BAGIKAN
©2017 Taro Hitsuji - Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Comitee

Selamat datang dalam ulasan mingguan untuk seri anime Rokudenashi Majutsu Koushi to Akashic Record. Ini adalah rubrik uji coba. Silakan sampaikan saran dan kritik Anda melalui Halo Kaori (halo@kaorinusantara.or.id) maupun grup #Kaoreaders di Facebook. 

Bapak guru Glenn semakin hebat. Dalam dua episode awal, penonton sudah merasakan bahwa ia adalah orang dengan bakat terpendam karena memangnya orang bodoh macam apa yang mau merekrut lelaki semenjana sebagai guru. Kali ini, pak guru akan menyelamatkan anak didiknya sebagai tugasnya, ing madya mangun karsa.

“Celananya melorot, pak”

Senyum Sistine mengambang setelah terselamatkan dari marabahaya. Pak guru menyadari bahwa sekolah telah dibajak dengan target menculik Rumia, yang diduga memiliki kemampuan khusus. Mengingatkan kita akan pembajakan sekolah Beslan di Rusia, sekelompok teroris menyatroni dan menyandera seluruh murid-murid di sekolah.

Tetapi raut muka Sistine masih memerah. Ia merasa khawatir melihat pak guru. Bagaimana tidak, celananya melorot; salah-salah ia bisa diringkus seperti seorang pedofil.

Pak guru menelepon profesor Celica yang sedang mengikuti rapat dinas. Dalam kepasrahan, Sistine menangis, menyadari apa makna kata bapak guru yang menyebut kekuatan sihir tidak ada gunanya. Ternyata, memang penyesalan selalu datang terlambat.

Pak guru mengetahui niat suci Sistine. Ia yang telah makan asam garam kehidupan sebagai anak berandal menghiburnya, mengatakan Rumia belajar sihir agar dirinya bermanfaat bagi orang lain. Namun sang antagonis menertawakan janji pak guru untuk menyelamatkan Rumia.

Muncul pasukan tengkorak yang didatangkan untuk mengejar pak guru. Lantaran terlalu rajin meminum susu, pak guru membutuhkan dorongan Sistine untuk menggebuknya. Mereka berlari sampai pada satu titik, pak guru meminta Sistine menyiapkan support. Salah satu ilmu pamungkasnya, Cahaya Pemusnah, berhasil menggodam para tengkorak.

“Ada 70% kemungkinan kamu tidak menangkap apa yang kumaksud”

Pak guru menyadari ia memaksakan diri. Mukanya berubah mengkelabu. Maka bertemulah ia dengan sang bos kawanan teroris itu. Singkat kata, diajak berduel.

Pak guru sadar dirinya tidak mampu melawannya sendirian dan Sistine terlalu lemah untuk mendukungnya. Tanpa aba-aba, ia melempar Sistine dari gedung bertingkat (untung saja tidak cedera tulang pas jatuh). Pada kesempatan terakhir, bum! Sistine kembali, pak guru menembakkan, dan jatuh!

Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, pak guru mulai merenung mengapa ia menerima tugas sebagai guru. Ia selalu berharap untuk menjadi pembela kebenaran. Meninggalkan Sistie yang kelelahan, pak guru bergegas mencari Rumia.

Rumia disandera oleh kawanan teroris, yang memperingatkan bahwa dirinya telah dilindungi oleh sihir khusus yang didesain untuk meledak jika ia terbunuh. Mau tak mau, pak guru harus membuka lima lapis perlindungannya, dengan darahnya sendiri.

Senyum tulus Rumia membuat para penonton terenyuh. Di lapis terakhir, Rumia menembus pertahanan, memberi support tulus pada pak guru yang membuatnya berhasil menyelesaikan tugasnya. Setelah masalah selesai, pak guru menyelesaikannya dengan pukulan ajaib (yang lagi-lagi tanpa sihir.)

Lanjutkan!

Episode ketiga Rokudenashi semakin menarik untuk ditonton. Kita bisa menantikan seperti apa selanjutnya perkembangan hubungan antara tiga anak didiknya bersama pak guru. Tetapi lebih dari sisi cerita, eksekusi adegan per adegannya lah yang membuat penonton terhibur. Setelah episode ketiga, minimal pasti timbul rasa yang spesial antara melihat Sistine yang imut atau Rumia yang begitu tulus.

Momen-momen Terbaik Rokudenashi Majutsu Kōshi to Akashic Records Episode 3

©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee
©2017 Taro Hitsuji – Kurone Mishima/Kadokawa Publishing/Rokudenashi Production Commitee