BAGIKAN

Cerbung Di Atas Batas Langit Dari Cakrawala Bumi Yang Biru Ini, karya Kamisama

cerbung_12

BAB 1. Dunia yang Terbalut Warna Biru

Hari ke 12.812 — atau tahun ke 35 dan 29 hari sejak Bumi ini mulai tenggelam ke dalam permukaan laut yang terus naik. Setidaknya itu yang mereka ajarkan padaku. Aku baru dilahirkan 18 tahun lalu, tidak cukup umurku untuk tahu bagaimana semua ini terjadi. Hari -1, ya, Hari Minus Satu, adalah apa yang mereka namakan dengan sebutan Aquapocalypse; sebuah event penting yang mendefinisikan ulang keberadaan kita di muka bumi. Tidak ada yang ingat dengan pasti tahun berapa saat kami mereset angka di kalender kami, yang aku tahu, hari -1 adalah hari terakhir sebelum menandai mencairnya es-es di kutub terdingin di Bumi hingga meningkatkan tingginya permukaan laut hingga duaratus limapuluh persen.

Bukan berarti pendahuluku tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya, mereka sudah mencoba untuk menambal atmosfir bumi menggunakan zat-zat kimia untuk mendinginkan temperatur bumi, tapi hanya di awal. Bertahun-tahun kemudian, rencana mereka berakibat buruk, bumi yang tadinya berhasil didinginkan mendadak berubah panas bahkan sampai menghasilkan radiasi berbahaya yang mengakibatkan lebih cepatnya es kutub mencair. Hingga akhirnya memicu event Hari Minus Satu; Aquapocalypse.

Tapi namanya juga manusia, tidak ada yang mau cuma duduk diam menanti umatnya untuk punah, mereka mencari cara lain untuk bertahan hidup. Dibangunlah Aquapolis; peradaban bawah air. Kali ini, mereka tidak main-main, mereka memperhitungkan segalanya dengan seksama. Seumur hidupku, aku bertahan hidup dengan ancaman radiasi mematikan di atas kepala, ancaman mati remuk akibat tekanan air di bawah kaki, dan ancaman monster laut di depan mata. Tapi berkat peradaban bawah air ini, umat manusia berhasil bertahan. Aquapolis adalah bahtera Nuh di zamanku. Di seluruh dunia, ada empat Aquapolis, Arcadia di benua Amerika, Elysium di benua Eropa, New Babylon di benua Afrika, dan tempat kelahiran dan tempat aku hidup: Canaan di benua Asia.

“Oy, Rain. Jangan bengong!” Sebuah suara keluar dari komunikatorku.

“Aku tidak bengong, Dan.” Jawabku sambil sibuk meluruskan kabel-kabel di tanganku.

Saat ini aku sedang bekerja di luar Canaan, setiap harinya banyak aktivitas di luar gerbangnya, tapi tidak ada yang cukup gila untuk berkeluaran di luar dinding kaca selain kami; para militer.

“Aku tahu kalau kamu lagi bengong.” Suara Dan keluar lagi. “Lagi mikirin apa, sih?”

“Sudah aku bilang, gak ada.”

“Kamu sendiri gimana? Gimana kabel di tempat kamu” Aku balik tanya.

“Masih seperti biasa. Kabelnya dimakan berangas.”

“Di sini juga sama.”

“Pekerjaan yang sedang ditugaskan padaku adalah jenis yang paling berbahaya, memperbaiki sistem deteksi sonar dan sistem komunikasi eksternal di luar dinding utara kota.

“Aku hampir selesai.” Laporku pada Dan, sebenarnya aku bukan ingin serius laporan, cuma ingin dia tahu gimana rasanya diganggu saat sedang serius bekerja.

Dia tidak membalas, mungkin dia tahu maksud sebenarnya di balik laporanku tadi. Setidaknya aku senang bisa bekerja dengan tenang sekarang. Kabel-kabel ini paling butuh perhatian dibanding perangkat keras lainnya, meskipun kabel-kabel ini dibalut karet tebal, gelombang listriknya paling sering menarik binatang-binatang kecil. Setiap empat hari, para enjiner ditugaskan untuk memeriksa kondisi kabel-kabel ini. Kabel-kabel ini juga tidak bisa ditaruh di bawah tanah, karena sering adanya gempa tektonik, jadi akhir kata, lebih aman kalau kabel ini ditaruh di atas tanah.

