BAGIKAN

A kiss for the petals: Remembering how we met (Sono Hanabira ni kuchizuke o: Deatta koro no omoide ni) Adalah novel visual yang dibuat oleh St. Michael Girls’ School  (Sei Mikaeru Joshi Gakuen). Novel visual ini resmi dirilis pada tanggal 25 September 2015 untuk versi bahasa Jepang dan lokalisasi bahasa Inggris yang dikerjakan oleh MangaGamer, lalu di tahun 2016 lokalisasi bahasa China juga rilis dan dikerjakan juga oleh MangaGamer. Novel visual ini juga diluncurkan di Steam, tepatnya pada tanggal 25 September 2015 dengan harga Rp.69.999,-. Novel visual ini adalah salah satu bagian dari seri Sono Hanabira ni kuchizuke o atau yang sering di singkat SonoHana.

Sinopsis

A kiss for the petals: Remembering how we met adalah prekuel yang menjelaskan hubungan antara Risa dan Miya pada seri sebelumnya yang berjudul A Kiss For the petals: Snow White’s Knight.

Saat ini musim gugur, sebagaimana perubahan dari pakaian musim panas menjadi pakaian musim dingin, tiba – tiba Risa teringat sebuah nostalgia. Ini adalah seragam yang pertama kali ia gunakan pada hari pertamanya di St. Michael. Hari di mana ia bertemu dengan kekasih masa depannya yaitu Miya. Mengingat hari – hari  itu membuat Risa tersenyum sendiri. Miya yang duduk di sampingnya pun terheran dengan menunjukan ekspresi bingung.

Advertisement Inline

“Aku hanya mengingat lagi… tentang saat pertama kali kita bertemu.”

Itu adalah musim semi yang sangat indah, dengan kelopak bunga sakura yang menari di udara. Hari pertemuan Risa dan Miya yang tak akan terlupakan.

© St. Michael Girls’ School / Manga Gamer

Ulasan

Ketika gim dimulai, semuanya tampak klasik dengan latar jalan yang dipenuhi pepohonan sakura di kedua sisinya, diiringi dengan dua gadis yang sedang berjalan bersama sembari sedikit mengobrol. Tak lama setelahnya saya yang menikmati gim ini tidak menyadari bahwa prolog sudah selesai dan lanjut menuju cerita utama.

Sistem yang digunakan dan bagaimana novel ini mempengaruhi seri sebelumnya

Sebagaimana kebanyakan novel visual dari seri SonoHana, cerita pada novel A kiss for the petals: Remembering how we met menggunakan sistem enforced playing order yang memaksa pemain untuk mengikuti alur cerita secara runtut. Dalam novel visual ini pemain tidak diberikan pilihan, melainkan mengikuti cerita yang telah ditulis oleh penulis skenario. Mungkin ini akan terlihat seperti kelemahan dalam novel visual ini, namun dengan menggunakan sistem ini pemain akan lebih memahami lebih dalam hubungan antara kedua tokoh dalam novel visual ini yaitu Risa dan Miya, sebagimana sebelumnya telah diceritakan dalam seri Snow White’s Knight.

© St. Michael Girls’ School / Manga Gamer

Perubahan gaya ilustrasi serta pengaruhnya terhadap penokohan kedua karakter

Jika Anda penggemar dari seri ini, saya sudah sangat yakin Anda tidak akan asing dengan gaya ilustrasi ala bishoujo dalam seri novel visual mereka. Namun St. Michael School Girls’ membawakan art yang moe pada serinya kali ini. Meskipun perubahan art ini sudah tampak dalam Sono Hanabira Kuchizuke o: Amakute Hoshikute Tokoreru Chuu yang terlebih dahulu menggunakan konsep karakter moe, akan tetapi baru gaya ilustrasinya lebih terasa lebih alami ketika memasuki seri ini.

A kiss to the petals - St. Michael Girls’ School
© St. Michael Girls’ School / Manga Gamer

Hadir dengan membawakan art yang moe, St. Michael Girls’ School sukses menyampaikan sifat dari kedua tokohnya, terutama penggambaran Miya yang tampak dingin, jenius, dan sedikit nakal di luar namun mesum ketika tidak ada orang lain, terlihat sangat alami jika dibandingkan dengan kebanyakan karakter dengan kepribadian seperti ini.

Kesimpulan

Sebagai sebuah novel visual yang memiliki cerita yang cukup pendek (3 – 6 jam), novel visual A kiss for the petals: Remembering how we met sukses menjelaskan apa yang terjadi dalam seri utamanya. Akan tetapi sprite dalam game ini menurut saya pribadi sangat kurang, tak jarang antara teks dan gambar terlihat kurang sinkron, saya merasa game ini lebih terbantu dengan kerja baik dari pengisi suara, serta background music yang benar benar menyesuaikan event yang terjadi dalam game ini. Sebagai novel visual serharga Rp.69.999,-  game ini jauh di atas ekspektasi awal saya yang tidak begitu tinggi. Bahkan novel visual ini sangat saya rekomendasikan untuk Anda senang berburu achievement di platform Steam.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.