BAGIKAN

Saya ingat, pertama kali saya bermain tabletop role-playing game (TRPG), saya bermain Pen and Paper RPG yang berbasis pada gim Ragnarok Online. Saat itu saya masih kelas 6 SD dan memainkannya pada bulan puasa sembari ngabuburit menunggu waktu berbuka. Tentang bagaimana berjalannya gimnya pada saat itu, saya sudah melupakannya. Namun, percepat satu dekade, sekarang saya memainkan TRPG bersama teman-teman minimal seminggu satu sesi. Tidak terbatas pada pen and paper, kami juga memainkan beberapa Board Game yang bergenre RPG.

Tema RPG (dan board game) tersebut beragam. Mulai dari Sci-fi, survival, horror hingga tema fantasi yang menjadi standar RPG atau Board Game pada umumnya. Untuk menghayati tema permainan tersebut, saya dan teman-teman saya umumnya bermain peran sesuai dengan karakter dalam permainannya. Oleh sebab itu, maka istilah role-play menjadi hidup dan bukan sekedar judul. Untuk memahami unsur bermain peran dalam bermain TRPG, saya sering membuka subreddit r/DnDGreentext atau r/DMacademy. Pada kedua subreddit tersebut, saya menemukan banyak pencerahan dalam roleplay, terkadang dalam bentuk yang jenaka, terkadang dalam bentuk yang mengerikan, baik dalam permainan atau kelakukan pemainnya.

Pada musim gugur 2018, ada sebuah anime adaptasi yang menjadi buah bibir khayalak digital. Anime tersebut memiliki episode pilot yang menggelisahkan. Episode pertamanya tanpa ragu-ragu menampilkan adegan petualang perempuan yang diperkosa oleh monster tanpa pengurangan apapun. Saking menggelisahkannya, jasa streaming anime yang menayangkan anime tersebut perlu memperingatkan penonton karena alam dari temanya yang cukup mengerikan, bahkan sempat menjadi pembicaraan serius di lembaga pengawas media The Broadcasting Ethics & Program Improvement Organization (BPO). Anime tersebut adalah Goblin Slayer.

Lima episode telah tayang dan saya menemukan sebuah sudut pandang yang menarik: Goblin Slayer adalah sebuah TRPG.

What is it? Goblins?

© Katatsumuri kumo / SB Creative / Goblin Slayer Production Committee
© Katatsumuri kumo / SB Creative / Goblin Slayer Production Committee
© Katatsumuri kumo / SB Creative / Goblin Slayer Production Committee

Goblin Slayer adalah anime adaptasi dari novel ringan bertema dark fantasy karya Kumo Kagyu yang diilustrasikan oleh Noboru Kannatsuki. Dalam anime ini dikisahkan tentang seorang petualang tingkat perak yang sangat terobsesi oleh satu tujuan: Membunuh Goblin. Obsesinya yang berlebihan terhadap goblin membuat sang Goblin Slayer dipandang sebelah mata oleh petualang setingkatnya yang lain. Karena menurut mereka, Goblin hanyalah monster tingkat rendah dan petualang tingkat perak harusnya memburu monster yang lebih kuat. Goblin hanyalah monster lemah untuk petualang tingkat pemula. Namun Goblin Slayer dapat meraih tingkat perak dengan hanya memburu Goblin dan Goblin saja.

Orang yang pertama kali bergabung dengan Goblin Slayer adalah Priestess pemula yang diselamatkan oleh Goblin Slayer dari kelompok goblin yang seharusnya mereka basmi. Teman petualang pemula Priestess dihabisi satu persatu oleh makhluk hijau pendek yang seharusnya adalah monster lemah. Si Ahli Pedang dikeroyok oleh kerumuman goblin karena pedangnya terlalu panjang tidak dapat menebas goblin di gua yang sempit. Tukang sihir pemula dilumpuhkan dan disiksa. Monk sebagai petualang terakhir yang dapat bertarung berakhir diperkosa oleh goblin. Setelah diselamatkan Oleh Goblin Slayer, Priestess akhirnya belajar betapa mengerikannya goblin, meskipun anggapan para petualang bahwa goblin adalah makhluk lemah.