Satu-satunya suara yang bisa aku dengar adalah suara generator oksigen melepaskan karbon dioksida dan menarik masuk air laut yang nantinya akan difotosintesiskan secara artifisial. Suara ini sudah tidak menggangguku lagi, tapi terkadang aku takut karena sudah terbiasa dengan suara ini, karena itu berarti aku sendiri kurang waspada.

“Rain?”

Dan memanggilku lagi, tapi karena dia terlalu sering memanggilku dengan pesan yang tidak penting, aku melewatkan suaranya yang bernada cemas.

“Apa?”

“Aku sedang sembunyi.” Suaranya semakin mengecil, aku tahu jika Dan bicara dengan nada selemah ini, ada sesuatu yang tidak beres.

“Ada apa?”

“Pesce, kelas D.”

“Pesce adalah istilah yang digunakan untuk menyebut ikan air dalam, kebanyakan bukan ancaman, karena itu kami mengelompokkan mereka ke dalam beberapa kelas, dari kelas E ke kelas A. Untuk menggolongkan Pesce kelas E, ikannya harus berukuran lebih dari tiga meter panjang. Kelas D untuk ikan karnivora berukuran lebih dari lima meter, misalnya ikan hiu. Kelas C untuk ikan karnivora yang lebih dari sepuluh meter, contohnya ikan hiu putih atau ikan paus. Kelas B untuk ikan karnivora yang lebih dari duapuluh meter dan memiliki kemampuan khusus seperti beracun. Dan kelas A adalah kelas khusus untuk predator yang lebih dari tigapuluh meter.

Kelas-kelas ini tidak hanya berlaku untuk ikan, tapi juga ular laut, vertebrata, dan invertebrata. Sejauh ini, mahluk terbesar yang pernah aku saksikan sendiri adalah serpent (ular laut) kelas C. Sementara mahluk terbesar yang pernah menyerang Canaan adalah ular laut kelas B sepanjang duapuluh delapan meter yang juga menewaskan ayahku tiga tahun lalu. Mahluk laut kelas E sampai C bisa menyerang sampai puluhan kali setiap harinya, Tapi kelas yang lebih berbahaya seperti B dan A itu sangat jarang, alasannya karena mahluk seperti itu tinggal di kedalaman yang lebih dalam.

“Kau bisa panggil bantuan?” Jawabku ke Dan.

“Gimana bisa? Kabel komunikasi masih kita betulkan.”

“…” Sesaat aku terdiam. “Berapa banyak ancamannya?”

“Aku Cuma lihat tiga. Entah kalau lebih.” Lapor Dan. “Kalau kamu bantu, kita bisa habisi mereka.”

“Oke, tunggu aku.”

Aku tinggalkan kabel yang sudah nyaris selesai kubersihkan dan kunyalakan Anti-Pressure Mobility Suit atau baju navigasi dan anti tekananku untuk menuju ke tempat Dan. Bajuku ini menggunakan turbin di punggung dan di telapak kaki yang dikendalikan lewat telapak tangan. Untuk bergerak maju atau mundur, aku hanya perlu menggerakkan jari saat tanganku lurus di sisi badanku. Satu sisi tangan mengendalikan turbin untuk sisi tangan yang sama, misalnya tangan kananku sedang lurus di sisi kanan badanku dan aku lipat jari jempol dan telunjukku ke dalam, turbin punggung dan kakiku akan mendorongku maju.

Seharusnya Dan tidak terlalu jauh, kira-kira limapuluh meter di balik bebatuan dari tempatku sekarang. Aku ikuti kabel-kabel sampai akhirnya kabel-kabel itu berbelok ke sebuah bukit batu. Tepat sebelum aku berbelok, aku melihat ada tiga hiu putih sedang berenang, mereka tahu ada mahluk lain yang bisa dimangsa di sekitar sana. Aku sudah kenal Dan cukup lama, dia bisa menang kalau melawan dua hiu putih, tapi tidak kalau tiga.

Aku keluarkan pistolku dari kantung di paha kananku dan mempersiapkan diri untuk pertarungan yang akan segera kuhadapi.

“Dan?” Aku hubungi Dan lewat komunikatorku.

“”Ya? Kau sudah sampai?”

“Aku sudah dekat, bilang kalau kau siap.”

“Tiga?”

Setiap kali dia menakhiri kalimatnya dengan nada tanya, maknanya tidak pernah retoris, dia akan langsung melakukan apapun itu yang dia pertanyakan. Karena itulah aku tidak pernah menjawab ajakannya, kecuali kali ini.

