BAGIKAN
Sejumlah bus Transjakarta terparkir di halte Harmoni Central Busway saat aksi mogok pegawai Transjakarta, Senin (12/6). (Fagra Hanif / FDTJ)
Logo pertama Transjakarta

Transjakarta baru saja genap berusia 15 tahun sejak awal pelayanan mereka. Dimulai pada 2004, Transjakarta hadir sebagai moda transportasi yang aman, nyaman dan terjangkau. Mengadaptasi sistem Bus Rapid Transit (BRT) Trans Milenio dari Kolombia, Transjakarta hadir sebagai BRT pertama di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang terbilang cukup sukses.

Saat itu Transjakarta diresmikan sebagai Badan Pengelola (BP) dan melakukan uji coba layanan Koridor 1 (Blok M – Kota) tanpa biaya. Kegiatan sosialisasi Transjakarta dengan Koridor 1 tersebut dilakukan sejak 15 Januari hingga 31 Januari 2004. Baru pada 1 Februari 2004, Transjakarta  resmi beroperasi dan mulai mengenakan tarif sebesar Rp2000 serta Rp3.500 untuk sekali perjalanan.

Kemudian pada 2006, Sutiyoso selaku Gubernur DKI Jakarta saat itu mengubah sistem Transjakarta yang semula bernama Badan Pengelola Transjakarta menjadi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta. Badan ini yang bernaung dibawah Unit Pengelola Terpadu (UPT) Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.

Advertisement Inline

Dua tahun berselang, Transjakarta kembali membuka layanan Koridor BRT Transjakarta. Koridor 2 (Pulogadung 1 – Harmoni) serta Koridor 3 (Kalideres – Pasar Baru) menjadi dua koridor baru yang dibuka pada 15 Januari 2006 dengan harapan mengembangkan sekaligus meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan Transjakarta.

Setahun kemudian, Transjakarta membuka rute objek wisata Ancol dan Ragunan. Masing-masing terdapat di Koridor 5 (Kampung Melayu – Ancol) dan Koridor 6 (Ragunan – Halimun, kini sudah diperpanjang hingga Dukuh Atas 2). Selain itu, Transjakarta juga membuka Koridor 4 (Pulogadung – Dukuh Atas 2) dan Koridor 7 (Kampung Rambutan – Kampung Melayu).

Setelah sukses dengan 7 Koridor, pada 2009 Transjakarta mengoperasikan Koridor 8 (Lebak Bulus – Harmoni). Pada awalnya, Koridor 8 beroperasi melalui Tomang Raya – Jl. Suryo Pranoto. Kemacetan yang terjadi di ruas jalan tersebut menyebabkan adanya perpindahan rute jalan di Koridor 8. Akhirnya, Koridor 8 beroperasi melalui Rs. Sumber Waras – Jl. K. H. Hasyim Ashari.

Lima tahun setelah Transjakarta beroperasi, Transjakarta terus mengembangkan layanan mereka. Pada 2010, Transjakarta membuka layanan Koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit) serta Koridor 10 (PGC Cililitan – Tanjung Priok). Namun, jelang pengoperasian Koridor 9 dan 10, terjadi kendala pada sistem infrastrukturnya. Belum siapnya armada yang akan melayani dua koridor tersebut menjadi alasan belum dapat beroperasinya Koridor 9 dan Koridor 10. Infrastruktur lain seperti Halte terpaksa harus terbengkalai selama 1 tahun sejak selesai dibangun pada tahun 2009.

Di tahun 2011, Transjakarta menerapkan sistem manajemen armada terpadu. Dimana Transjakarta melakukan integrasi dengan operator bus untuk menyediakan layanan pengumpan, mulai melakukan uji coba layanan bus gandeng pada Koridor 1, serta  mengoperasikan Koridor 11 (Kampung Melayu – Pulogebang).

Logo kedua Transjakarta yang diresmikan pada 2012

Pada tahun 2012, Transjakarta mengganti logonya. Huruf “T” dan “J” yang bersatu menggambarkan integrasi Transjakarta yang saling menyambung antar layanan koridor. Logo ini masih dapat kita temukan di armada Zhongtong Bus yang dioperasikan oleh Perum DAMRI dan PT Transportasi Jakarta. Selain itu, logo ini juga masih dapat ditemukan di Bus Yutong dan Ankai yang juga dioperasikan oleh PT Transportasi Jakarta.

Di tahun 2013, Transjakarta meresmikan layanan Koridor 12 (Pluit – Tanjung Priuk) sepanjang 23,7 Km. Rute ini menghubungkan Pluit, Kota, Gunung Sahari, Sunter serta Koja. Di tahun ini pula, Transjakarta mulai menerapkan E-tiket pada layanan mereka.

Logo Transjakarta terbaru, sekaligus menjadi momen perubahan sistem Transjakarta menjadi Perusahaan Terbuka (PT)

Pada 2014, Transjakarta mengubah status mereka menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan mengubah nama mereka menjadi Perusahaan Terbuka (PT) serta logo mereka menjadi seperti saat ini Dua tahun setelah mengubah statusnya, Transjakarta meresmikan layanan Bus Khusus Wanita (BKW) dan menambahkan 116 unit bus tipe BRT serta 300 unit bus tipe lantai rendah sehingga jumlah armada bus Transjakarta mencapai 1.500 unit. Selain itu Transjakarta juga mengoperasikan layanan bus tingkat, atau yang biasa disebut Bus City Tour Jakarta. Bus tingkat Transjakarta telah memiliki kurang lebih sebanyak 20 unit, serta memiliki 7 rute.

Pada tahun 2017, Transjakarta meresmikan layanan Koridor 13 (Ciledug – Tendean) dengan 5 sub layanan Koridor 13. Pertama dalam sejarah transportasi di Jakarta, karena Koridor 13 ini beroperasi menggunakan jalur layang.

Puncaknya pada tahun 2018, Transjakarta sukses menjadi sponsor resmi angkutan atlet ajang Asian Games dan Asian Paragames, serta melakukan beberapa integrasi dengan bus kecil dan moda transportasi lainnya melalui program Jak Lingko.

Semoga Transjakarta terus melayani penumpang dan menjadi kebanggaan warga Jakarta.

Selamat ulang tahun Transjakarta!

Cemplus Newsline by KAORI Nusantara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.