BAGIKAN

Membangkitkan Harapan 01: Komunitas itu Besar, Maka Berperilakulah Besar!

Mulai awal September 2012 selama sepuluh minggu, Editoliar KAORI Newsline akan diisi dengan segmen baru Membangkitkan Harapan, segmen yang ditulis dan diasuh langsung oleh Shin Muhammad, dimodel dari segmen serupa yang ditulis oleh seorang menteri saat ini. Sesuai isinya: gantunglah mimpi setinggi langit, namun tidak utopis dan dapat direalisasikan!

Lebaran tahun ini terasa demikian santai bagi saya, namun demikian sibuk dan sekaligus mendebarkan. Sejumlah kesepakatan penting diraih dan saya mendapatkan begitu banyak pembelajaran berharga.

Advertisement Inline

Seorang Dody Kusumanto, “tangan kanan” saya yang memang tidak memiliki posisi segemerlap seorang administrator atau sepopuler seorang Gogon. Keberadaannya patut disyukuri, dan membuat jantung saya berdebar tanpa henti. Olehnya, KAORI yang merupakan forum berkedok anime di obrolan Beranda menjadi forum anime yang benar-benar besar di depan Animation International!

Saat itu hari sudah menjelang pukul dua siang. Saya harus menghadiri negosiasi mahapenting yang demikian santai. Detak jantung lebih kencang dari bel yang ada di lift Cityloft Setiabudi itu. Hingga saya disambut oleh bu Lia dari Animation International.

Betapa terkejutnya saat saya membuka fakta KAORI. Bagaimana citra KAORI yang selama ini saya identikkan dengan komunitas gajes, disulap dengan begitu apiknya oleh bung Dody di hadapan mereka. Negosiasi yang saya kira akan alot, menjadi begitu mudah dan begitu mulus. Setelah berdiskusi, saya begitu senang. Ini kesempatan yang amat berharga!

Setelah Lebaran, tidak begitu banyak persiapan yang dilakukan. Saya juga sibuk bepergian kemana-mana, menangani berbagai urusan di luar KAORI. Namun ada hal hampir mirip yang saya dapatkan saat membuka stand di Tokyopolis.

Di hari pertama dan kedua, Kaorin yang hadir tidak sekedar bermain uno, kiwilyan-oh, maupun kartu capsa semata. Kaorin yang menjadi bagian dari kedok yang membentuk KAORI ini rupanya menyulap citra mereka, menjadi sesuatu yang meyakinkan dan begitu indah dilihat oleh mereka di luar sana. Padahal tidak ada fakta yang didistorsikan dan disembunyikan (kalau melihat topeng Takakazu Abe yang dipakaikan pada pengunjung di stand).

Lihat gaya seorang martinez dan renten yang demikian berbeda saat menghadapi Marwan dan menghadapi para pengunjung stand KAORI. Begitu meyakinkan. Begitu pandai membangun citra tentang KAORI. Bahkan mereka menjelaskan KAORI jauh lebih baik daripada saya sendiri yang menghadapi tamu.

Mari meloncat sedikit ke Acara Ferampokan Ane Indonesia 2012 yang saya hadiri hari Sabtu (1/8) kemarin. Lima puluh ribu rupiah saya habiskan hanya untuk bertemu Kaorin, melihat permainan soku dan capsa, serta mendengarkan keluh kesah dua orang panitia seputar Acara Ferampokan Ane pertama di Indonesia ini.

Begitu banyak keluhan mengenai ketidakberesan dan keganjilan dalam acara ini. Dari semua keluhan di sini, ada satu hal menarik yang saya dapatkan di sini: kekuatan komunitas yang sepertinya dimarginalkan oleh panitia Acara Ferampokan Ane.

Saya (dan sejumlah Kaorin yang datang ke Acara Ferampokan Ane kemarin) tidak menjadikan om-om dari Singapura sebagai alasan utama datang ke acara tersebut. Begitu pula orang-orang yang sempat saya tanyai saat mereka nongkrong-nongkrong di pelataran hall A1 dan A2 kemarin. Mirip-mirip seperti mengapa ada saja orang yang nekat datang ke Java Jazz atau nonton konser SuJu: gengsi!

Gengsi adalah kalau saya bisa membual ke teman-teman yang tidak datang ke Acara Ferampokan Ane maupun Hellofest, sehingga mereka yang tidak datang akan merasa minder, atau minimal merasa iri. Juga kalau mendengar namanya, orang akan memasang ekspektasi tertentu. Saya contohkan Hellofest atau GJUI, maka saya akan mengasosiasikan kedua acara ini dengan suasana “wah, banyak cosplayer, bakal ketemu banyak temen-temen, bakal jadi lautan manusia, banyak jajanan dan jualan menarik!”.

