Perhatian: Ulasan Tsui no Sora Remake ini bersifat personal dan mengandung spoiler

Pada awalnya, Tsui no Sora adalah sebuah novel visual yang dirilis oleh KeroQ pada 27 Agustus 1999. Tsui no Sora sendiri juga merupakan karya debut dari KeroQ, di mana versi Tsui no Sora Remake dirilis pada 25 Desember 2020 yang lalu dalam edisi Subarashiki Hibi 10th Anniversary Special Edition. Tsui no Sora adalah versi lain dari Subarashiki Hibi ~Furenzoku Sonzai~.

Pada waktunya, novel visual ini dijuluki sebagai salah satu dari Sandai Denpa Game(三大電波ゲー厶)atau yang dikenal dengan sebutan 3 Gim Denpa Legendaris bersama dengan Sayonara wo Oshiete dan Jisatsu no Tame no 101 no Houhou. Bagi yang belum tahu, Denpa adalah subgenre dari horror yang pertama kali dipopulerkan oleh novel visual Shizuku karya Leaf pada 1996. Denpa sendiri menggambarkan sebuah kejadian yang dialami oleh segelintir orang, tetapi dengan penyelesaian yang “unik”.

Ada pun Tsui no Sora ini dikerjakan oleh beberapa orang di antaranya, SCA-JI sebagai penulis sekaligus produser, Motoyon sebagai desain karakter sekaligus ilustrasi CG. H.B. Studio, Time Bandit, szak, dan ryo sebagai komposer musik untuk novel visual ini. Terdapat beberapa hal mengenai perbedaan Tsui no Sora versi orisinal dengan remake di antaranya, karakter dalam versi orisinal tidak memiliki suara berbeda dengan versi remake yang menggunakan seiyu untuk karakternya, ilustrasi serta desain karakter yang berbeda antara versi orisinal dengan remake, serta konten cerita dalam versi remake lebih panjang 1,5 kali dibandingkan versi orisinalnya.

Tampilan Tsui no Sora versi original dan Ayana (Ⓒ KeroQ)

Tsui no Sora sendiri menceritakan kisah dari berbagai sudut pandang mengenai kejadian yang akan terjadi pada 20 Juli 1999. Dalam versi orisinalnya, terdapat empat sudut pandang sedangkan versi remakenya terdapat lima sudut pandang cerita. Secara garis besar, Tsui no Sora menceritakan kisah dari Yukito Minakami, seorang yang sangat suka bersantai tetapi dia pintar dan peduli; Kotomi Wakatsuki, osananajimi dari Yukito yang ceria dan punya rasa keadilan tinggi; Zakuro Takashima, seorang gadis pemurung yang memiliki rahasia; dan Takuji Mamiya, seorang pemuda yang mengenalkan dirinya sebagai penyelamat dunia. Bersama dengan empat karakter ini, mereka akan menceritakan apa yang terjadi dengan mereka serta sekeliling mereka dalam menghitung hari hingga 20 Juli 1999, yang menurut sebuah rumor dunia akan berakhir.

Kalau boleh dikatakan novel visual ini cukup mindblowing sama halnya ketika saya memainkan Subarashiki Hibi dahulu. Meskipun secara cerita dan waktu main saya lebih suka Subarashiki Hibi, tetapi Tsui no Sora juga merupakan cerita yang bagus versinya sendiri. Sesuai julukannya, Tsui no Sora terdapat gore dan beberapa hal yang cukup disturbing. Dalam novel visual ini, kita disajikan konsep antara keberadaan sesuatu, hidup yang terberkati atau pun hidup yang terkutuk, kakak adik, penyalamatan, keseharian yang terus menerus, dan akhir dari suatu kisah.

