“Kesan Pertama”

0

Oleh Shin Muhammad

Rasanya tidak asing lagi bagi sebagian orang yang menonton sebuah seri animasi, untuk membandingkan dengan novel visual, komik, maupun novel ringan karya asal animasi tersebut. Apa yang Anda bayangkan kalau harus menilai adaptasi sebuah karya dengan objektif?

Biasanya akan timbul kesan-kesan “wah kok saya tidak puas”, “kok begini sih model adaptasinya”, dan sederet komentar lain.

Hal yang mirip sebenarnya bisa diperlakukan ke hal apapun yang ada di dunia ini. Bahkan soal idol! Bagaimana orang beragama Islam yang memiliki konsep Tuhan yang satu, sulit menerima doktrin Trinitas ala Kristen, atau bahkan sulit memahami konsep Shinto/Buddha ala Jepang yang praktis tidak mengenal “Tuhan” sebagaimana yang didefinisikan oleh Islam.

Sadar atau tidak sadar, orang akan menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka terima kali pertama. Kalau menonton anime terlebih dahulu, biasanya akan membandingkan “kok di anime A di NR/NV/komik jadi B”. Lalu ada juga yang menjadi beater, yang sudah menamatkan sumber asal, lantas bisa menerka jalan cerita. Setidaknya, bisa membuat moderator yang kena sop iler ngamuk.

Lalu dari sini, mengesampingkan soal idol (konteks adaptasi saja yang dibahas di sini), adalah menilai bagaimana adaptasi yang “bagus”. Seperti apa definisi “bagus” itu, wallahu alam, karena “bagus” menurut orang akan jadi pasal karet yang takkan habis diperdebatkan hingga hari kiamat. De gustibus non est disputandum.

Ada yang merasa senang melihat balon tumpah dalam kadar berlebih di seri animasi Highschool DXD, namun ada pula yang merasa terganggu. Saya merasa terganggu dengan kadar moeblob berlebih dalam seri Upotte! atau Sengoku Collection, dan hanya bisa “waw, ada yang senang beginian rupanya”.

Walau demikian, di balik segala relativitas, selalu ada kemutlakan. Pasti ada satu titik di mana sebuah pernyataan akan disepakati dengan nada yang sama, tidak peduli siapa yang menyatakan. Tetapi kembali kalau kita menyitir kata-kata Foucault, sebuah realita bisa dipahami dengan cara yang sangat berlawanan dan benar dalam saat bersamaan.

Begitu pula dalam menilai sumber asal dan bandingan saat dijadikan sebuah seri animasi. Ada beberapa hal yang harus sangat diperhatikan ketika memberikan sebuah penilaian objektif, dalam hal ini termasuk namun tidak terbatas pada sifat asli media asal yang diadaptasi, panjang dan kedalaman cerita, serta konten yang akan “dijual” saat diadaptasi.

Mari kita ambil sebuah contoh. Saya pernah membaca komentar “adaptasi seri animasi Clannad adalah sampah, kalau dibandingkan dengan Kanon“. Di sini harus diperhatikan bagaimana konten asal Kanon dan Clannad itu dibangun berbentuk novel visual.

Kanon cukup mudah diadaptasi karena plotnya lebih pendek dan lebih linear, dalam artian mengintegrasikan semua karakter utama ke dalam satu seri animasi yang harus mengalir tidak terlampau sulit. Sedangkan pada Clannad, materi awal sudah jauh lebih panjang dari Kanon, plus rute-rute dengan percabangan yang tidak mudah diadaptasikan menjadi animasi yang linear. Faktor seperti ini terkadang luput dari pertimbangan!

Saya membaca novel ringan dan menonton sebagian seri animasi Highschool DXD. Saya menduga judul DXD tidak akan laku kalau hanya dibuat sebagai petualangan belaka. Oleh karena itu, dimasukkanlah balon dalam jumlah banyak (yang membuat saya agak terganggu). Mungkin yang menonton saja (tidak membaca novel ringan seperti saya) akan merasa nyaman-nyaman saja, mungkin seperti Queen’s Blade.

Walau demikian, teori ini karena satu dan lain hal, tidak berlaku untuk K-On!. Saya belum mencari skripsi/paper yang membahas tentang K-On!, namun saya cukup terkejut saat membaca komik empat panel K-On! saat terbit di Indonesia, tentunya karena sudah menonton anime musim pertamanya terlebih dahulu. “Kok bisa komik empat panel sesepele ini, bisa disulap menjadi animasi yang begitu megah, begitu mewah, dengan paduan banyak musik?”

Selain ini, sebenarnya aspek standar lain saat menilai sebuah film tetap berlaku dan bisa diterapkan (mis. sinematografi, kualitas skrip, kualitas finishing, bagaimana eksekusi adegan saat diadaptasi, dll). Budget, studio, bahkan para pemeran yang ada pun bisa dijadikan parameter, meskipun nama besar bukan jaminan hasilnya akan bagus.

Dari sini, diharapkan orang akan mampu menilai sebuah karya adaptasi dengan mendekati objektif. Apakah bagus, atau jelek? Apakah memang bisa lebih baik lagi, atau terpaksa dibuat demikian karena faktor-faktor tertentu?

Sebagus apapun penggemar media asal mengeluh dan berharap, pada akhirnya yang menentukan laku-tidaknya suatu adaptasi adalah mereka yang menonton, yang bisa jadi, baru tahu (atau bahkan tidak peduli) kalau ini seri animasi adaptasi, baik dari novel ringan, novel visual, ataupun komik.

Semoga, fenomena underrated maupun overrated (hal yang seringkali dibumbui rasa fanatisme buta terhadap sebuah seri) yang mendera jagad hiburan bisa diakhiri dengan ini, minimal mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Sumber gambar: http://www.flickr.com/photos/theloveconspiracy/5830818597/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.