BAGIKAN

p8-beachgomi-a-20140911-870x774Beberapa waktu lalu media sempat dihebohkan dengan perilaku kebersihan suporter timnas Jepang yang memungut sampahnya sendiri saat menonton Piala Dunia 2014 di Brasil. Namun apa yang terjadi bila tidak ada yang mengawasi mereka?

Roberto De Vido, salah satu gaijin (orang asing) yang tinggal di Jepang selama beberapa tahun ini menceritakan hal yang berbeda.

Selama beberapa tahun ia tinggal di Miura Hanto (Semenanjung Miura), menjadi rutinitas harian Vido untuk memunguti sampah yang terhempas ke pantai di depan rumahnya.

Advertisement Inline

Sampahnya bervariasi, mulai dari ribuan botol plastik dari Vietnam, RRT, dan Korea Selatan (walau 99% berasal dari Jepang), alat bantu seksual (tenga), raket tenis, sampai radio kaset dan kaca yang pecah.

Ia menyoroti perilaku orang Jepang yang datang ke pantai dari sekitar Tokyo, yang malas membawa pulang kembali sampahnya.

Pernah sekali ia memergoki beberapa orang yang baru saja usai menyelenggarakan pesta barbekiu dan meninggalkan begitu saja sampah di tempat mereka berpesta. Sontak Vido berteriak dan memarahinya.

“Oi, kalian ngapain?“teriaknya dengan nada membentak. “Mentang-mentang kalian tidak tinggal di sini, lalu kalian bisa enak saja meninggalkan sampah di sini? Dibuang sembarangan ke pepohonan dan tak acuh karena kalian takkan kembali ke sini?”

“Gomen nasai,” orang itu meminta maaf sembari membersihkan sampahnya, di bawah tatapan tajam Vido.

Itu bukan kali pertama ia melihat hal yang sama. Ia selalu melihat hal serupa setiap akhir pekan, pasangan muda yang menggelar pesta di sekitar rumahnya dan meninggalkan sampah sembarangan. Bahkan suatu ketika, ia menemukan panggangan yang dibuang begitu saja.

Kejadian ini membuat Vido berpikir mengenai tata krama dan etika orang Jepang, apakah etika itu hanya berlaku saat di bawah pengawasan saja.

Apakah orang Jepang membawa pulang gomi mereka hanya bila ada yang mengawasinya? Kejadian di semenanjung Miura sepertinya menyatakan demikian.

Banyak hal di Jepang bekerja dengan baik karena adanya tekanan sosial. Namun bila tekanan sosial itu tidak ada, maka jadilah Jepang seperti orang mabuk yang berkeliaran dan tertidur di lantai stasiun kereta. Dan, tentu saja tenga yang berserakan di pantai.

KAORI Newsline | sumber

1 KOMENTAR

  1. Begitulah…

    Yang membedakan Indonesia dan Jepang mungkin…

    ah..

    Beda tipislah…

    Tapi tak seperti di Indonesia..

    Malah kabur..
    :v

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.