BAGIKAN
Rian Cyd dan Frea Mai, ketika pengumuman pemenang ajang WCS 2016 (sumber: facebook.com/WorldCosplaySubmit)

Meskipun AFAID 2016 sudah berlalu, event pop culture yang memungkinkan masuknya pop culture Jepang seperti cosplay rupanya masih belum selesai. Minggu ini ada Emporium Toys Week di Emporium Pluit yang meet and greet cosplay pada tanggal 22-25 September 2016 dan kompetisi cosplaynya berada pada tanggal 24 September 2016 dengan juri Punipun, Phankness, Zainaru, dan dua juara World Cosplay Summit 2016, Rian CYD dan Frea Mai dan juga Hellofest di JCC, serta minggu depan ada Indonesia Comic Con 2016. Event berderet tersebut entah disadari para penggemar pop culture Jepang atau tidak, namun bagaimana mengontrol fanatisme dan sikapnya terhadap cosplay?

Penulis sangat salut dengan salah satu cosplayer yang enggan penulis sebut namanya, sebagai salah satu barometer cosplay di Indonesia dengan segala prestasi dan pengalamannya sebagai cosplayer, beberapa minggu yang lalu ia bercerita pengalaman bullying fisik di komunitas cosplay yang dialaminya. Salah satu pengalamannya adalah ketika berada dalam event Indonesia Comic Con 2015, atau konvensi komik Indonesia. Sebagai guest lokal untuk acara tersebut, ia ditugaskan membuat dan memakai kostum berdasarkan karakter karya seorang komikus lokal yang mengusung tema dari budaya lokal. Dalam kasus ini, tidak hanya fisik yang dilecehkan oleh pembully, tetapi juga kostum yang ia buat yang notabene berbasis kebudayaan lokal. Itupun kejadiannya di ruang guest di depan para kru dan penerjemah. Pembully tersebut tidak sadar berada di event apa, bahkan ada yang mengatakan “Awful, harusnya pake kostum Love Live seperti yang di Hong Kong”, yang membuat adanya kemungkinan unsur fanatisme dalam pembully-an tersebut, karena menanggap cosplay dengan budaya lokal dianggap awful dan menyatakan bahwa seharusnya memakai kostum Love Live yang notabene produk luar. Kasus tersebut memberi pelajaran bagi kita semua untuk mengontrol fanatisme dan menjaga sikap, terlebih Indonesia Comic Con 2016 digelar akhir pekan ini.

Dari pengalaman tersebut, pelaku pembully-an bisa bukan karena fanatisme namun hanya perilakunya saja yang sudah tidak baik dan juga tidak benar. Seperti faktor yang disengaja oleh seseorang supaya cosplayer tersebut jatuh atau mungkin dari pemikiran pelaku ada yang tidak beres. Di lain sisi bisa juga karena fanatisme, mereka terlalu terbiasa dengan apapun yang sreg dari apa yang difanatikkannya sampai jadi lupa diri, berpikiran sempit, atau bisa karena persaingan sampai bertindak sembrono. Jika kembali terjadi hal serupa, tentu layak dipersoalkan mengingat sudah mengganggu atau merugikan orang lain dan memungkinkan adanya upaya menebar kebencian, yang mampu menggiring opini orang banyak sehingga menimbulkan fitnah.

Meskipun penulis belum pernah bercosplay, penulis membeberkan tips kontrol dasar yang harus dibaca dan dipahami siapapun orangnya terkait cosplay, dari sisi cosplayer, dan dari sisi peminat atau fans cosplayer, dengan tujuan supaya semuanya berada dalam kontrol.

KONTROL DASAR

Perdalam nilai, norma, agama, budaya, dan kearifan lokal yang berlaku

Hal ini menjadi sangat penting sebab (kecuali Anda fans Young Lex dan Awkarin), hal ini masih sangat mendasari apakah yang kita perbuat boleh dilakukan atau malah dilarang, apakah itu bermanfaat atau bermudharat, dan sebagainya, termasuk menyikapinya. Dalam konteks cosplay, hal ini juga yang bisa mendasari apakah kita akan cosplay atau tidak, karakter apa yang tepat untuk cosplay dan bagaimana mengeksekusinya berdasarkan hal tersebut. Hal ini juga bisa mendasari pembatasan tindakan peminat atau fans terhadap cosplayer. Tentu dalam poin ini tidak begitu bisa dijelaskan secara detail karena, terutama agama, itu merupakan persoalan yang pada umumnya masing-masing dan tentunya harus lebih mengenal diri siapa kita terlebih dahulu.

Renungkan niat dan tujuan Anda dalam melakukan aktivitas tersebut

Pikirkan juga manfaat dari aktifitas yang akan Anda lakukan. Ingin mengekspresikan diri? Ingin menjadi social climber? Ingin menjadi artis? Begitupun harus diakui bahwa apapun yang kita lihat secara fisik atau amalan, tidak sepantasnya menilai orang begitu saja karena semua itu bergantung pada niat masing-masing.