“Tiga.” Jawabku.

“Dua.”

Dia bahkan tidak merepotkan diri mengulangi hitung mundurnya, dia hanya melanjutkan jawabanku yang bukan hitungan.

“Satu.”

“Nol!” Kami selesaikan hitungan kami dalam hati, menandakan kami harus keluar dari tempat persembunyian dan mulai menembak.

Aku tembak hiu yang paling dekat denganku secara refleks meskipun hiu itu tidak sedang melihatku. Kutarik pelatuk pistolku dan pistolku itu menembakkan sebiji peluru, bukan peluru timah panas yang dulu dipakai peradaban lama. Di sini kami menggunakan pistol ranjau tempel. Tembakanku mengenai insang kanan ikan tadi, pelurunya sendiri memang tidak cukup fatal untuk melukai siapapun. Pistol ini sendiri bahkan tidak efektif jika ditembakkan dari jarak dekat, karena pelurunya menerima terlalu banyak gesekan dengan tekanan air saat ditembakkan. Sebenarnya ada juga senjata yang lebih kuat dari pistol ini, tapi enjiner seperti kami tidak diperbolehkan membawa senjata itu.

Tepat satu detik setelah pelurunya mendarat di kulit ikan, peluru itu meledak. Darah dan daging muncrat bertebaran keluar seperti balon air pecah. Ledakannya menarik perhatian dua ikan lain kepadaku. Keduanya langsung ingin menandukku. Kutembakkan satu tembakan lagi ke ikan yang berada paling dekat denganku sambil melipat jari jempol dan telunjukku ke dalam untuk membuat bajuku melaju ke kiri agar aku bisa membuat jarak sebelum peluruku meledak.

Aku hanya menanti satu ledakan, tapi begitu peluruku meledak, ledakan lain terjadi tepat setelah peluruku meledak. Ledakan kedua berasal dari sisi kiri ikan kedua yang belum aku tembak. Ledakannya mendorong mayat ikan itu ke arahku dan menimpaku karena beratnya. Ikan ini beratnya pasti lebih dari delapanpuluh kilo.

Ikan itu menahanku ke tanah, aku tidak kuat memindahkannya sendiri. Aku menengok ke kiri dan aku lihat Dan bergegas menghampiriku.

“Maaf, maaf!” Dia bilang sambil memegang perut ikan itu yang juga menahan badanku.

“Diam.” Aku jawab dengan nada kesal.

Setelah kami mengerahkan tenaga, kami berhasil memindahkan ikan itu dan membebaskan badanku. Aku berbalik dan kupungut pistolku yang terlempar saat peluru Dan meledak.

“Makasih, ya.” Ujar Dan.

“Pokoknya…” Aku berhenti sesaat. “…lanjutin aja kerjaanmu.”

Aku lajukan diriku kembali ke gerbang kota tanpa berbalik melihat Dan, aku sudah cukup melihat darah hari ini.

“Tunggu aku di panel kendali.” Suara Dan terdengar lagi lewat komunikatorku. “Begitu kabelnya selesai aku betulkan, kau langsung nyalakan sistem komunikasinya, periksa sudah benar atau belum.”

“Aku sudah tahu.”

Bukannya aku benci pada Dan, dia itu setiakawan padaku semenjak aku masuk satuan militer. Aku cuma memilih untuk tidak ingin membunuh sebisa mungkin. Aku juga tahu setiap kalinya aku bertemu predator itu, ukuran mereka makin membesar. Ada yang bilang disebabkan radiasi berkepanjangan selama tigapuluh tahun, mahluk-mahluk bawah laut ini mulai bermutasi. Aku cemas nantinya ancaman kelas B atau A akan lebih sering terjadi.

Tidak lama kemudian aku sampai ke panel kendali, tempatnya tepat sebelum kabel-kabel itu masuk ke dalam dinding Canaan.

“Selesai?” Panggilku pada Dan.

“Selesai, coba nyalakan.”

Aku angkat tuas di panel kendali untuk menyalakan sistem komunikasi eksternal, beberapa lampu di panel kendali itu pun berubah warna. Aku juga merasakan ada getaran dari dalam kabel-kabel di dekatnya.

“Laskar Pertahanan Canaan, enjiner 718 dan 731 ke markas.”

Yang kudengar hanya statik radio, setelah diam beberapa detik, kuputuskan untuk mencoba lagi.

