Apakah Penjualan KMT Selama Ini Tepat Sasaran?

0
Penumpang mengisi dan membeli tiket di Vending Machine tiket KRL Jabodetabek | Foto: Fasubkhanali

Kartu Multi Trip (KMT) merupakan salah satu jenis kartu prabayar isi ulang yang dapat digunakan penumpang sebagai tiket elektronik untuk naik angkutan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek dengan ketentuan saldo minimum (saat ini) Rp11.000,00 dan dapat dipakai untuk berulang kali perjalanan selama nilai saldo dalam kartu masih mencukupi. Kartu tersebut hanya bisa digunakan untuk naik KRL dan dapat diisi ulang di seluruh stasiun KRL di Jabodetabek.

PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) selaku operator KRL Jabodetabek hingga saat ini telah mengeluarkan berbagai jenis dan bentuk KMT. Setiap peluncuran KMT edisi khusus atau tematik biasanya diadakan bersamaan dengan acara bertemakan serupa. Salah satu tujuan dari dihadirkannya jenis dan bentuk KMT yang semakin unik adalah untuk membuat para pengguna Tiket Harian Berjaminan (THB) beralih menggunakan KMT. Namun, disadari atau tidak, apakah penjualan KMT selama ini sudah tepat sasaran?

KCJ sering membuat gelaran unik dan menarik ketika meluncurkan jenis maupun bentuk KMT baru yang siap dijual. Acara-acara seperti peluncuran perdana KMT X-Presi (Custom Edition), Peluncuran bentuk Gelang dan Gantungan Kunci Multi Trip dan beberapa kegiatan tematik lainnya; yang terakhir adalah diluncurkannya KMT tematik Valentine. Berbagai gelaran, terutama acara peluncuran KMT tematik diadakan karena dianggap tepat dan sesuai dengan momen yang sedang berlangsung di hari atau masa tersebut. KCJ mengambil kesempatan ini untuk membuat acara peluncuran dengan harapan meningkatnya jumlah pengguna KMT hasil dari penjualan di gelaran tersebut.

Namun bila diperhatikan dari beberapa perhelatan yang dilaksanakan KCJ berbarengan dengan peluncuran varian terbaru KMT, biasanya yang melakukan pembelian KMT di gelaran-gelaran tersebut justru mereka yang sudah punya atau sudah menggunakan KMT. Padahal, sejatinya tujuan utama KCJ adalah membuat mereka yang masih menggunakan THB untuk beralih ke KMT. Bahkan, ada sebagian orang dari dalam maupun luar negeri yang sengaja membeli KMT tertentu -bahkan hampir semua desain- dalam jumlah banyak untuk kembali dijual ke orang lain.

Meski begitu, bukan berarti disini penulis melarang mereka yang sudah memiliki KMT untuk membeli jenis dan bentuk KMT yang lain, termasuk melarang orang-orang yang membeli KMT dalam jumlah besar untuk alasan lain yang diluar nalar. Tentunya hal itu sah-sah saja. Hanya saja, sepertinya KCJ mulai kehilangan titik fokus tentang tujuan utama mereka. Alhasil, hingga saat ini keadaan tidak terlalu menjadi lebih baik. Minimnya realisasi fokus utama KCJ kepada para pengguna THB justru membuat gelaran-gelaran yang mereka buat cenderung kurang bermanfaat, meski disisi lain acara tersebut berikut penjualan KMT-nya tetap meriah.

Sosialisasi tentang KMT dan gelarannya selama ini hanya difokuskan kepada media sosial. KAORI dan media-media lainnya memang selalu mencoba untuk memberikan informasi tepat dan akurat dimana salah satunya tentang KMT dan gelarannya. Namun, tetap saja media elektronik -termasuk media sosial- ini tidak mampu menjangkau mereka yang masih minim akses ke internet. Staff dan pegawai di KCJ juga terlihat kurang memasarkan KMT secara langsung diluar gelaran yang sedang berlangsung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.