Delusi, Kepuasan, dan Gairah: Mencari Makna Chuuni

0
Fullmetal Daemon Muramasa. (Nitro+)
Fullmetal Daemon Muramasa. (Nitro+)
Fullmetal Daemon Muramasa. (Nitro+)

Karin, mahasiswa tingkat ketiga di sebuah universitas ternama, begitu terikat dengan galge (permainan simulasi kencan di mana pemain disodorkan pilihan akan karakter yang disukai, yang kadang disebut pula novel visual – meski agak salah kaprah -.) Walau banyak galge yang telah dimainkan, ada hal lain yang memengaruhi tingkat ketertarikannya akan sebuah judul tertentu.

Ia senang membaca (memainkan) galge, namun bagi dirinya, judul seperti 11eyes, Seinarukana, dan Dies Irae memberi kesan tersendiri. Kalau galge pada umumnya tidak jauh-jauh dari kisah percintaan yang sifatnya real dan dekat dengan keseharian, judul-judul tersebut terkadang membawa pemainnya seolah berada dalam dimensi lain, seperti dimensi superhero yang membuat sang protagonis memiliki jalan hidup yang tidak biasa.

Mendeskripsikan apa itu chuuni mungkin sama sulitnya sebagaimana Garbraith yang tidak dapat mendefinisikan dengan pasti apa itu moe, tetapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan pembuka. Tidak lain, chuunibyou.

Kosakata yang populer berkat anime besutan Kyoto Animation, Chuunibyou demo koi ga shitai ini relatif mudah dideskripsikan. Menurut kamus Pixiv, Chuunibyou merujuk pada sikap anak “kelas 2 SMP” yang tenggelam dalam dunia imajiner yang disenanginya. Dunia imajiner ini bisa buatannya sendiri, bisa pula berasal dari apa yang dikonsumsi atau apa yang ditonton dan dibacanya. Perilaku ini mungkin erat dengan remaja yang mencari identitas dirinya pada usia tersebut pada umumnya.

Advertisement Inline

Dalam Chuunibyou demo koi ga shitai, sikap yang ditunjukkan karakter utama Takanahashi Rikka digambarkan mengidap “sindrom” chuunibyou yang ditunjukkan dengan perilaku “antik” seperti mengenakan tutup mata, menyibakkan payung, dan mengajak teman-temannya untuk ikut “bermain” dalam dunia fantasinya.

Chuunibyou bisa disederhanakan menjadi “suka asyik sendiri”, namun konsep “asyik sendiri” (muchuu dalam bahasa Jepang) tidak merujuk pada konteks di mana kesukaan akan sesuatu yang diimajinasikannya tidak menjadi identifikasi. Muchuu lebih tepat dikondisikan seperti orang yang bermain gim internet (atau galge) selama beberapa jam, lalu tidak sadar kalau ia sudah menghabiskan 20 jam bermain. Untuk bisa disebut chuunibyou, harus ada proses identifikasi, yang berarti seseorang mengasosiasikan dirinya dengan imajinasi ciptaannya.

Satsuki Kakeru, tokoh utama dalam 11eyes (Lass)
Satsuki Kakeru, tokoh utama dalam 11eyes (Lass)

Lalu, apa itu chuuni?

Hasil mesin penelusuran dengan Google justru memberikan hasil dari tempo relatif baru (setelah Chuunibyou tayang) dan justru terkait dengan novel visual (termasuk forum KAORI!) Dalam bahasa Jepang, hasil pencarian juga malah merujuk kembali ke kosakata chuunibyou. Bila merujuk sumber forum Fuwanovel dengan entri tahun 2013, bisa saja istilah chuuni ini baru berkembang dan populer di antara pemain novel visual.

11eyes, Seinarukana, dan Dies Irae yang dianggap sebagai permainan chuuni setidaknya memiliki persamaan. Imanuel, pemain galge lain mendeskripsikan kunci lain yang membuat ia bisa mendapatkan rasa chuuni dalam permainan yang ia mainkan.

“Kalau ada unsur-unsur yang mustahil atau tidak ada dalam keseharian, berarti itu unsur chuuni. Ada unsur sihir, petualangan, atau dunia fantasi dalam permainan yang dimainkan,” ucapnya dalam wawancara telepon dengan KAORI Newsline.

Permainan yang disebutkan memang tidak ada yang mengambil setting dalam kehidupan “real”. Berbeda dengan White Album, KoiChocho, dan ToHeart yang mana sang protagonis bersekolah di SMA, menjalani kehidupan layaknya manusia biasa, pada permainan sebelumnya, seluruh protagonis hidup dalam dunia fantasi yang jauh berbeda dari keseharian.

11eyes walau memiliki karakter utama remaja SMA, tetapi mereka melawan sesuatu yang sifatnya mistis, dengan kekuatan ajaib. Seinarukana dan Dies Irae juga memanfaatkan dunia lain di mana karakter utamanya memiliki tugas menyelamatkan dunia.

Namun penjelasan tersebut masih kurang cukup untuk menjawab apa itu chuuni. Anto bisa mendeskripsikan tokoh utama yang punya feels chuuni tetapi agak sulit untuk menjelaskan secara pasti bagaimana kandungan chuuni bisa dirasakan.

“Mungkin karena seri-seri tersebut punya komposisi dalam plot yang biasa dipakai oleh korban chuunibyou. Contohnya, kalau di Kuroshitsuji, ada elemen malaikat, setan, dan kontrak. Terus selain itu, ada “dark and gritty” dalam plotnya.”

Apakah science fiction bisa mengandung unsur chuuni, Imanuel mengatakan tidak. “Steins;gate itu meski SF, tapi kan masih cukup dekat dan masih mungkin terwujud. Nah kalau yang ini, benar-benar mustahil, ya fantasi begitu. “

Tetapi walau sudah ada bumbu-bumbu fantasi dan imajinasi dalam sebuah cerita, Karin merasa ada hal penting yang tidak bisa dilewatkan dan membedakan cerita epik biasa dengan cerita chuuni.

Film pembuka novel visual Soushuu Senshinkan Gakuen Hachimyoujin.

“Kamu harus merasakan banget jadi protagonisnya, merasakan bagaimana kamu naik-turun, kalau bisa sampai dibawa depresi oleh galge yang kamu mainkan, dan kamu merasa, ah coba gue hidup jadi Kageaki (karakter utama Fullmetal Daemon Muramasa, – Red), dan dalam hati, karakter yang kamu mainkan itu seolah kamu dan sampai terbawa-bawa pas kembali kuliah.”

Hal menarik lain, chuuni tidak harus didapatkan dari materi yang berasal dari Jepang. Menurut Imanuel, Mahabharata dan Ramayana bisa jadi materi chuuni, tergantung bagaimana menikmatinya. Dari sisi berseberangan, Anto tidak memahami “bagaimana bisa ada Star Wars dianggap chuuni.”

Saat ini Karin sedang memainkan Senshikan dan kendati ia masih akan terobsesi dengan nikmatnya chuuni, ia harus berurusan dengan profil Facebooknya yang bermasalah karena nama yang dipakai dirasa chuuni.

“Agak sedih kehilangan nama Ikaruga, tapi asal masih bisa posting gambar mechum, ya udah sih.”

KAORI Newsline | oleh Kevin W | Baca lebih lanjut pengantar tentang novel visual (yang seringkali juga kadung disebut galge di sini)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.