BAGIKAN
©2016 Kancolle Movie Production Commitee

reon

Saya mengingat saat beberapa tahun lalu Kantai Collection sedang naik daun. Begitu pula komunitasnya yang sedang tumbuh dengan pesat dan eksis di hampir tiap kota besar di Indonesia. Memainkan “kapal-kapalan” saat itu terasa addicting, terutama saat harus cemas apakah kapal kita bisa selamat sampai akhir event atau tidak.

Tak terasa sudah dua tahun berlalu sejak animenya tayang. Sulit mengangkat sebuah cerita yang bisa dinikmati oleh orang awam dari game ini (yang notabene tidak punya story mode), tetapi demi karakter-karakter cantik, animenya pun tayang, dan sempat dituding sebagai glorifikasi masa lalu militer Jepang. Sayang nafas Kancolle sudah tidak lagi di puncaknya, dan melihat sendiri film ini di bioskop membuat saya bergumam apa yang hendak ditawarkan oleh Kancolle.

Hanya orang-orang tertentu yang mau membaca War and Peace-nya Tolstoy, sehingga saat adaptasinya dirilis oleh BBC awal tahun lalu, episode 1-nya mengandung pengantar singkat yang langsung membawa asumsi penonton sampai untuk menikmati ceritanya. Film Kancolle mengasumsikan penontonnya telah menonton animenya, telah memainkan gamenya dalam waktu tidak terlalu lama, dan menuntut penontonnya untuk familiar dengan dunia Kancolle, membuatnya sulit ditonton bahkan oleh orang yang pernah mendengar nama Kancolle.

Fubuki, karakter primadona dalam game-nya, berada dalam suatu pulau bersama dengan kapal-kapal berwujud manusia (kanmusu). Mereka bertempur melawan armada dasar laut (Abyssal Fleet). Setelah serangan berhasil, mereka menemui Kisaragi, yang diceritakan hilang di akhir animenya, mengambang di atas permukaan air. Kisaragi mengalami fenomena aneh setelah tertangkap musuh dan perlahan-lahan, tubuhnya menjelma menjadi Abyssal Fleet. Tak hanya itu, permukaan air di dekat pangkalan mereka berubah warna menjadi merah dan merusak peralatan setiap kanmusu yang melintas di atasnya.

Jalan cerita yang tidak mudah dipahami ini menjadi Achilles Heel animenya. Transisi adegan demi adegan dari anime yang dikerjakan Diomedea ini pun terasa kasar, seolah antara satu adegan ke adegan lain adalah fragmen yang terpisah dan menjadi kontinyu hanya karena berada di dalam satu film. Penyutradaraan yang seharusnya berhasil merangkai berbagai premis-premis kecil yang bertebaran dalam anime ini justru terasa aneh. Mengapa Kaga “selek” dengan Zuikaku? Apa hubungannya dengan masa lalunya? Bisa dipahami bahwa Kancolle memiliki banyak karakter dan fans-nya berharap karakter kesukaannya bisa mendapatkan waktu tayang. Tetapi sebagai sebuah film, Kancolle terlalu banyak mengangkat karakter. Bahkan penonton tidak tahu kalau Fubuki adalah karakter sentral dalam cerita ini sampai pertengahan cerita!

Film ini hampir jatuh seperti film Love Live (yang sukses membuat orang yang tidak suka Love Live tertidur lelap menontonnya), namun tiba-tiba muncul Third Impact ala Evangelion jelang akhir cerita. Terlepas dari Abyssal Fleet yang tiba-tiba mendapatkan cerita baru, eksekusi Third Impact ini juga terasa janggal. Penganimasian dan musik latar yang diberikan tidak mampu menghadirkan suasana gelap yang hendak dimunculkan.

Film Kancolle mungkin berhasil di Jepang atau bila dipertunjukkan di kalangan diehard-nya. Tetapi eksekusinya yang buruk membuat film ini begitu sulit untuk dicintai, bahkan oleh orang yang pernah mencintai Kancolle. Celakanya, ada fans berat Kancolle yang nyeletuk merasa rugi membayar empat puluh ribu untuk menonton film ini!

Positif

  • Kualitas penganimasian saat tempur yang bagus
  • Bagi yang (masih) aktif memainkan game-nya, akan senang dengan banyaknya trope karakter yang dimunculkan lebih jelas dalam film ini

Negatif

  • Terlalu banyak karakter membuat film ini gamang hendak memberi fokus ke mana
  • Penyutradaraan yang monoton, jalan ceritanya tidak jelas sampai pertengahan filmnya
  • Di bioskop Indonesia, film ini tayang dengan rasio 16:9, seolah menonton di layar televisi

Yang Disayangkan

  • Kecuali Anda menyukai Kancolle sampai taraf maniak, sangat sulit untuk mengapresiasi film ini.

Kancolle the Movie tayang mulai 5 Juli 2017 di jaringan bioskop CGV Blitz, Cinemaxx, dan sejumlah cabang Platinum Cineplex.

KAORI Newsline | oleh Kevin W