Gatekeeping: Menjaga dan Mengatur Arus Informasi

Belakangan, saya sendiri merasa bahwa gatekeeping yang harusnya kita lakukan lebih condong ke model yang diperkenalkan Lewin. Dalam model Lewin, gatekeeper hanya terbatas pada orang-orang yang memiliki kuasa untuk mengatur informasi. Misalnya saja dalam surat kabar, pihak editorial atau redaksi sangatlah berperan dalam menyeleksi berita-berita mana saja yang dapat tampil di surat kabar mereka. Seleksi ini didasari dari berbagai hal seperti halnya popularitas, kebijakan, serta agenda redaksi demi menjaga nama baik dari sebuah surat kabar—sejujurnya poin ini yang kadang dilupakan oleh surat kabar daring sekarang. Namun dikarenakan dalam komunitas tidak ditemukan yang namanya “editor”, peran gatekeeper kemudian dapat dipindahtangankan kepada para administrator dan sepuh sebuah komunitas. Tentu ini sebab admin memiliki pengaruh dan kuasa yang sangat besar dalam mengatur jalannya komunitas, sementara sepuh memiliki para santri yang jumlahnya bejibun dan cenderung mengamini agendanya.

Model teori gate keeping dalam media massa.

Buat saya, aturan dan praktek yang mereka bentuk serta lakukan perlulah jelas mengatur arus informasi baik internal maupun kemudian tersebar eksternal via fungsi share. Tidak bisa hanya sebatas mengatur kepantasan berkomentar saja (yang mana sering kali admin sendiri tidak antisipasi), namun juga menyeleksi ketat post yang para member akan kirim ke dalam sebuah grup agar tak rawan kiriman beracun (toxic). Untuk itu, sebuah komunitas benar-benar perlu membentuk tujuan menjadi tempat diskusi sehat sembari meliterasi para anggotanya dan bukan hanya sekadar mengolok-olok sebuah anime serta para penggemarnya dengan basis yang sangatlah abal-abal selagi meninggikan selera milik sendiri. DI sisi lain, para sepuh perlu mengontrol kekuasaan serta opininya agar tak menggiring para santri kepada perpecahan dan debat kusir memuakkan. Harapan kecil saya adalah dengan dilakukannya praktek tersebut, akan berkurang kejengahan kita terhadap kepadatan kiriman yang busuk nan beracun serta sarat akan elitisme. Sebagai gantinya, akan terpupuk sebuah budaya diskusi baru yang lebih terjamin meliterasi.

Lantas, apakah “orang biasa” dapat melakukan gatekeeping informasi dalam model ini? Secara saklek, tidak. Namun kini kuasa media ada di tangan kita, pengaturan arus informasi baik menyebarkan maupun membuat juga menjadi tanggung jawab masing-masing pribadi sehingga ini membuat semua warganet kini dapat menjadi “gatekeeper” dalam taraf perorangan (meski saya kurang sreg dengan sebutan ini). Ya, bisa saja kita membuat sebuah kiriman yang “sesuai dengan kita” di media sosial pribadi, namun apakah teman kita tidak serujuk dengan hal tersebut? Mungkin itu perlu dipikirkan lagi. Opsi lainnya, discuss it exclussively on personal message, mate. Not everyone wants to see your share.                               

Gatekeeping: Memangnya Perlu Kita Melakukan Gatekeeping?

Bila kita merujuk gatekeeping sebagai ajang untuk mengedepankan elitisme dan eksklusivitas, agaknya keperluan itu omong kosong. Pasalnya, kemudahan akses  dewasa ini mau tidak mau mendorong keduanya (dan sudah sepantasnya) menjadi media hiburan inklusif. Banyaknya komentar-komentar para penikmat anime di kanal-kanal umum pun juga membawa andil untuk menarik lebih banyak orang baru untuk terjun ke dunia yang sama, misalnya membanjirnya komentar JoJo references dalam video musik “Killer Queen” milik band Queen di YouTube (di mana judul lagu tersebut digunakan sebagai salah satu nama kemampuan stand di serialnya). Di sisi lain, sifat dari mass art, seperti yang sudah dibahas di atas, memang sengaja untuk mencari sebanyak-banyaknya audiens (MacWilliams, 2008; Janssen & Verboord, 2015). Oleh sebab itu, saya rasa inklusivitas ini adalah konsekuensi yang memang sudah harusnya dihadapi. Lagipula, apa salahnya menambah teman baru? Bukannya tinggal dirangkul saja? Lagipula, apa kita sudah benar-benar yakin bahwa kultur yang dilanggengkan selama ini tidaklah luput dari cela raksasa sehingga tidak perlu direkonstruksi dan harus dibudidayakan? Mau sampai kapan kita menjadi bedebah dungu yang keras kepala?

“Guaranteed to blow your mind” | © LUCKY LAND COMMUNICATIONS /
Shueisha

Dibanding gatekeeping untuk menjaga “budaya”, kiranya lebih baik kita melakukan gatekeeping arus informasi (baik memproduksi ataupun sekadar meneruskan) demi tercipta ekosistem diskusi anime yang lebih bersahabat, baik di dalam grup maupun perseorangan agar terlepas dari “racun-racun” yang membuat sepat mata. Lagipula, bila terbentuk ekosistem yang baik, persepsi khalayak umum pada hobi serta hobbyist akan menjadi lebih baik. Menurut saya, yang kita perlukan sekarang adalah diskusi yang lebih berbobot dan bukan hanya sebatas kuantitas jumlah reaksi dan share di Facebook. (Idealnya) tidak berguna semua angka jumlah member sebuah komunitas atau grup bila isinya tidak membangun literasi yang baik para anggota dan khalayak eksternal.

Perlu dicatat pula bahwa orang atau pihak eksternal paling mudah mempersepsikan sebuah komunitas dengan melihat cara mayoritas anggotanya berperilaku dan cuilan yang tersebar eksternal. Generalisasi, apalagi stereotip buruk, tidak dapat dielakkan bila mayoritas anggota komunitas berperilaku demikian hingga konseksuensiya adalah memicu kebencian terhadap keseluruhan wadah. Keberadaan troller memang dapat memudahkan keterjangkauan pada konten, sayangnya dia adalah pedang bermata dua. Lucunya, orang yang tidak bersalah lebih merasa malu dibanding orang yang jelas-jelas berperilaku buruk tersebut.

Referensi

  • An, K. & Cerasi, J. 2017. The Gatekeepers and Tastemakers Who Decide What We Call “Art”. Artsy. Diakses dari https://www.artsy.net/article/artsy-editorial-gatekeepers-tastemakers-decide-call-art/amp. DIakses tanggal 9 Maret 2021.
  • Janssen, S. & Verboord, M. 2015. Cultural Mediators and Gatekeepers. Dalam International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. Editor Wright, J. D. 2nd Edition Volume 5. Elsevier. Oxford.
  • MacWilliams, M. W. 2008 Introduction to Japanese Visual Culture: Explorations in the World of Manga and Anime. Dalam Japanese Visual Culture: Explorations in the World of Manga and Anime. Editor MacWilliams, M. W. First Edition. East Gate. NY. USA.

Oleh Rizki Maulana A | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke halo@kaorinusantara.or.id

                      

3 KOMENTAR

  1. “Said pot to the cattle”, something that I always see over and over again in this very scene….

    I didn’t talk about the article ofc

  2. Mantap sekali. seru membaca artikel seperti ini. Harusnya gatekeeper untuk banyak informasi haris memiliki kualifikasi lebih. Kalau untuk level personal ya bebas. Setiap orang memiliki nilai dan budaya masing-masing

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.