BAGIKAN

reon

Selamat datang dalam Unik Dunia, rubrik yang menghadirkan tulisan-tulisan mengenai anime dari penulis-penulis internasional. Rubrik ini adalah rubrik uji coba. Silakan sampaikan saran dan kritik Anda melalui Halo Kaori (halo@kaorinusantara.or.id) maupun grup #Kaoreaders di Facebook.

Dalam edisi kali ini kami menghadirkan esai JekoJeko dari blog Unnecessary Exclamation Mark! mengenai karakter “trap.” Penulis berargumen bahwa untuk memahami karakter “trap” dalam anime dan manga, baik penggemar maupun kritik sama-sama harus memahami dan mengingat bahwa karakter tersebut hanyalah khayalan fiksi yang tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan kaum transgender dan transseksual di dunia nyata. Jika hal tersebut dapat disepakati bersama, barulah kita dapat mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan menarik mengenai seksualitas melalui kegemaran terhadap karakter “trap.” Kami berharap terjemahan esai ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang berminat mempelajari lebih lanjut mengenai isu gender dan seksualitas dalam anime dan manga.

Sebuah acara bertajuk CoxCon yang diadakan di Inggris bulan Juli 2017 lalu menuai kontroversi karena salah satu guest meminta agar seorang pengunjungnya diusir. Sebabnya? Pada sesi tanya jawab dalam satu diskusi di acara tersebut, pengunjung itu bertanya “apakah trap itu gay?” padahal acara tersebut diikuti oleh banyak pengunjung dari kalangan trans. Menyikapi insiden itu, di satu sisi ada yang berpendapat pertanyaan itu hanya meme internet yang tidak merugikan siapa-siapa, dan seharusnya kaum trans yang belajar memahami konteks perbincangan “trap” di internet. Di sisi lain, ada juga yang berpendapat pertanyaan itu sangat menyinggung perasaan, dan siapa pun yang tidak setuju harus mempelajari konteks sejarah kekerasan yang dialami oleh kaum trans.

Secara pribadi saya bisa bersimpati dengan kedua sikap tersebut. Di satu sisi konsep “trap” yang berkembang di internet memang merupakan fantasi yang tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan kaum trans di dunia nyata, dan kritik dari kalangan trans sering melupakan bahwa dalam ruang fantasi, seseorang bisa memainkan pola pikir yang berbeda dari kehidupan di dunia nyata. Tapi di sisi lain, para pembela meme “trap” sendiri sering tidak menunjukkan kepekaan dan kepedulian untuk memahami isu-isu kaum trans. Ruang fantasi mereka justru jadi menanamkan asumsi bahwa kaum trans sendiri tidak lebih dari sekedar “bermain-main.” Akibatnya para penggemar ini malah mewajarkan ujaran kebencian terhadap kaum trans melalui lawakan transfobik, bukannya memperlakukan mereka dengan belas kasih sebagai kaum yang termarjinalkan.

© Shimoku Kio · Kodansha / Genshiken Nidaime Production Committee

Yang perlu diperhatikan sekarang adalah masih sedikitnya diskusi kritis mengenai karakter “trap” dalam media kekinian, khususnya di kalangan penggemar anime. Padahal dalam dunia anime, tidak sulit untuk melihat betapa kreatifnya kreator-kreator Jepang dalam memperlakukan gender. Misalnya dalam ranah hentai, kita dapat menemukan karakter futanari yang memadukan kenikmatan perempuan dengan kelamin lelaki; menyatukan objek “yang dilihat” dan subjek “yang menjadi” dalam satu tubuh. Pada lingkup yang lebih luas, karakter “trap” memainkan peran yang sama dalam mencampurkan penanda-penanda gender yang berbeda pada satu sosok. Kehadiran karakter tersebut kemudian memicu pertanyaan-pertanyaan mengenai seksualitas karakter “trap” itu sendiri dan seksualitas orang yang “menyukai” karakter seperti itu.

Jawaban bagi debat tak berkesudahan ini – “apakah trap itu gay,” dan “apakah menyukai karakter trap itu berarti gay” – terletak pada pertanyaan itu sendiri.

Halaman selanjutnya: “trap” sebagai fiksi

1 KOMENTAR