Mengakui adanya perbedaan dalam selera serta kelebihan dan kekurangan.

Kapasitas orang dalam aktivitas cosplay itu berbeda-beda, baik fisik dan selera orangnya, kemampuan perform, maupun eksekusi kostumnya dan siapapun kita, itulah yang harus kita pegang, termasuk juga pemahaman peminat atau fans dalam menilai.

Memperhatikan situasi dan kondisi.

Pastikan apa yang kita perbuat sesuai situasi dan kondisinya, baik yang cosplay maupun tidak. Selain itu, dimanapun kita berada, siapapun kita, tetap saling menjaga sikap dan juga etika.

Menjadi diri sendiri

Terakhir, jadilah diri sendiri. Dalam usaha kontrol fanatisme atau sikap mungkin mencakup poin 1-4, namun menjadi diri sendiri adalah kunci bagaimana supaya kita tidak goyah atau tergiring opini orang lain. Orang mau bilang apa selama hati atau prinsip masing-masing menyatakan “sreg”, silahkan ikuti, namun kalau itu bertentangan, sebaiknya ditinggalkan. Termasuk juga waspada terhadap provokator, bangun solidaritas, dan berkompetisi dengan sehat.

Dari Sisi Cosplayer

Mempelajari esensi dan berbagai hal mengenai cosplay

Untuk cosplayer yang lebih awam, sebelum mulai melakukan cosplay, perdalamlah segala aspek dari esensi cosplay itu sendiri, research seperti karakter, akting karakter, background music, sampai segala hal teknis yang berkaitan dengan eksekusi seperti pembuatan kostum, make-up dan sebagainya. Untuk hal yang lebih detailnya, penulis tidak bisa menjelaskan secara detail karena bukan ahli dalam bidangnya, namun untuk mencari tahu, konsultasikan kepada cosplayer yang lebih berpengalaman atau bonafide dengan menghadiri workshop, talkshow, atau menggali literasi melalui berbagai media.

Mempersiapkan diri, termasuk memahami peraturan lomba

Untuk cosplayer yang lebih awam, kalau sudah niat untuk cosplay, persiapkan semuanya dengan baik dan benar. Mulai dari fisik, mental, jaga diri, waktu, barang bawaan, sampai pemahaman semua regulasi ketika dalam kompetisi atau kebijakan dalam event. Penting diingat karena sejumlah event memiliki peraturan yang berbeda dalam pembuatan properti, misalnya untuk barang-barang yang dibuat dari unsur logam.

Juga Saling Mengedukasi

Untuk cosplayer yang sering diundang menjadi guest, sebaiknya sering-sering memberi arahan dan juga terus mengingatkan kepada cosplayer yang lebih awam atau fans. Tidak harus menunggu diundang dalam event, bisa secara personal seperti tutorial, berbagi pengalaman sebagai cosplayer, cara menyikapi bully, dan sebagainya.

Memperhatikan Kualitas Merchandise

Dalam pembuatan merchandise, pastikan produk yang mau dijual semua dalam keadaan proper, seperti fotografi dan kualitas cetakan dalam poster atau photobook. Lebih baik lagi jika menjual merchandise yang fungsinya lebih dari sekedar dilihat, dipajang, atau disimpan.

DARI SISI PEMINAT ATAU FANS

Menghargai Batasan Setiap Orang

Setiap cosplayer memiliki batasannya masing-masing. Jadi bagi peminat atau fans harap menghormati segala batasan yang ada, seperti kalau mau photoshoot harus membeli tiket atau merchandise dengan total transaksi yang telah ditentukan. Termasuk batasan-batasan yang menyangkut privasi dari seorang cosplayer.

Ada manfaatnya?

Pikirkan manfaat dari aktifitas terhadap cosplayer tersebut, termasuk nilai guna barang dari official merchandise cosplayer yang dibeli.

Menjaga Etika dan Etiket

Tetap menjaga sikap dan etika terhadap cosplayer, seperti menghargai perjuangannya, dan juga berikan segala hal yang membangun, baik di dunia nyata maupun media sosial. Tidak etis jika karena cosplayer tidak cocok 100 persen dengan karakternya, lantas beramai-ramai mem-bully apalagi melakukan pelecehan seksual.

Oleh Julfikri Ahmad | Penulis adalah peminat budaya populer yang tertarik untuk memadukan inspirasi dari budaya populer dengan desain industri. Penulis sebelumnya pernah menjadi panelis dalam acara Road to KAORI Expo dengan topik “Mengontrol Fanatisme Pop Culture Jepang untuk Masyarakat Indonesia”.