BAGIKAN
Desain rangkaian KA MRT Jakarta
Desain rangkaian KA MRT Jakarta

PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta), operator kereta bawah tanah DKI Jakarta terus menerus menyampaikan progres terbarunya dalam proyek pembangunan MRT Jakarta. Pada kesempatan ini, MRT Jakarta menyampaikan informasi terkini tentang progres konstruksi, armada serta perekrutan staff dalam kegiatan Forum Jurnalistik dan Blogger yang dihelat pada Selasa (28/11) lalu. Ketiga poin tadi menjadi tema utama pembahasan dalam forum yang rutin digelar MRT Jakarta tersebut.

Kemajuan proses konstruksi yang saat ini dikerjakan oleh MRT Jakarta secara keseluruhan telah mencapai 86,17 persen per 26 November 2017. Pada pembangunan seksi jalur layang (Elevated Section) sepanjang Lebak Bulus hingga Senayan telah mencapai 78,37 persen, sedangkan pada seksi jalur bawah tanah (Underground Section) dari Senayan hingga Bundaran HI telah mencapai 93,95 persen. Direktur Utama (Dirut) MRT Jakarta, William Sabandar menyampaikan bahwa pada akhir bulan Desember 2017 diperkirakan progres konstruksi secara keseluruhan akan mencapai 90 hingga 91 persen.

Pada seksi jalur layang, sedikit mengalami kelambatan di area konstruksi stasiun Haji Nawi yang sebelumnya bermasalah pada pembebasan lahan. Untuk seksi jalur bawah tanah, akses pintu masuk pengguna jasa ke beberapa stasiun bawah tanah telah selesai. Selain itu, pekerjaan untuk detail interior stasiun dan pekerjaan lainnya juga sudah dimulai.

MRT Jakarta menargetkan untuk melakukan Integration Test & Commissioning mulai bulan Agustus 2018 mendatang. Pada Desember 2018 hingga Februari 2019, akan dilakukan uji coba operasional dan akan mulai beroperasi secara komersial pada bulan Maret 2019.

Willy, sapaan akrab Dirut MRT Jakarta juga menyampaikan bahwa armada kereta (rolling stock) untuk MRT Jakarta telah siap dan akan datang pada bulan Maret 2018. Pengiriman armada MRT Jakarta akan dilakukan secara bertahap, yaitu 1 rangkaian (trainset) per 2 minggu. Sebelumnya, rangkaian-rangkaian kereta MRT Jakarta tersebut akan mulai diuji coba dinamis di Jepang pada 18 Desember 2017.

Baca Juga: Siap-Siap, Uji Coba MRT Jakarta Akan Dilaksanakan Tahun 2018 Mendatang!

MRT Jakarta akan menggunakan armada Kereta Rel Listrik (KRL) dengan formasi 6 kereta per rangkaian (trainset). Berformasi 4 kereta penggerak dan 2 kereta gandengan (4M2T), kereta gandengan sendiri hanya terletak pada kereta berkabin masinis.

Untuk kapasitas angkut, pada kereta dengan kabin masinis, daya angkut penumpang lebih sedikit dari kereta tanpa kabin manisis. Pada kereta tanpa kabin masinis, daya angkut keretanya 54 penumpang duduk, sedangkan untuk kereta dengan kabin masinis dapat mengangkut 45 penumpang duduk. Pada saat pengoperasian, 1 rangkaian KRL MRT Jakarta memiliki daya angkut sebanyak 1200 hingga 1900 penumpang. Angka tersebut dihitung dari standar jumlah penumpang untuk tiap ruang seluas 1 m2 yaitu sebanyak 8 penumpang/m2.

MRT Jakarta akan mempersiapkan 16 rangkaian KRL MRT Jakarta, dengan rincian 14 rangkaian beroperasi dan 2 rangkaian cadangan setiap harinya. Setiap kereta MRT Jakarta bernilai sekitar Rp15 Miliar per unit. Jika ditotal, harga KRL MRT Jakarta bernilai Rp90 Miliar per rangkaian.

Saat nanti armada KRL MRT Jakarta mulai tiba, seluruh rangkaian akan disimpan terlebih dahulu di Depo MRT Lebak Bulus hingga perlahan-lahan dapat diuji coba secara dinamis secara bertahap.

Dirut MRT Jakarta William Sabandar sedang mempresentasikan terkait kemajuan proyek | Foto: Fasubkhanali

Berkaitan dengan formasi KRL MRT Jakarta, stasiun MRT yang saat ini dibuat telah didesain untuk mengakomodasi rangkaian yang panjangnya sampai 8 kereta per rangkaian. Hal ini berarti tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu akan dilakukan perombakan jumlah kereta per rangkaian seperti yang dilakukan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), pada saat dibutuhkan.

Pengoperasian MRT Jakarta termasuk dalam Grade of Automatic (GoA), tingkat 2 dimana pengoperasian KRL dilakukan secara semi otomatis. Pengoperasian KRL MRT Jakarta secara bertahap akan dilakukan secara otomatis melalui OCC, tanpa meninggalkan peran masinis. Ketika sistem otomasi tersebut dijalankan, Peran masinis dalam pengoperasian MRT Jakarta nantinya hanya sebatas pada buka-tutup pintu saat proses naik-turun penumpang di stasiun. Jika dalam keadaan darurat dimana OCC tidak dapat mengoperasikan KRL secara otomatis, masinis dapat mengambil langkah untuk mengoperasikan KRL secara manual.

Untuk persiapan keterampilan masinis, untuk para masinis muda telah melakukan pendidikan di Madiun dan selanjutnya akan dikirim ke Malaysia untuk belajar operasional kereta otomatis pada Desember 2017. Sebelumnya, MRT Jakarta telah mengirim 2 gelombang kegiatan training untuk para masinis senior yang sudah cukup ahli mengemudikan kereta secara manual untuk belajar mengoperasikan kereta otomatis.

Informasi lain yang juga disampaikan oleh MRT Jakarta pada kesempatan ini terkait tarif dan perkiraan groundbreaking untuk jalur MRT fase 2 dari Bundaran HI hingga Kampung Bandan. Untuk tarif, MRT menyatakan kalau hingga saat ini masih menggunakan perhitungan lama yaitu Rp17.000 hingga Rp20.000 sekali jalan. Tarif tersebut merupakan tarif operasional dari MRT Jakarta untuk tiap penumpang. Namun, tarif yang nantinya dibebankan penumpang dapat berubah sesuai dengan jumlah subsidi yang mungkin nanti diberikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan, untuk groundbreaking jalur MRT fase 2 rute Bundaran HI – Kampung Bandan rencananya akan dimulai pada akhir 2018 mendatang.

Cemplus Newsline by KAORI