BAGIKAN

yakuza

Sebanyak 13.000 anggota Yamaguchigumi, kelompok mafia Jepang, Yakuza yang terbesar di Jepang dalam lima tahun terakhir ini menghilang, ke luar dari kelompok tersebut dan tidak jelas lagi keberadaannya.

Dilansir dari Tribunnews.com, berkurangnya jumlah anggota Yakuza akhir-akhir ini banyak dipertanyakan berbagai kalangan di Jepang, baik kalangan pengamat maupun pihak kepolisian, karena punya banyak arti atas menghilangnya para anggota Yakuza tersebut.

Advertisement Inline

“Tiga kelompok besar Yakuza yaitu Yamaguchigumi, Sumiyoshikai dan Inagawakai, dibandingkan tahun lalu jumlah anggotanya kini sudah berkurang dan jumlah tiga kelompok ini saja, hanya 38.500 orang atau berkurang 3.700 orang dibandingkan tahun lalu,” ungkap sumber Tribunnews.com, Sabtu (28/3/2015).

Yamaguchigumi berkurang 2.300 orang, sehingga kini jumlah anggota Yamaguchigumi sebanyak 23.400 orang saja. Lalu Sumiyoshikai berkurang 1.000 orang sehingga jumlah anggotanya kini 8.500 orang dan Inagawakai berkurang 400 orang sehingga jumlah anggotanya kini (per Januari 2015) hanya 6.600 orang.

Lalu jumlah yang banyak tersebut lari ke mana? Mengundurkan dari kelompok Yakuza? Atau hanya berpura-pura saja, sementara bergerak di bawah tanah tak terlihat? Itulah yang jadi pertanyaan banyak pihak.

Sebagian memang benar-benar ashi-arai, mencuci kakinya, ke luar dari kelompok Yakuza dan kembali ke masyarakat berusaha menjadi orang baik. Polisi juga memonitor orang demikian. Namun dalam praktiknya, dibutuhkan lima tahun untuk bisa “dipercaya” benar-benar lepas dari kejahatan seperti yang dilakukan kelompok Yakuza. Setelah itu, memang bersih dari hal-hal negatif, barulah polisi percaya dan menerima dengan baik.

Berkurangnya jumlah anggota karena memang UU Anti Yakuza yang diimplementasikan sangat ketat (revisinya) mulai tahun 2012, benar-benar menyulitkan anggota Yakuza mencari uang. Mereka sulit mendapat penghasilan.

“Dalam lima tahun terakhir ini uang dari kalangan industri kendaraan bermotor Jepang juga mulai seret, mulai sulit diterima kalangan Yakuza karena sangat ketatnya pengawasan pihak kepolisian,” ungkap sumber Tribunnews.com.

Dulu mikajimeryo (uang proteksi) berlimpah diterima Yakuza dari para pengusaha Jepang, terutama dari pihak industri kendaraan bermotor karena keuntungan mereka juga besar. Namun dengan jumlah manusia jauh semakin berkurang, pemasaran kendaraan bermotor jauh semakin sulit, keuntungan juga semakin kecil, uang yang lari ke Yakuza juga semakin sedikit.

Lalu uang masuk Yakuza kini dari mana dan kalangan Yakuza yang menghilang itu lari ke mana?

“Tidak sedikit Yakuza yang lari ke luar negeri cari uang karena jauh lebih mudah, misalnya ke Indonesia, terutama pencucian uang, baik uang asli yang kemudian dirupiahkan lalu diputar di Indonesia, maupun uang palsu yang sangat canggih saat ini sulit dideteksi alat mana pun, dibawa ke Indonesia dirupiahkan, diputar di Indonesia, bersih uang tersebut dan jauh semakin kaya dengan mudah,” lanjut sumber itu lagi.

Pengawasan Yakuza di Indonesia masih sangat lemah dan kerja sama pihak kepolisian Jepang dan Indonesia meskipun sudah ada, namun tampaknya masih sulit mendeteksi kalangan Yakuza yang berkeliaran di Indonesia saat ini dan mendapatkan banyak keuntungan di Indonesia.

KAORI Newsline | Ilustrasi: Crayon Shinchan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.