Lambat laun, anggota kelompok petualang Goblin Slayer bertambah. Mulai dari High Elf Archer yang berusia 2000 tahun yang awalnya menganggap Goblin Slayer adalah petualang lemah. Dwarf Shaman, si Dwarf ahli sihir yang ceria, hingga Lizard Priest, pendeta dari kaum kadal yang bercita-cita untuk menjadi Dragon sebelum akhir hayatnya. Semula, mereka sedikit ragu kenapa Goblin Slayer sangat bersikukuh untuk hanya dan hanya memburu Goblin. Namun pada akhirnya, mereka semua berpetualang mengikuti Goblin Slayer untuk memusnahkan Goblin dari muka bumi.

Panggilan Goblin Slayer bukanlah cuman sekedar panggilan. Pengetahuannya tentang goblin sangatlah luas dan pengalamannya tersebut selalu berhasil untuk membantu Goblin Slayer memusnahkan para makhluk kecil hijau yang keji tersebut. Mulai dari pengetahuan dasar bahwa goblin memiliki indera pengetahuan yang tajam, mereka selalu hidup berkelompok dan memiliki hierarki, Goblin juga memiliki tingkat intelegensi mumpuni yang mampu membuat mereka berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi dan memanfaatkan perempuan yang mereka culik untuk melahirkan anak goblin untuk membesarkan jumlah kelompok mereka.

It is a Dark Fantasy TRPG

© Katatsumuri kumo / SB Creative / Goblin Slayer Production Committee

Kesan TRPG yang muncul dari anime ini dapat dijelaskan dari beberapa faktor. Mulai dari petunjuk-petunjuk halus yang muncul di openingnya. Pemetaan sifat karakter yang berbasis The Alignment System. Bagaimana para karakter di dalam animenya sama sekali tidak menggunakan nama melainkan panggilan Ras-Job atau Julukan mereka.

Sepotong adegan dari opening Goblin Slayer ditampilkan dadu untuk menunjukkan kesan bahwa apapun yang terjadi di TRPG, semata-mata bermula dari putaran dadu pemainnya. Bahwa apapun terjadi karena ada sebuah peluang yang memulainya. Selain itu dadu adalah unsur penting yang hampir tidak dapat dipisahkan dalam TRPG.

Karakter di dalamnya semuanya memiliki karakteristik yang sesuai dengan The Alignment System. The Alignment System adalah sebuah metode untuk mendefinisikan pandangan moral dan sikap pribadi setiap karakter dengan mengkatalogkan karakter tersebut ke dalam 9 macam jenis dalam sebuah grafik aksis-ordinat Good vs Evil / Lawful vs Chaos. Hal ini umum ditemukan dalam sesi-sesi permainan TRPG, walaupun sebenarnya tidak terbatas pada TRPG semata. Sembilan macam penjajaran tersebut terjajarkan dari Lawful Good hingga Chaotic Evil. Masing-masing penjajaran memiliki sifat tersendiri dan seringkali menentukan kepribadian karakter tersebut. Tidak luput pula penjajaran tersebut memiliki konsekuensi dalam setiap keputusan yang diambil baik dari karakter tersebut bahkan keputusan kelompok petualang (party)-nya. Sebuah party cenderung memilih seseorang yang Lawful-Neutral Good, atau sederhananya, mencari yang sejajar dengan kebanyakan anggotan party-nya demi kelancaran sebuah quest yang mereka ambil. Party dengan penjajaran moral yang beragam tentu akan menimbulkan berbagai macam permasalahan dalam pengambilan keputusan.

Uniknya, setiap karakter di dalam Goblin Slayer tidak memiliki nama. Mereka menggunakan Job-Class atau julukan mereka sebagai pengganti nama. Goblin Slayer adalah namanya karena dia hanya dan hanya membunuh Goblin hingga dia memiliki pangkat silver di Adventure Guild. Karakter Priestess dipanggil demikian karena Job-Classnya adalah Priestess. Guild Girl, gadis yang bekerja sebagai penerima quest di Guild dinamakan demikian. High Elf Archer, Dwarf Shaman, Lizard Priest semua adalah nama Ras dan nama Job-Class dari masing-masing karakter. Kenapa kreatornya menamakan mereka demikian, saya tidak tahu namun apabila kita menyangkutkannya dengan tema TRPG, maka kepingan teka-teki tersebut dengan mudahnya masuk ke pemetaan nalar penontonnya. Lizard Priest dipanggil seperti itu karena dirinya manusia kadal dengan Job-Class Priest.

You’ll get used to it.

