebagai seorang waifu yang mature baik secara emosional maupun bersikap, tentu saja banyak yang setuju bila dia dapat dijadikan barometer wanita yang diinginkan oleh mayoritas yang telah menonton Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend (Saenai Heroine no Sodatekata).

Mengenal Lebih Dekat Megumi Kato

Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Maka dari itu, sebelum membahas lebih lanjut, tolong perhatikan secara seksama apa kesan yang telah ditimbulkan setelah melihat gambar ini.

© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Pure, innocent face, wajah tanpa penghakiman kepada orang lain, dan juga cinta damai. Setidaknya hal tersebut yang ada di benak saya ketika pertama kali melihat Megumi Kato untuk pertama kali. Pada perjalanan perannya sendiri, tidak terlihat bahwa dia punya karakter yang spesial dengan berbagai keunggulan dibandingkan dengan teman sejawatnya, Eriri Spencer Sawamura dan Utaha Kasumigaoka. Memang pada season keduanya terlihat bahwa Megumi Kato lebih usefull dibandingkan season sebelumnya. Namun tetap saja dalam perjalanan ceritanya tidak menunjukan bahwa dia lebih unggul dibandingkan dengan yang lain.

Advertisement Inline

Kualitas suara tidak mempengaruhi interaksi antara suatu individu kepada objek virtual. Namun hal itu mempengaruhi tingkat kepercayaan dan persepsi terhadap kesan objek virtual(1). Hal tersebut menjadi penguat bahwa ketika kita memilih objek virtual yang disukai, terkadang justru kesan suara akan lebih melekat kepada penonton dibandingkan dengan detail gambaran dirinya. Persepsi terhadap suatu karakter anime adalah pola yang berulang karena dalam pembentukanya tidak ada suatu yang benar – benar original dalam pengambaran karakternya. Contoh: Ketika membayangkan Eriri dengan karakter tsundere-nya pasti akan mempunyai kesamaan dengan beberapa karakter lain yang telah ditanamkan karakter tsundere. Begitu juga dengan Megumi Kato ini, tidak semua sifat yang dia tunjukan benar – benar murni dari sang kreator, beberapa sifat lain pasti juga diambil dari tokoh lain dengan sedikit modifikasi sehingga dapatlah karakter yang telah tertanam dalam storyboard. Jadi sebetulnya apa yang membuat Megumi Kato menjadi spesial bagi penulis?

Kesan pertama sangat penting dalam menentukan aksi berikutnya. Begitu juga dengan saya ketika melihat Megumi Kato untuk pertama kalinya. Pada awal – awal episode dia hanya karakter sampingan yang ditunjuk sebagai heroine dalam pembuatan game Aki Tomoya. Cara dia menampakkan diri maupun meninggalkan pun tidak dapat dirasakan oleh tokoh lainnya. Meskipun begitu, Aki Tomoya tetap berusaha keras menghidupkan karakter dia agar menjadi Heroine utama yang disukai banyak orang. Saat itu saya mengkritisi hal tersebut, “Buat apa menghidupkan karakter orang yang angin – anginan dan tidak serius dalam pembuat project besar seperti pembuatan game?”. Bukannya hal itu akan menjadi beban bagi tim? dan juga Megumi Kato ini adalah karakter yang teralu sering ditemukan di dunia nyata, seakan memang tidak ditunjukan sebagai tokoh utama yang berkarakter.

Bayangan Megumi Kato dalam Dunia Nyata.

