BAGIKAN

reon

Di tahun 2017 ini, penggemar Studio Ghibli di Indonesia bisa bergembira karena untuk pertama kalinya, berbagai film karya studio tersebut ditayangkan di bioskop di Indonesia. Diselenggarakan atas kerja sama Kaninga Pictures, Marubeni Indonesia, dan Hakuhodo DY Media Partners, rangkaian acara The World of Ghibli di Indonesia ini tidak hanya menghadirkan film-film Ghibli pilihan setiap bulannya, tapi juga ekshibisi di Jakarta pada 10 Agustus-17 September, serta berbagai kegiatan pendukung yang melibatkan penggemar dan bermacam merchandise istimewa.

Memasuki bulan Mei, film yang mendapat giliran untuk tayang adalah film kedua sutradara Hayao Miyazaki di Studio Ghibli, My Neighbor Totoro (1988). Penayangan film ini ternyata sempat memicu tanggapan buruk. Seorang pemilik akun Facebook yang mengaku menonton penayangan film tersebut merasa tertipu karena tidak diberitahu sebelum membeli karcisnya bahwa filmnya bukan film baru, melainkan film lama. Lebih lanjut ia juga menilai film yang dianggap salah satu karya terbaik Studio Ghibli itu sebagai kartun yang sangat biasa, seperti yang biasa ada di televisi.

Sebagian netizen yang menemukan keluhan tersebut kemudian bereaksi dengan menyebar luaskan screenshot keluhan itu di media sosial, tanpa sensor terhadap identitasnya. Pihak yang menyampaikan keluhan nampaknya dianggap patut dipermalukan di publik sebagai seorang yang kurang terdidik karena tidak mencari informasi mengenai filmnya terlebih dahulu sebelum menonton.

Pihak yang menyampaikan keluhan mungkin bisa saja dinilai memiliki kesalahan dalam kesalahpahaman tersebut. Tapi di sisi lain, respon yang terjadi seperti di atas amat disayangkan. Tidak ada faedahnya mempermalukan seseorang yang tidak memiliki pengaruh yang besar pada publik dan juga tidak merasa malu diperlakukan demikian. Bukannya mencerminkan sikap intelektual, tindakan mempermalukan orang seperti itu adalah reaksi yang dangkal, tak lebih dari penghakiman massa seperti yang digambarkan dalam seri Gatchaman Crowds.

Alih-alih mempermalukan seseorang di internet karena salah paham soal penayangan film Totoro, waktu dan tenaga yang ada bisa saja digunakan untuk, misalnya, membuat ulasan atau analisis yang cermat mengenai film Totoro. Hal ini akan lebih produktif untuk membangun diskursus dan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai film itu, daripada mengandalkan fanatisme buta bahwa film itu mahakarya yang kualitasnya harus sudah jelas dengan sendirinya. Analisis yang cermat bahkan bisa memberi petunjuk mengapa mungkin ada penonton yang bingung atau tidak terbiasa menerima cara bercerita yang disuguhkan film Totoro.

Dalam menanggapi kejadian ini, mungkin ada juga yang mengaitkannya dengan kurangnya kemampuan literasi dan minat membaca di masyarakat Indonesia. Betul hal tersebut adalah masalah, namun mempermalukan seseorang di internet karena memiliki kemampuan literasi yang kurang tidak akan menyelesaikan masalah itu. Hal tersebut hanya menjauhkan diskursus dari mencoba memahami mengapa sistem pendidikan yang ada gagal membangun minat membaca dan kemampuan literasi yang baik kepada anak didik. Isu pendidikan adalah isu kompleks yang berkelindan dengan isu lainnya seperti kesenjangan ekonomi dan sosial. Semoga kita tidak terjebak menjadi bagian dari masalah itu dengan mengerdilkan pemahaman kita sendiri mengenai masalah itu melalui serangan terhadap individu-individu yang dipandang tidak cukup terdidik.

Oleh Halimun Muhammad | Penulis adalah pengamat sekaligus penikmat budaya pop kontemporer Jepang yang telah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menikmati sekaligus mencoba memotret kebudayaan anime dari perspektif akademis

Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.