“Laskar Pertahanan Canaan, enjiner 718 dan 731…”

“Markas Besar Laskar Pertahanan Canaan.” Balasan yang terdengar lewat sistem komunikasi membuatku lega. “Pemeliharaan selesai, kalian diharapkan melapor kembali ke markas.”

“Dimengerti, Markas. Siapkan makan malam untuk kami.” Suara Dan tiba-tiba masuk.

“Aku tidak bisa janji, Enjiner 718.” Jawab markas dengan nada bercanda, aku lepaskan sedikit tawa kecil mendengarnya.

Aku bisa tersenyum sekarang, tugasku untuk siang ini selesai sudah. Aku langsung menghadap ke arah gerbang dan menunggu Dan di sana. Untungnya Dan juga sampai di gerbang begitu aku sampai. Begitu kami berdua masuk, gerbang luar yang masih terbuka turun. Begitu gerbang itu tertutup rapat, air yang masih ada di dalam ruang ini disedot habis hingga ruangan ini kering. Dari empat gerbang utama yang ada di Canaan, semuanya bersistem sama.

Begitu ruangan ini sudah bebas dari air, masker yang kami kenakan melepas kunci karetnya yang mencegah air masuk ke dalam helm kami. Kami letakkan masker kami ke pelindung dada kami yang berwarna keoranyean, dan untuk pertama kalinya sore ini, kami bisa menghirup udara dengan bebas.

Gerbang kedua mulai naik, perlahan pemandangan cincin luar Canaan mulai terlihat. Aquapolis ini terdiri dari tiga cincin, cincin inti, cincin dalam, dan cincin luar. Cincin luar adalah area industri, tempat di mana perkebunan, pabrik, dan pembangkit listrik berada. Cincin dalam adalah area perumahan, tempat di mana penduduk Canaan tinggal. Yang terakhir adalah cincin inti, daerah pemerintahan dan perkantoran, tempat di mana pemerintah Canaan menjaga seluruh kota aman dan tentram.

Dibangun enam kilometer di bawah permukaan air dan dengan diamater empatratus kilometer, Canaan adalah Aquapolis ketiga yang dibangun di bawah air dan Aquapolis kedua paling besar di seluruh dunia. Meskipun aku cuma dengar kabar angin, katanya ukuran Elysium hampir dua kali lipat ukuran Canaan. Tapi meskipun demikian, Canaan memiliki dinding pengaman paling tinggi. Dinding Canaan adalah dinding titanium setinggi empatratus meter dengan atap transparan berlapis berlian untuk menahan limabelas ribu ton tekanan air.

“Kayaknya kita gak bisa makan bareng.” Dan bicara begitu kami melangkahkan langkah ketiga keluar dari gerbang.

“Kenapa?” Tanyaku sambil berhenti jalan dan berbalik melihatnya.

Dan cuma memutar matanya ke atas sambil memiringkan kepalanya ke kiri.

“Ah…” Aku ekspresikan kasar kalau aku mengerti maksudnya.

“Nanti kita ketemu lagi waktu shift malam, oke? Oke!”

Seperti biasa, dia jawab pertanyaannya sendiri. Bahkan dia tidak selesai menjawab, dia langsung minggat begitu aku bilang “Ah” tadi.

Beberapa hari belakangan ini, Dan sering bertemu dengan gadis dari satuan serbu, dia bilang dia ketemu dengannya sekitar satu minggu lalu di pasar. Aku kurang perhatian waktu Dan cerita, pokoknya sejak saat itu, Dan dan cewek itu jadi sering ketemu di mana-mana. Kalau pendapatku, aku yakin dia sudah distalking Dan sejak satu bulan lalu.

Seperti kataku tadi, saking seringnya Dan ketemu dia, minggu ini adalah minggu paling banyak hari di mana aku makan malam sendirian; Hari ini, dua hari lalu, dan enam hari lalu. Sebelum itu, aku cuma makan malam sendirian satu hari setiap minggunya. Tapi meskipun demikian, tiga hari seminggu makan malam sendiri belum cukup untuk membuatku penasaran wanita macam apa yang bikin Dan kasmaran.

Dua jam kemudian, aku dapat tugas memeriksa perangkat kerja di menara jaga timur. Tugasnya memang tidak sulit, tapi ketidak hadiran Dan yang lebih dari duapuluh menit membuatku kesal.

“Dia ngapain, sih?” Omelku dalam hati sambil melihat ponselku lagi, aku sudah mengirim pesan pada Dan berulang kali sejak empatpuluh menit lalu. “Jangan bilang dia sedang cari hiburan gara-gara ditolak.”

