Sudut Pandang: Shirobako dan Industri Kreatif

0

Shirobako dan Industri Anime
oleh Yoza Widi (Pengamat Anime)

Industri anime sebenarnya bukanlah sebuah industri yang transparan. Sulit bagi orang luar untuk mencari tahu bagaimana sebenarnya proses di balik layar sehingga banyak bermunculan asumsi dan mitos-mitos yang keliru mengenai industri anime. Semua itu sedikit demi sedikit diungkap dalam anime Shirobako. Shirobako mempertontonkan bagaimana proses di balik pembuatan sebuah anime tapi seberapa akurat Shirobako menunjukkan wajah sebenarnya dari industri anime?
Langkah pertama, memutuskan basis dari anime yang akan dibuat bisa sebuah karya orisinil atau adaptasi dari karya yang sudah ada. Karya orisinil memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan dengan adaptasi tetapi dengan restriksi yang lebih kecil dan hal ini ditunjukkan dengan jelas di dalam Shirobako. Nogame, pengarang dari Aerial Girls menolak ending yang dibuat oleh Kinoshita pada awalnya dan keputusan tersebut tidak dapat dibantah oleh MusAni. Selain menunjukkan batasan-batasan dalam proses adaptasi anime hal ini juga menekankan mengenai adanya hirarki dalam industri walaupun dengan cara yang sedikit berlebihan seperti menyebut Nogame sebagai “God”.
Pada tahun 60an, hirarki ini melekat begitu kuat dalam industri anime. Key animator dulunya dianggap seperti dewa oleh para inbetweener, dan hal tersebut tetap ada hingga sekarang, walaupun sudah jauh lebih lemah (seperti saat Nabe-P melobi orang-orang dari Yotaka Bookstore).

Kemudian berlanjut ke proses pra-produksi di mana jadwal, staff, budget, serta jumlah episode ditentukan. Di sini terkadang terlihat jelas bahwa industri anime juga terbelit politik yang runya dan Shirobako menunjukan ini dengan adegan hiperbola seperti saat rapat pemilihan pengisi suara (seiyuu) Aerial Girls. Selain itu, dalam fase pra-produksi ini sutradara, produser, penulis naskah, dan beberapa staff inti lainnya seperti animation director juga akan mengadakan rapat untuk merencanakan desain karakter dan pengembangan cerita. Rapat ini umumnya dilakukan tiap minggu, sama seperti yang dideskripsikan Roro di Shirobako, “pembuatan anime memang isinya cuma rapat dan rapat”.
Setelah rapat selesai dan semuanya siap, produksi dimulai. Pertama penulis naskah akan menyiapkan naskah lalu naskah tersebut akan diubah menjadi storyboard. Sutradara bisa mengutus pembuatan storyboard ke spesialis storyboarder atau langsung membuat sendiri storyboardnya seperti yang dilakukan oleh Kinoshita.
Proses selanjutnya sama persis dengan apa yang ditunjukkan dalam Shirobako. Storyboard diserahkan ke animator dan sutradara bisa memberi kebebasan kepada animator untuk memilih bagian mana yang akan mereka buat atau mengutus langsung secara pribadi. Layout awal diserahkan kepada animation director untuk dikoreksi kemudian barulah key frame dikerjakan. Key frame yang telah selesai dikoreksi dan dipoles lagi oleh animation director atau terpaksa diambil ulang atau retake apabila hasilnya buruk, setelah itu key frame masuk ke meja unit director untuk pengecekan akhir. Di saat yang bersamaan, bagian fine arts (background) dan sound juga mulai bekerja, orang-orang ini biasanya dipilih berdasarkan relasinya dengan staf inti atau produser danmenjadikan industri anime sebagai industri yang sangat bergantung pada relasi dan koneksi. Terakhir, background dan key frames yang telah selesai (dalam hal ini, keyframes sudah ditambah dengan inbetween dan diwarnai) disatukan dan diedit oleh bagian fotografi dan hasil akhirnya kembali menuju ke meja director untuk pengecekan akhir.

shirobako5
Memang tidak semua bagian dalam proses produksi diperlihatkan dengan detail di Shirobako, tetapi Shirobako juga membuka banyak informasi baru yang belum diketahui oleh orang-orang di luar industri selama ini salah satunya adalah pekerjaan Miyamori yaitu penanggung jawab produksi atau production runner. Kita bisa melihat dengan jelas style seorang sutradara dan animator dalam sebuah anime begitu juga dengan pengisi suara (seiyuu) yang masing-masing cukup mudah untuk dikenali hanya dengan bermodal suara. Lain hal dengan production runner yang kita tidak bisa mengenal mereka lewat anime yang mereka buat sehingga tidak ada wawancara maupun literatur mengenai mereka sebagai bukti karya . Production runner juga tidak memiliki kuasa seperti produser yang bisa memutuskan anime apa yang akan dibuat tetapi Shirobako memperlihatkan dengan jelas apa yang dikerjakan oleh mereka dan apa yang diperlihatkan di Shirobako juga telah dikonfirmasi oleh orang-orang yang bekerja di dalam industri, walaupun mereka juga mengakui bahwa banyak perbedaan dalam Shirobako untuk menjaga agar serinya tetap menjadi sebuah tontonan yang menarik. Dengan segala deskripsi yang sudah dijabarkan di atas maka Shirobako sudah berhasil menangkap potret industri anime yang cukup akurat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.