Pernahkah Anda mempunyai kenalan lawan jenis yang sebetulnya menarik namun tidak menonjol dalam kelompok pertemanannya? Ya, itulah Megumi Kato. Seseorang yang Anda sesalkan ketika bertemu kembali di kemudian hari atau ketika acara reuni. Ketika semua orang telah bertransformasi dikarenakan waktu, dia berubah menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Harus diakui iai sebetulnya melewatkan fase pubertas dibandingkan dengan remaja seumurannya. Ketika remaja, dirinya seharusnya mengalami lonjakan untuk eksis dan merasakan nikmatnya masa muda. Pembawaanya yang tenang serta dewasa menyakinkan saya bahwa sebetulnya dia seharusnya berusia sekitar 22 – 25 tahun di mana dia mengalami kematangan emosional dalam bersikap kepada orang lain. Dari beberapa scene di episode animenya, terlihat dia hadir pada waktu yang tepat ketika Aki Tomoya sedang mengalami kebuntuan dan krisis identitas. Tentu saja, intuisi tersebut tidak didapatkan oleh seorang remaja yang mengalami puberitas karena hal itu bertolak belakang dengan dorongan hormon seksual pada masanya, yaitu hormon estrogen dan progesteron untuk perempuan dan hormon testrogen untuk laki – laki(2).

megumi kato saekano
(http://www.weibo.com/sherryken)

Menemukan Kato di dunia nyata mungkin akan sangat terjadi ketika Anda telah beranjak menuju usia dewasa. Hal tersebut dapat disadari ketika perasaan dalam menilai suatu perteman dapat ditinjau dari kualitas, bukan intensitasnya. Memang usia dewasa tidak dapat dijadikan patokan bahwa seseorang telah menjadi dewasa. Namun, dengan pengalaman hidup yang lebih banyak dapat membuat Anda mengerti dan memahami intuisi tersebut untuk dapat diterapkan dalam berhubungan dengan lawan jenis yang sesuai dengan Anda inginkan.

Bayangkan ketika Anda telah berhasil menemukan sosok Megumi Kato di kehidupan nyata, lalu Anda berusaha menyakinkan dia bahwa Anda adalah Aki Tomoya untuknya, saya pastikan secara garis besar wanita tersebut tidak akan tertarik kepada Anda. Lho? Kok bisa? Bukannya seharusnya sebaliknya?. Pada dasarnya sosok Megumi Kato di dalam dunia nyata adalah seseorang yang telah kenyang dengan pengakuan oleh lawan jenis (Apalagi dibarengi dengan perasaan ngarep). Tentu saja, meskipun dia tidak sepopuler dengan teman – temannya, tidak sedikit orang lain memperhatikan keunikan yang terdapat dalam dirinya tersebut. Dia memang tidak akan menolak secara terang – terangan seperti Utaha dan Eriri. Hanya dengan senyuman manis dan penuh perhatian selalu terbuai akan kenyamanan tersebut. Bukankah lebih berbahaya ketika mendekati gebetan yang seperti begitu? Seakan mau tapi belum tentu mau menjalani hubungan dengan kita.

Megumi Kato dalam dunia nyata adalah seorang wanita yang sulit ditebak dalam bertindak, tetapi dapat berkompromi dengan orang lain. Namun, berkompromi dengan orang lain tentu saja akan mengorbankan ego dalam dirinya terhadap orang lain. Apakah itu adalah hal wajar? Wajar dalam batasan tertentu. Dalam penelitian Sandra F. Neurosains dari McMaster University Canada(3), bahwa corpus calossum perempuan dalam keadaan normal mengalami penebalan sebesar ±30% dibandingkan dengan laki – laki dalam proses pertumbuhan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan dalam memahami serta dalam menyingkapi reaksi lawan bicara lebih baik dibandingkan dengan laki – laki. Megumi Kato yang bereaksi secara tidak terduga – duga mungkin saja dapat disadari sebagai suatu kerumitan dalam menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Selayaknya wanita dewasa pada umumnya, terkadang norma sosial telah dituntut sejak dini untuk menempatkan diri sesuai dengan peranan sosial yang telah melekatnya; sebagai seorang anak, teman, kolega, bertetangga, bahkan berperan seorang ibu yang dari semuanya itu menitikberatkan kepada nilai luhur dari generasi sebelumnya(4).

Pengultusan Megumi Kato dalam Kedamaian.