© Katatsumuri kumo / SB Creative / Goblin Slayer Production Committee

Goblin Slayer, entah mengapa menjadi sebuah fenomena yang menarik di musim gugur 2018. Penayangan perdana Goblin Slayer menjadi sorotan utama jagat anitwitter karena adegan perkosaan yang dilakukan oleh Goblin pada salah satu petualang perempuan pemula yang naas. Mulai dari tuduhan SJW sebagai upaya degradasi perempuan, hingga kalimat umum “This Anime is Trash” muncul dari berbagai sisi. Menurut saya, banyak orang memfokuskan kepada unsur perkosaan dan gore yang sering muncul dalam narasi Goblin Slayer. Lalu semena-mena menancapkan stempel “barang reject” tanpa melihat keutuhannya secara global.

Menurut saya, adegan pemerkosaan tersebut adalah sebuah upaya untuk menanamkan ide “Selemah-lemahnya Goblin, mereka tetaplah monster yang mengerikan” kepada para penontonnya. Di saat yang sama, adegan tersebut memberi gambaran umum tentang tema yang diusung dalam anime Goblin Slayer. Adegan tersebut hanyalah satu dari banyak metode untuk mendeklarasikan tema dark fantasy pada Goblin Slayer. Adegan pembantaian Goblin pada episode 2 juga menjadi salah satu instrumen untuk memaparkan ‘dark’ di frasa dark fantasy-nya.

Namun, kita jangan sampai melupakan fakta bahwa Goblin Slayer berbasis novel ringan, yang tentunya wajib untuk mudah dibaca. Tidak semerta-merta semua adegan di dalamnya bertemakan dark dan dark melulu. Misalnya di pertengahan episode 3, ada sebuah adegan perkenalan party pembasmi Goblin yang memiliki nada ringan. Episode 5, yang berfungsi sebagai episode intermezzo juga memberi nada ringan dalam keseluruhan narasinya. Transisi dari cerita yang mencekam juga perlu diimbangi dengan cerita keseharian yang ringan sebagai oasis bagi para penontonnya.

Perlu saya serukan juga, janganlah anda menjadi penganut ajaran “Three-Episode Rule” karena ajaran tersebut membuat orang terlalu mudah memberikan penilaian buruk terhadap sebuah seri anime dan membuat mereka melewatkan apa yang seharusnya menjadi sebuah tayangan yang menarik. Karena, keasikan Goblin Slayer baru saja terjadi di Episode 4 dan akan ada banyak narasi-narasi yang seru yang akan datang di episode selanjutnya.

Imagination is your Greatest Weapon

© Katatsumuri kumo / SB Creative / Goblin Slayer Production Committee

Goblin Slayer bukanlah sebuah narasi di mana sang tokoh utama selalu mendapat kemudahan dalam tiap permasalahan yang ditemuinya. Goblin Slayer bukan juga karakter dengan kemampuan super tiada tanding. Goblin Slayer hanyalah tokoh petualang yang biasa ditemui di adventure guild manapun. Bahkan, Goblin Slayer hampir mereggang nyawa di beberapa adegannya.

Bagaimana Goblin Slayer menjadi petualang tingkat perak dengan hanya memburu goblin adalah bagaimana dia memanfaatkan kreativitasnya sebagai senjatanya. Pada episode 3, Goblin Slayer meminta Priestess untuk menggunakan skill yang lazimnya adalah skill defensif, menjadi sebuah skill ofensif yang menghancurkan sarang goblin tanpa harus memasukinya. Goblin Slayer bahkan dapat memanfaatkan scroll teleport yang lazimnya sebagai jalan keluar darurat menjadi senjata yang sangat mematikan.

Sebagai penutup, Goblin Slayer adalah sebuah narasi unik yang cukup jarang kita temui saat ini. Di saat pasar novel ringan dihujani dengan tema ORE TUEE, karakter utama OP (kelewat kuat dan sakti) dan selalu mendapatkan solusi mudah di tiap petualangannya. Anime ini adalah seri fantasy orthodox yang layak mendapat apresiasi lebih karena pendekatannya yang unik dan kekuatan narasi yang imaginatif. Kerja studio White Fox sekali lagi patut diacungi jempol karena berhasil membawakan narasi tersebut ke dalam layar kaca tanpa mengurangi sedikitpun sari yang terkandung di dalamnya.

KAORI Newsline | Ditulis oleh Naufalbepe.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.