Komunitas, baik yang terstruktur seperti KAORI maupun yang tidak, datang ke acara seperti ini untuk berkumpul, bonus-bonus melihat sesuatu yang beda dari yang lain. Juga untuk melihat hal-hal yang jarang atau tidak ada di acara lain yang biasa didatangi. Itu semua kembali ke raison d’etre masing-masing orang untuk membuang uang mereka ke tiket masuk sebuah acara.

Kembali ke sedikit waruguchi saya dengan seorang panitia di Acara Ferampokan Ane kemarin Sabtu. Ia memberikan konsep tidak sekedar doujin market di mana kita bisa membeli barang-barang kreasi sendiri yang menarik dijual, namun lebih dari itu, sebuah Community fair!

Mari kita tengok Amerika Serikat. Ada beberapa acara, sebut saja Otakon,AnimeFest, dan Project A-Kon. Mereka berawal dari komunitas swadaya yang berinisiatif untuk berkumpul dan membuat acara bersama-sama, awalnya tanpa dukungan dari industri. Perlahan-lahan acara swadaya ini dilirik oleh industri, dan melihat pasar yang terbentang dengan sendirinya, mereka pun dikejar oleh industri dari Jepang.

Bayangkan jika fans anime di Indonesia bisa merasakan pelayanan sebagaimana fans anime di Amerika Serikat, misalnya pengumuman eksklusif rilis seri anime tertentu dalam dub berbahasa lokal. Atau saat korporasi besar meluncurkan produk khusus di Indonesia.

Sedikit kilas balik, acara Hot Event dan Ifest yang dihadiri KAORI sebenarnya adalah acara pembuka KAORI untuk tampil di hadapan publik. Ketua panitianya memang memiliki konsep supaya komunitas bisa berpartisipasi aktif, dan beruntungnya KAORI ditawari untuk ikut ke acara ini.

Banyak celetukan-celetukan gajes yang terlontar saat saya bilang KAORI akan hadir di acara ini. Namun acara tetap harus berjalan, stand tetap harus didirikan, dan banner tetap harus digelar! Acara ini menjadi masukan yang amat berharga untuk stand KAORI yang didirikan selanjutnya, tidak lagi mengandalkan kertas lecek semata.

Semangat seperti KAORI ini yang oleh sang ketua panitia coba untuk diwujudkan. Sehingga suatu hari, acara seperti ini bisa sebesar Otakon!

Ini bukan proses yang terjadi dalam satu-dua tahun, melainkan perlu waktu bertahun-tahun. Di sini kekuatan komunitas begitu penting dan begitu diperhitungkan, alih-alih orang asing yang berlagak seenaknya dan mengambil uang pengunjungnya dengan menjual segelintir nama tertentu.

Bila nama KAORI dalam ukuran segini saja diperhitungkan oleh perusahaan sekelas Animation International, saya amat yakin Jepanglah yang akan tunduk ke komunitas Indonesia, Aya Hirano dan JAM Project-lah yang akan datang ke Indonesia karena melihat kekuatan komunitas di Indonesia. Tentu saja, komunitas yang akan diuntungkan karena ini.

KAORI adalah sebuah entitas besar, bukan sekedar pencitraan saya maupun renten sehingga ia dibesar-besarkan. Kini bagaimana supaya entitas-entitas besar seperti KAORI ini bersatu, supaya komunitas besar dengan beragam kepentingan ini bisa bersatu, agar komunitas menjadi raja, bukan orang yang dirampok.

Bagaimana caranya? Harus ada sebuah acara yang diselenggarakan secara swadaya dengan fokus lebih pada komunitas. Bukan sekedar acara acak dengan sekedar cosplay yang dicampur dengan booth-booth mainan lalu dilabel acara jejepangan. Saya akan bekerja keras untuk hal ini.  

Sehingga di akhir, tidak perlu ada lagi cerita keluhan dan makian karena uang lima puluh ribu rupiah yang dirampok oleh orang asing yang berkedok menjual label acara kelas internasional, dan ternyata hanya dipakai untuk main capsa semata.

BAGIKAN
Artikel sebelumnyaRibuan Orang di Tokyo Memprotes PLTN
Artikel selanjutnyaSelamat Ulang Tahun, Doraemon!
Editor senior di KAORI Nusantara. Menikmati anime dan mengamati perkembangan transportasi Jabodetabek sejak 2007. Jurnalisme adalah kejujuran tanpa rasa takut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.