Ulasan: Akame ga Kill

40

Akame Ga Kill

Bosan dengan anime penuh aksi yang menyajikan kekejaman untuk 10 episode pertama, lalu menjadi populer sampai waktu yang tidak ditentukan? Mungkin Akame ga Kill! menggantikan anime aksi populer terkini. Mungkin. Cerita yang berkisah tentang seorang pemuda dari desa, ingin berkelana menuju kota besar bernama Capitol demi memakmurkan tempat tinggalnya. Namun saat ia menyadari betapa rusak dan korup kondisi kota Capitol. Ia menemukan sebuah grup pembunuh, yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan kota. Menamakan diri mereka sebagai Night Raid, mereka berjanji untuk megubah Capitol menjadi kota yang layak untuk hidup.

Anime yang diadaptasi dari manga Akame ga Kiru, manga yang ditulis oleh Takahiro, merupakan salah satu serial dari shonen manga Gangan Joker ciptaan Square Enix. Manga ini mulai dirilis pada tahun 2010, dan animenya sendiri dirilis pada Juli 2014 oleh White Fox. Tim produksi yang telah menyajikan anime seperti Hidamari Sketch, Amagami SS, dan Log Horizon ini, bersama dengan Tomoki Kobayashi mencoba menggambarkan dalam 24 episode berdurasi 24 menit, sebuah cerita penuh dengan intrik cerita yang penuh dengan kekejian di setiap langkah cerita.

White Fox dengan indah menyajikan sebuah anime penuh dengan warna dan desain yang ringan untuk dinikmati, namun juga memiliki sisi gelap layaknya menggambarkan sisi lain koin. Pemilihan warna sedikit memberikan pertanyaan, mengingatkan bahwa ini adalah sebuah anime yang menggambarkan betapa keras dan kotor kehidupan dalam sebuah kota korup. Animasi pada saat percakapan dan saat pertarungan dilakukan dengan baik. Salah satu hal yang disayangkan adalah, bagaimana anime ini kurang memberikan impact yang besar pada karakter dalam kota Capitol, dimana kebanyakan dari mereka selalu mempunyai sisi gelap, yang hanya digambarkan dengan satu atau dua gambar statis tanpa banyak gerakan.

Lagu pembuka berjudul ‘Skyreach’ yang dinyanyikan oleh Sora Amamiya, memberikan nuansa anime aksi generik, tidak begitu memberikan rasa ‘penuh kegelepan’ yang harusnya menggambarkan dari keseluruhan manga yang sedang berjalan. Berbeda dengan lagu penutup yang dinyanyikan oleh Miku Sawai, ‘Konna Sekai, Shiritakunakatta’. Seperti sebuah koin, sebuah cerita penuh dengan darah dan aksi juga memiliki sebuah cerita lain, sebuah alasan atas segala tindakan.

Dari seri ini, penulis ingin menyampaikan bahwa sebagai seseorang yang memiliki wewenang dan kuasa, sebaiknya tidak menggunakannya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu. Pemaksaan kehendak, penindasan, kecurangan dan penyalahgunaan wewenang itu nantinya akan kembali kepada diri sendiri dalam rupa kebencian yang telah tertumpuk dan tentu akan mengakibatkan hal buruk. Juga, seri ini ingin menyampaikan tentang determinasi dan kemampuan berpikir jernih dalam memutuskan, agar mampu memutuskan yang terbaik dalam situasi seperti apapun.

Secara keseluruhan, Akame ga Kill merupakan sebuah seri yang cukup menarik untuk ditonton, terlepas dar kadar darah dan kekerasan yang ditampilkan dalam anime ini. Anime ini memberikan sebuah rasa akan aksi dengan intrik cerita, namun kurangnya didukung dengan penggambaran karakter dalam cerita kurang mendukung “gelapnya” cerita yang disajikan. Namun, bukan berarti tanpa warna gelap, bukan berarti kita tidak bisa menikmati anime aksi penuh dengan tumpah darah, dengan warna yang menarik.

Berikut adalah cuplikan gambar dari episode awal seri ini:

Akame ga Kill

This slideshow requires JavaScript.

Akame Ga Kill dapat ditonton melalui website streaming Anibee TV persembahan dari PT. Perdana IMMG Indonesia. Anda bisa mengakses videonya melalui tautan berikut ini.

KAORI Newsline | Oleh Krisma Budianto Irawan dan Jonathan M. Simananda | Ikuti diskusi seri anime Akame ga Kill di KAORI Forum

40 KOMENTAR

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.