Yukito Minakami (Ⓒ KeroQ)

Yukito yang berharap kesehariannya selalu terus berjalan bersama dengan Kotomi, namun dibalik indahnya kisah Yukito dan Kotomi itu ada juga kisah yang tidak bahagia seperti yang dialami Zakuro, Takuji, dan satu karakter yang membuat saya terpaku, Yasuko Yokoyama. Zakuro yang menjadi gadis pemurung karena keluarganya hancur dan keadaan yang memaksa dia untuk melakukan yang tak pantas, yang akhirnya membuat Zakuro sendiri sudah tidak bisa membedakan antara kenyataan dan ilusi. Hal itu juga terjadi bagi Takuji yang menjadi korban bullying bersama Zakuro. Semua kisah Tsui no Sora dimulai dari Zakuro ketika dia membaca buku ramalan Nostradamus bahwa dunia akan berakhir pada tahun 1999.

Zakuro Takashima (Ⓒ KeroQ)

Ketika saya memasuki sudut pandang Zakuro sendiri yang saya rasakan hanyalah rasa kasihan tetapi kesal, mengenai apa yang dilakukannya hingga mendorong Takuji berubah 180 derajat yang menyebabkan terlibatnya banyak orang dalam insiden 20 Juli 1999 yang disebut juga sebagai Tsui no Sora oleh beberapa karakter. Rumor bahwa pada 20 Juli 1999, yang bermula dari Zakuro tersebut mendorong berbagai orang menjadi takut akan berakhirnya dunia. Dari sinilah menjadi poin menarik karena awal cerita yang menurut saya sederhana tetapi dapat dikembangkan secara epik oleh penulis, yang mana awal rumor ini membuat para karakter seperti Takuji, Yasuko, bahkan Kotomi sendiri mulai tidak bisa membedakan antara kenyataan dan ilusi.

Yasuko Yokoyama (Ⓒ KeroQ)

Penggambaran karakter Yukito sendiri, yang dapat bertahan atas itu semua menjadi nilai plus. Di mana digambarkan bahwa sesuatu yang awalnya tidak akan akan menjadi ada ketika pikiran semua orang menjadi satu, keseharian terus berjalan seperti sedia kala. Kemudian, Zakuro dan Takuji dalam halnya mengenai hidup yang diberkati dan hidup yang terkutuk. Dalam hal ini, kita diberikan hidup tetapi terkadang dalam mencapai suatu tingkat kita harus merasakan kesusahan hingga menyebut hidup menjadi terkutuk, namun jikalau kita melakukan dengan cara yang benar, kita akan mencapai penyelamatan dan akhir bahagia dan sebaliknya. Sedangkan, karakter Yasuko yang menjadi sudut pandang tambahan dalam remake ini menggambarkan bagaimana susahnya untuk mendapatkan penyelamatan itu yang akhirnya melakukan cara yang tidak pantas, kakak adik dalam hubungannya dengan kakaknya Kiyoshi, dan juga rasa cinta adalah ego namun perasaan murni.

Ayana Otonashi a.k.a Best Girl (Ⓒ KeroQ)

Semua bahasan yang ada dalam Tsui no Sora adalah filsafat yang cukup membuat banyak berpikir. Dengan sang penulis juga hadir dalam cerita novel visual ini dalam wujud karakter bernama Ayana Otonashi, seorang gadis yang cukup misterius namun sebagai pemain atau pembaca kita juga dapat memproyeksikan diri kita sebagai Ayana. Ayana sendiri dalam cerita serasa menjadi humor tersendiri ketika cerita menjadi terkesan berat.

Cerita dalam Tsui no Sora ini juga memiliki kelemahan, meskipun aspek yang dibahas serta inti masalah yang menjadi epik. Tetapi, ending dalam setiap sudut pandang yang ada terkesan menggantung, yang membuat pemain menjadi penasaran. Dalam hal lain musik serta ilustrasi menjadi hal yang saya suka. Karena setiap cerita yang ada menjadi sangat pas karena didukungnya musik serta ilustrasi yang berhubungan.

Tsui no Sora Remake adalah sebuah novel visual yang menceritakan antara kenyataan dan ilusi namun di sisi lain ada banyak hal yang dapat dipetik. Apa pun yang terjadi dalam hidup, jalani hidup itu dengan sepenuh hati dan percaya bahwa hidup itu diberkati.

KAORI Nusantara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.