rakuen-tsuiho-cover

Pemimpin redaksi KAORI merangkum anime karya Gen Urobutchi ini dalam 700 kata. Simak ulasannya.


Di masa depan, seluruh manusia sudah bertransformasi menjadi anak warnet. Mereka yang meninggalkan kehidupan duniawinya dan berkumpul dalam sebuah warnet di luar angkasa, memungkinkan mereka menikmati indahnya dunia digital (dalam arti sebenarnya.)

Advertisement Inline

Sistem warnet ini dianggap tidak bisa ditembus sampai pada suatu hari, ada orang yang meretas warnet ini dan menyiarkan pesan aneh-aneh. Tentu menjadi sangat berbahaya karena kelangsungan hajat hidup umat manusia bergantung dari warnet ini.

Maka untuk menyelidiki apa yang terjadi sampai-sampai warnet bisa diretas, Angela Balzac bertransformasi menjadi anak remaja berusia 16 tahun (sic) dan mendapat penugasan untuk menyelidiki apa yang terjadi di luar sana. Ia menyelidikinya bersama Dingo, informan terpercaya menurut komunitas warnet namun dengan keunikannya tersendiri. Inilah Nabi Musa dan Nabi Khidir versi masa depan!

Dingo punya cara hidup yang nyentrik: melakukan hal-hal yang tidak terduga dan mengundang banyak pertanyaan dari Angela. Ketika Angela baru saja keluar dari lingkungan warnet, terjadi pembicaraan seperti ini:

“Jadi mana perlengkapan SAO yang kamu pakai,” tanya Dingo.

“Tuh, di pojok sana.”

Beberapa menit kemudian, perangkat itu ditembak dan kini alat tersebut sudah berubah menjadi barang rongsokan bernilai guna.

“Ok, mari kita jual ini di tokokeren biar kita bisa dapat uang sangu.”

Tapi berbeda dengan nabi Khidir, Dingo tidak menunggu untuk memberi penjelasan.

“Nggak ada gunanya kamu pakai alat yang nyambung ke komunitas warnet kalau sekarang saja mereka bisa meretas sistem warnetmu.”

Memasuki kota demi kota, Angela dan Dingo menelurusi gang-gang kecil, bertemu dengan penjahat padang pasir, serta menginvestigasi rekam jejak kejahatan yang tidak termonitor oleh komunitas warnet. Dalam penyelidikan, mereka berdua masih sempat bertukar pikiran mengenai kehidupan di dunia masing-masing.

“Hei Dingo, aku tidak mengerti kenapa kalian para manusia tetap bersikukuh hidup secara kuno di sini dan tidak bergabung ke dunia digital.”

Dingo tidak lantas merespon dan Angela melanjutkan pembicaraannya.

“Kamu tahu nggak sih, dunia digital itu asyik, nggak perlu makan dan minum, kamu bisa beraktivitas dan bersenang-senang sesuka hati. Daripada di sini, harus tidur dan merasa kelelahan.”

Tidak bergeming, Dingo mengelus kepala Angela seraya mengajaknya untuk tidur.

“Sudah, sudah. Ayo tidur. Angin malam bisa bikin kamu masuk angin.”

Setelah melalui berbagai rute yang cukup berliku, akhirnya mereka berdua menemukan tempat persembunyian sang pelaku kejahatan terorganisasi – yang ternyata bukan organisasi teroris sebagaimana yang ditakutkan para komunitas warnet -. Bahkan mereka pun bukan makhluk hidup!

“Jadi, apa motivasimu meretas komunitas warnet dan masuk ke dunia digital?” tanya Dingo.

“Aku hanya ingin mengajak teman-teman di dunia digital untuk move on dari indahnya warnet dan pergi bersamaku mengeksplorasi angkasa,” jawab entitas bukan manusia tetapi berlaku dan berbicara sangat seperti manusia, yang menamai dirinya Frontier Settler.

“Lalu kenapa kamu tidak bilang-bilang sama para op warnet tentang rencanamu?”

“Sebenarnya dulu sekali, proyek ini sudah dicanangkan. Tetapi karena para pemimpinnya malah asyik bertengkar sendiri, jadinya proyek ini tetap dijalankan secara diam-diam.”

“Tapi apa yang kamu lakukan itu melanggar peraturan. “

“Mohon maaf, aku tidak bermaksud mengganggu ketenangan anak warnet. Aku hanya ingin mencari teman perjalanan. Bagiku, tidak boleh mengajak orang pergi dengan cara paksa.”

Angela yang sudah tahu bagaimana bedanya kehidupan di warnet dan di luar warnet pun bersimpati pada Frontier Settler setelah mendengar pengakuannya. Ia melaporkan penemuannya ke para op warnet yang merasa kekuasaannya terancam. Karena perilakunya dianggap nyinyir, Angela pun dihukum dengan cara… di-WinRAR! Lebih mengerikan lagi, para op warnet memutuskan untuk menghancurkan proyek Frontier Settler.

Angela merenung kembali perkataan Dingo yang akhirnya angkat bicara mengapa ia tidak mau hidup sebagai anak warnet.

“Hidup di dunia seperti itu penuh dengan kepalsuan. Kehidupan warnet… adalah panggung sandiwara!”

Dalam kondisi di-WinRAR, Frontier Settler datang kembali untuk menyelamatkan Angela. Sembari membawa kabur Angela keluar dari dunia warnet, ia melancarkan jurus MLM-nya dan masih berusaha mengajak para anak warnet untuk move on bersamanya. Sayang, tidak ada yang mau move on.

Melihat para op warnet telah mengirimkan macan kibornya dengan niat menghancurkan Frontier Settler, maka misi move on ini pun terpaksa diluncurkan lebih cepat. Sementara itu, Angela dan Dingo mempertahankan sekeliling daerah peluncuran.

Lobi terakhir Frontier Settler adalah mengajak Angela untuk ikut. Sayangnya, untuk yang kesekian kalinya, tawaran move on ini ditolak dan dengan penuh ironi, misi ini meluncur tanpa satu orang manusia pun.

Sambil memandang angkasa, Angela pun menghela nafasnya. “Ternyata ini toh rasanya diusir dari warnet.”

KAORI Newsline | oleh Kevin W

60 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.