BAGIKAN
@ Project Revue Starlight

Penulis Rusia yang dalam karya tulisnya sering terselip teori apotheosis, Anton Chekhov pernah berkata “Jangan ceritakan pada saya bahwa bulan sedang bersinar, tapi tunjukkan kilau cahaya bulan di atas pecahan gelas kaca”. Di lain waktu I Gusti Ngurah Putu Wijaya, seorang sastrawan asli Indonesia pernah berpendapat “Tidak ada tikus yang tidak berkumis. Tidak ada keuntungan yang datang gratis, semuanya harus dibayar”. Beraliran surealisme dengan penyampaian makna cerita yang penuh simbol, juga diceritakan dengan penuh gairah yang dilambangkan  karakter yang sudah tidak bisa puas dengan kebahagiaan biasa dan berusaha menjadi yang paling hebat diantara yang lain. Shoujo☆Kageki Revue Starlight sendiri digadang-gadang oleh penggemar garapan sutradara Kunihiro Ikuhara akan menjadi penerus Revolutionary Girl Utena dan Mawaru Penguindrum. Lalu apa yang sangat spesial dari dinobatkan menjadi penerus dua serial tadi? Konten berbeda seperti apa yang disajikan ShoujoKageki Revue Starlight itu sendiri? Dan siapa sebenarnya sutradara Kunihiro Ikuhara yang disebutkan tadi? Semuanya akan dibahas dalam artikel yang terbagi beberapa bagian ini.

© Project Revue Starlight

Untuk selanjutnya saya akan menyebut ShoujoKageki Revue Starlight dengan singkatan Revue Starlight. Revue Starlight sendiri menceritakan dua sahabat yang berjanji ingin tampil dipanggung yang sama, sempat berpisah lama namun akhirnya mereka ditakdirkan bertemu kembali. Dan kini mereka berdua selain harus saling bersaing, juga harus saling berebut posisi dengan gadis panggung lain untuk meraih gelar “Top Star”. Proyek Revue Starlight sendiri bertujuan untuk menggabungkan anime dan drama musikal menjadi satu, sehingga dapat dicapai sebuah hiburan yang dapat dikatakan 2,5 dimensi karena menggunakan pengisi suara dan pemain drama yang sama.

© Project Revue Starlight

Unsur drama musikal yang ada dalam Revue Starlight sendiri sedikit banyak mengambil referensi dari Takarazuka Revue, sebuah pertunjukan teater musikal dari Jepang yang hanya diperankan oleh wanita. Contohnya 9 karakter dalam Revue Starlight merupakan representasi dari 5 tim pementasan atau disebut gumi dalam bahasa Jepang. Yang terdiri dari tim bunga, tim bulan, tim bintang, tim salju, dan tim langit atau kosmos. Mungkin muncul pertanyaan, kenapa sembilan orang mewakili lima tim? Coba Anda hitung sesuai pair masing-masing. Karen dengan Hikari, Junna dengan Banana, Kaoruko dengan Futaba, Claudinne dengan Maya, dan Mahiru terhitung sendiri maka akan pas terhitung ada 5 tim.

© Project Revue Starlight

Sekolah yang diperlihatkan di Revue Starlight juga mengambil referensi dari Sekolah Musik Takarazuka, di mana muridnya hanya berisi perempuan dan memiliki seragam berwarna abu-abu. Pakaian saat adegan audisi di anime Revue Starlight sendiri secara langsung memiliki desain yang sama dengan kostum  drama Takarazuka yang memiliki tema sejarah militer negara barat. Dari segi staf juga ada beberapa orang yang terlibat dengan Takarazuka Revue, seperti Kodama Akiko yang merupakan bekas pemain dan sutradara Takarazuka Revue. Saat ini beliau menjadi sutradara di drama musikal Revue Starlight. Selain itu ada Kaori Miura yang pernah menjadi artis dan Nakamura Kanata seorang penulis yang menuliskan lagu untuk serial anime dan juga drama musikal.

Sekarang mari beranjak untuk memahami istilah “Top Star”. Setiap tim pada Takarazuka Revue selalu memiliki satu pemeran yang disebut “Top Star”, pemeran ini memiliki peran utama pada pertunjukan dan biasanya memiliki masa aktif selama 2 sampai 4 tahun. “Top Star” sendiri selalu merupakan otokoyaku yang berarti peran pria dan diikuti dengan musumeyaku yang berarti peran wanita sebagai pasangan. Perlu ditekankan kembali bahwa musumeyaku bukan “Top Star”, gelar “Top Star” hanya diberikan pada satu orang yaitu otokoyaku. Dalam Revue Starlight sendiri tidak diperlihatkan dengan gamblang kedua peran tersebut, tapi dapat diperhatikan kalau setiap pair selalu memiliki salah satu karakter yang lebih maskulin dari pasangannya. Dan tidak lupa dengan “Position Zero”, untuk “Position Zero” sendiri dalam pertunjukan secara umum memiliki arti berupa titik pusat dari panggung, di mana pemeran utama akan mengakhiri pertujukan tepat pada tanda “Position Zero”.

© Project Revue Starlight

Salah satu hal menarik adalah konsep dalam audisi Revue Starlight di mana para gadis panggung harus saling mengalahkan dan mengklaim tiara untuk menjadi “Top Star”. Sementara Karen, tokoh utama kita sampai episode 4 tidak melakukan hal tersebut. Di sisi lain Maya melakukan hal yang terbalik dengan Karen. Perbedaan Karen dan Maya tergambar jelas dalam dialog Starlight yang diucap Maya saat episode 3. “Jika seseorang menggapai bintang yang kecil, maka ia akan mendapat kebahagiaan yang kecil pula. Jika seseorang menggapai bintang yang besar, maka ia akan mendapatkan hal yang sepadan”. Karen hanya ingin menggapai bintang yang kecil karena dia ingin Hikari dan yang lainnya mendapatkannya juga, Sementara Maya rela menggapai bintang yang besar meskipun artinya dia harus sendiri karena itulah “Top Star”.

Penjelasan lebih dalam mengenai anime ini dan juga ulasan dari segi sakuga (animasi) akan berlanjut pada bagian ke-2 yang akan ditulis kemudian. Nantikan segera!

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.