Pengultusan berasal dari kata dasar “Kultus” yang dalam KBBI dapat diartikan penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang, paham, atau benda. Tentu saja hal ini didasari dengan kriteria – kriteria yang membuat apakah dia layak dikultuskan dalam setiap perjalanan hidup seseorang. Harus diakui, perkembangan teknologi saat ini telah berhasil menghidupkan (Seakan dia hidup) sesuatu yang fana, sama halnya seperti Vtuber maupun karakter animasi seperti Megumi Kato yang hidup dalam dunia animasi, berinteraksi dan memberi kesan kepada penonton seakan dia benar – benar hidup(5). Fantasi yang ditimbulkan terhadap kesan yang telah dibuat melahirkan berbagai karya lain seperti doujin, poster, fanart dan lain – lain untuk dapat dinikmati oleh semua orang yang menyukai hal tersebut. Dan bagi para pengemarnya, hal tersebut menambahkan rasa cintanya untuk mengultuskan suatu objek tertentu dalam bentuk pola kecintaan yang abstrak(6).

Dorongan seksual dalam kehidupan bersosial memerlukan interaksi antar dua insan yang saling berinvestasi sumber daya antar satu sama lain, tidak dapat dihindari oleh manusia pada umumnya. Terkesan egois bila menaruh bayangan waifu terhadap orang yang kita sukai karena bayang – bayang waifu lahir dari fantasi seorang kreator, sedangkan dunia nyata adalah suatu kenyataan yang absolut. Meskipun Anda memaksakan secara penampilannya diubah sesuai dengan karakter yang diinginkan, namun kesan yang didapat akan berbeda karena pada hakikatnya seorang manusia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan orang lain, apalagi dengan karakter fiksi seperti Megumi Kato.

View this post on Instagram

Saekano: How to A Raise Boring Girlfirend

A post shared by R Ikhsan Nur Akbar (@ikhsanakbar) on

Pada akhirnya, berusaha untuk tidak memaksakan kepada suatu kefanaan dan juga tetap berdamai dengan kenyataan dalam berusaha adalah kunci dalam pengultusan yang tulus. (dibarengi dengan memantaskan diri menjadi lebih baik lagi untuk mendapatkan Megumi Kato versi saya sendiri).

Referensi

  1. How we trust, perceive, and learn from virtual humans: The influence of voice quality (Erin K.Chiou, Noah L.Schroeder, Scotty D.Craig, 2019)

  2. Idiopathic Precocious Puberty in Girls: Psychiatric Follow-up in Adolescence (ANKE A.EHRHARDTPH.D, HEINO F.L.MEYER-BAHLBURGDR RER, NAT.JENNIFER J.BELLM, D.SUSAN, F.COHENPH, D.JANE M.HEALEYPH, D.ROBERTASTIELM.A, JUDITH F.FELDMANPH, D.AKIRAMORISHIMAM.D, MARIA I.NEWM.D, 1984)

  3. Perbedaan Struktur Otak dan Perilaku Belajar Antara Pria dan Wanita; Eksplanasi dalam Sudut Pandang Neuro Sains dan Filsafat (Jurnal Filsafat Indonesia, M. Syahruddin Amin, 2018)
  4. Gender as a Question of Historical Analysis. (Gender & History, Vol.20 No.3 Boydston, Jeanne, 2008)
  5. Plugged in but not connected: Individuals’ views of and responses to online and in-person ostracism (Kelly B.Filipkowski, Joshua M.Smyth, 2012)

  6. People are experience goods: Improving online dating with virtual dates (Jeana H.Frost, ZoëChance, Michael I.Norton, DanAriely, 2008)

KAORI Newsline

 

3 KOMENTAR

  1. Saya suka baca artikel seperti ini di sini, membuat diri ini bisa mengerti character building seorang yang biasa saja dilingkungannya. Tapi yang lebih penting saya suka Saekano.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.