BAGIKAN

Image00030

Pada 1 April 2015, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) kembali mengoperasikan layanan kereta api penumpang yang kali ini menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) dari stasiun Nambo, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengoperasian pada 1 April ini tidak semudah membalik telapak tangan. Boleh dikatakan sejak awal berdirinya, jalur Nambo yang sehari-harinya terlihat tenang ini sebenarnya punya sejarah penuh dengan intrik dan drama.

Musashino Line-nya Indonesia

Image00001

Ide membuat jalur lingkar luar untuk regional Jabodetabek sebenarnya sudah mengemuka sejak awal 1990. Dalam masterplan yang disusun oleh Departemen Perhubungan (pada masa itu), jalur Nambo masuk dalam rencana pembangunan lingkar luar yang membentang dari stasiun Parung Panjang di barat sampai stasiun Cikarang di bagian timur. Konsep jalur lingkar luar ini mirip dengan jalur Musashino di wilayah Tokyo, Jepang, dan dibangun dengan harapan agar alur kereta barang tidak perlu melewati wilayah ibukota.

Rencana tersebut batal karena krisis ekonomi dan hari ini, rencana pembangunan jalur lingkar luar Parung Panjang – Cikarang dimasukkan dalam masterplan Kementerian Perhubungan dan ditargetkan akan beroperasi pada 2030. Sementara itu, pada tahun 1999 dioperasikanlah KRD relasi stasiun Manggarai – Nambo untuk mengisi kekosongan jalur.

Perjalanan KRD Nambo tidak berlangsung lama. Pada Mei 2006, KRD yang sudah usang dan uzur ini akhirnya terpaksa berhenti beroperasi karena kerusakan mesin. Saat masa operasinya, KRD yang berjalan dalam formasi dua kereta dan dioperasikan oleh Divisi Jabotabek ini selalu penuh sesak. Nasibnya setali tiga uang dengan KRD Sukabumi, ditutup karena merugi, pemasukan tak sebanding dengan pengeluaran operasional, mengingat zaman itu masih banyak penumpang tanpa karcis. Jalur Nambo kembali mati suri.

Revitalisasi 295 Miliar Rupiah

Momen bangkitnya perkeretaapian Indonesia ikut dirasakan jalur ini. Di tengah riuhnya pembangunan jalur ganda Pantura dan revitalisasi KRL Jabodetabek, pada tahun 2012 dimulailah revitalisasi besar-besaran di jalur Nambo. Tiang penyangga kawat listrik aliran atas (LAA) dipasang dan elektrifikasi disiapkan.

Alih-alih segera dilalui KRL, pada 16 Mei 2013 justru kereta api angkutan semen PT Indocement yang mulai beroperasi di jalur ini. Lalu pada 2 Juli 2014, angkutan semen tujuan Banyuwangi pun mulai beroperasi. Lintas Nambo kembali hidup dan pada 2014, bisik-bisik seputar operasi KRL Commuter kembali berhembus. Tetapi lagi-lagi rencana operasi pada tahun 2014 harus tertunda kembali.

Jonan: Jangan Sia-Siakan Investasi Mahal

Image00036

Menurut sumber KAORI yang bekerja di KCJ, pengoperasian jalur Nambo (dan jalur Tanjung Priok) sudah direncanakan sejak awal 2015. Hal ini diperkuat dengan kesiapan KCJ saat diwawancarai KAORI pada 14 Februari 2015.

“Untuk operasi Nambo dan Tanjung Priok, kami siap untuk menjalankan penugasan dari Satker Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.”

KCJ pada prinsipnya hanya perlu menyediakan rangkaian yang siap operasi dan menyiapkan gate tiket elektronik, tegas humas PT KCJ Eva Chairunisa.

Tarik ulur mengenai operasi Nambo sebenarnya hanya tinggal masalah “kapan” karena dalam penyusunan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2015, sudah disiapkan perjalanan untuk jalur Nambo, dengan disiapkannya satu buah loop perjalanan lintas Nambo, hanya saja statusnya masih batal setiap hari. Pun pada tanggal 1-7 Maret 2015, telah dilaksanakan baan vakt (pengenalan lintas Nambo) bagi para masinis KRL.

Sampai H-10, lintas Nambo hampir dipastikan tidak akan beroperasi, sebelum akhirnya KCJ “ditekan” agar Nambo bisa beroperasi tepat pada 1 April. Tekanan yang dirasakan semakin kuat setelah pada 21 Maret, seluruh peralatan tiket elektronik sudah terpasang lengkap di stasiun Cibinong dan Nambo.

00001.Web sosialisasi Nambo & Cibinong 2015-055131b0e3

Perjalanan dengan KRL pun dilakukan pada 30 dan 31 Maret. Perjalanan percobaan (KLB 10864-10953 dan KLB 10866-10955) pada 30 Maret yang sekaligus perjalanan perdana KRL di lintas Citayam-Nambo sepanjang sejarah ini diikuti pula oleh rombongan Kementerian Perhubungan dengan KRL KFW (TS6), sedangkan pada 31 Maret menggunakan KRL JR 205.

Keputusan untuk menjalankan lintas Nambo baru benar-benar diperoleh kira-kira pukul 7 malam. Konsekuensinya, jadwal KRL yang diposting di situs KCJ pun diamandemen dan baru naik muat kira-kira pukul 12 malam dan mencantumkan jadwal operasi lintas Nambo.

Akhirnya, pada 1 April 2015, KRL penumpang pertama di lintas Nambo pun beroperasi. Penantian panjang setelah mati suri selama 9 tahun pun terbayar sudah.

Simak laporan seputar perjalanan perdana KAORI ke lintas Nambo di sini.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

4 KOMENTAR

  1. Ayooo aktifkan Stasiun Setu Bekasi, Nambo s.d Cikarang, Stasiun Blok M mulai 2015 iniiiii agar perekknomian lancar. Akses transportasi apalagi di pinggiran Jakarta adalah pilihan jitu n harus dibangun segera mengingat animo masyarakat akan KRL makin menggunung. Stasiun Nambo s.d Cikarang, apalagi Stasiun Setu Bekasi amat penting dan segera pembangunannya, pasalnya di daerah ini perekonomian masih sulit karena akses transportasinya hanya mengandalkan bis n angkot atau selain kereta rel listrik. Oleh karena itum Pemerintah harus sadar akan percepatan pembangunannya, namun harus memenuhi Go Green, dooong. SALAM MARWA@

  2. Jalur Jakarta Kota – Tanjung Priok yang udah siap jalurnya aja masih mangkrak gak jalan2 juga sampai sekarang….. Apa takut sama intimidasi persaingan sama angkutan roda karet sepanjang jalur itu..??

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.