Menikmati Perjalanan di KRL Jalur Nambo

2

00001.Web sosialisasi Nambo & Cibinong 2015-055131b0e3

Setelah sempat mati suri selama sembilan tahun, pada 1 April 2015 PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) kembali mengoperasikan layanan KRL (kereta listrik) di jalur Nambo.

Advertisement Inline

Dahulu, jalur ini dilayani dengan KRD (kereta diesel) sampai tahun 2006 dan berhenti beroperasi karena kereta yang sudah uzur dan banyak penumpang tidak bertiket. Sekarang jalur ini dilayani KRL Commuter Line yang nyaman, ber-AC, dan tentu saja murah! Cukup dengan Rp2.000, penduduk di daerah Cibinong dan Citeureup kini bisa lebih cepat bepergian menuju Jakarta!

Seperti apa meriahnya KRL jalur Nambo? Simak selengkapnya berikut ini!

Baca juga: sejarah dan drama jelang dioperasikannya KRL jalur Nambo!

Periksa Jadwalnya

IMG-20150401-WA0004

Lantaran baru dibuka, sementara ini hanya ada satu rangkaian KRL yang melayani jalur ini. Sebelumnya jalur ini dipakai untuk angkutan barang semen Indocement saja.

IMG-20150401-WA0008

IMG-20150401-WA0007

IMG-20150401-WA0006

KRL yang berdinas melayani rute Duri – Citayam – Nambo dan sepanjang Citayam – Nambo, KRL hanya berhenti di stasiun Cibinong dan Nambo saja. Dari stasiun Citayam, KRL beroperasi layaknya KRL Commuter Line biasa (begitu pula penuhnya).

Nah pada perjalanan kali ini, KAORI menumpang KA 1838 dan KA 1855 yang berangkat Citayam pukul 15:29 dan tiba di Nambo pukul 15:39, kemudian berangkat kembali pukul 15:57 dan tiba di Citayam pukul 16:20.

Seperti Bukan di Jabodetabek!

krl-tujuan-nambo

KA 1838 yang dinaiki KAORI tiba agak terlambat. Saat kereta diberangkatkan kembali, hujan gerimis membasahi bumi Citayam dan sekitarnya. Menariknya, ada salah satu penumpang yang iseng mencoba untuk turun di stasiun Cibinong. Sehari-hari, ia biasa naik kereta dari stasiun Citayam menuju Tanah Abang dan sangat senang dengan pengoperasian KRL jalur Nambo ini. Andai saja jadwalnya lebih banya, harapnya.

Dengan batas kecepatan maksimum 30 km/jam, KRL berjalan perlahan menyusuri daerah yang keberadaannya terasa asing di tengah ramainya Jabodetabek. Taufik, railfans (penggemar kereta api) yang ikut menaiki kereta menceritakan pada KAORI bahwa hanya di sini orang bisa menikmati pemandangan SD, jembatan, flyover, kompleks pabrik semen, tanjakan, bahkan penjara dalam satu lintas! Sayang, perjalanan melewati wesel yang memisahkan rel Bogor dan Nambo sempat disela kejadian tidak sedap karena ulah bocah yang menimpuk badan kereta dengan batu.

jembatan-pdrg

Melewati jembatan dan sungai Ciliwung, penumpang disuguhkan pemandangan Lembaga Pemasyarakatan Pondok Rajeg. Keberadaannya bagai dungeon, begitu mencolok dengan pos intai yang berdiri cukup tinggi dan terletak di daerah terpencil yang jauh dari mana-mana.

halte-pd-rajeg

Tidak berapa lama, KRL melintasi halte Pondok Rajeg (PDRG), Depok. Halte ini tampak dalam kondisi terbengkalai. Sayang sekali karena apabila diaktifkan, wilayah Pondok Rajeg akan seketika menjadi ramai dengan hadirnya akses angkutan yang lebih cepat dan lebih efisien mengingat saat ini wilayah ini masih agak sulit dijangkau dengan angkutan umum. Persis di samping halte Pondok Rajeg, ada jalan alternatif yang menghubungkan wilayah Depok sampai kota Bogor yang bisa ditempuh apabila Jalan Raya Bogor dirasa terlalu padat.

2 KOMENTAR

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.