“Rain!” Dan menyebut namaku sambil mendobrak masuk ke ruangan ini.

“Dari mana aja, sih?!” Tanyaku dengan nada kesal dan tinggi.

“Bisa temani aku ketemu dia besok?”

“Gak didengerin…” Ujarku dalam hati.

“Belakangan ini aku jadi takut dia pikir aku jones. Kayak orang-orang di departemen pembersihan.”

“Gak peduli, kerja dulu.”

“Tolong, lah. Dia itu wanita idaman!”

Aku menghela nafas, aku paham Dan tidak terima aku tolak.

“Kita lihat besok gimana.” Kalau sudah begini, satu-satunya yang bisa membuat dia jinak lagi cuma kalau kemauannya dituruti. “Tapi sekarang, kamu periksa peralatan, aku periksa perangkat lunak.”

Dan mengangguk cepat dengan senyum menggigit bibir. Punya teman seperti dia memang susah, tapi aku harus siap kalau dia mulai berulah. Setidaknya sekarang dia fokus ke pekerjaan.

“Sambungan komunikasi, lancar.” Aku bicara sendiri sambil memeriksa tiap program. “Sistem deteksi…”

Aku terhenyak, sistem deteksi memang bekerja sempurna, aku bahkan sampai memeriksa rekaman kamera di luar dinding untuk memastikan bahwa di luar memang ada segerombol ikan. Tapi hal lain yang membuatku penasaran adalah objek diam yang berada seratur meter di luar dinding.

Meskipun tampak diam seperti benda mati, tapi benda itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan, baik secara thermografik dan secara elekromagnetik. Lokasi benda itu memang agak jauh dari pemancar sinyal Canaan, tidak ada orang yang nekat berkeliaran di sana. Tapi aku sudah terlanjur penasaran, aku pun memberanikan diri mencoba memeriksanya.

“Dan, aku pinjam senjatamu.”

Aku rampas pistol milik Dan dari kantung di pahanya dan lari ke arah gerbang timur. Dan cuma memandangku aneh melihatku terburu-buru menuruni tangga menara jaga.

Kukenakan helmku sambil terus berlari mendekati gerbang, kutekan tombol untuk membuka gerbang luar yang juga menutup gerbang dalam. Gerbang-gerbang ini menutup dan membuka sangat pelan, seakan mereka tidak mengerti kalau aku sedang buru-buru.

Kupacu unit APMSku secepat yang aku bisa, aku takut kalau di objek itu ternyata ada sesorang yang butuh bantuan. Cahaya dari lampu kota Canaan membuat takut ikan atau mahluk lain yang bisa mengancamku, jadi jalanku ke tempat itu cukup lancar. Lampu-lampu itu dinyalakan pada malam hari untuk mengamankan penduduk Canaan yang sedang tidur.

Begitu aku tinggal beberapa meter lagi, aku berhenti berenang dan perlahan kudekati objek misterius itu. Satu satunya yang memisahkanku dengan objek itu hanya sebuah bukit kecil. Kukeluarkan pistol milik Dan sementara pistolku kusiagakan di kantung pahaku. Aku butuh dua pistol untuk jaga-jaga kalau-kalau ternyata benda atau mahluk ini berbahaya.

Semakin mendekat, semakin aku mendengar suara berdesis. Untuk sesaat aku merasa takut, aku pikir suara itu berasal dari sejenis ular laut. Tapi semakin dekat, semakin aku yakin desisan itu bukan berasal dari mahluk hidup, tapi dari suara besi panas yang mendingin.

Beberapa langkah lagi untuk mencapai puncak bukit ini, dari sini aku mulai bisa melihat gelembung-gelembung kecil terbang ke atas dari sisi lain bukit ini.

Aku langkahkan kakiku di puncak bukit sambil masih melihat ke atas ke gelembung-gelembung yang berenang ke atas. Perlahan aku turunkan mataku mencari asal gelembung-gelembung itu. Di kaki bukit ini, aku bisa melihat sebuah lonceng selam, semakin lama aku melihatnya, aku mulai sadar bahwa benda itu…

…adalah kapsul darurat.

= bersambung =

***

 

*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Ingin membaca lanjutan ceritanya? Silahkan klik tautan cerita berikut : Di Atas Batas Langit Dari Cakrawala Bumi Yang Biru Ini

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.