BAGIKAN

Ju-on

Toshio Saeki (diperankan oleh Kai Kobayashi) telah membawa berbagai tragedi. Sebelumnya, Toshio telah membuat Yui Shono (diperankan oleh Nozomi Sasaki) terjebak dalam kutukan rumah keluarga Saeki saat sedang meneliti alasan mengapa sang Toshio absen dari sekolah.

Mai Shono (diperankan oleh Airi Taira) , kakak Yui mendapatkan informasi bahwa Yui telah tidak masuk mengajar di SDnya bekerja selama sepuluh hari. Ia mengalami mimpi buruk, melihat Kayako yang menggerakkan jari jemarinya membentuk goresan spiral dan tiba-tiba terbangun setelah melihat penampakan Toshio untuk kali pertama.

Reo (diperankan oleh Nonoka Oono) awalnya begitu senang ketika mendengarkan kabar bahwa ia akan mendapatkan adik baru. Sang adik pindah dari rumah pamannya karena sang ibu telah meninggal. Namun saat sampai di rumah, ia terheran karena Toshio tidak mengucapkan satu patah kata pun.

Mai yang masih penasaran tiba-tiba mendapatkan kiriman paket boks dari sekolah tempat Yui bekerja bersama pemberitahuan bahwa Yui telah dipecat. Ia mulai membuka buku catatan harian guru, melihat entri Toshio, dan melihat garis-garis spiral beserta tulisan “kodomo” dalam jumlah banyak dan intens.

ju-on-2
Salah satu adegan kejutan yang bisa membuat orang kaget (literally!)

Celakanya tidak hanya Mai dan Reo yang ikut merasakan keanehan setelah Toshio mulai muncul dalam kehidupan mereka. Teman-teman sekolah Reo mulai merasakan keganjilan saat mereka kali pertama berkenalan dengan Toshio, Sota suami Mai (diperankan oleh Renn Kiriyama) mulai menghadapi delusi aneh dan panik karena buku catatan harian guru Yui terus kembali ke rumahnya setelah berkali-kali ia buang dan ia bakar, bahkan sang ibunda Reo pun mulai merasakan keganjilan di rumahnya.

Ju-On 4: The Final Curse disutradarai Masayuki Ochiai yang telah menangani film Ju-On 3: The Beginning of the End dan menawarkan pengalaman menyenangkan dan mendalam saat menikmati film horor. Menggunakan format segmen per karakter, penonton diajak untuk mengeksplorasi nasib setiap orang yang tidak beruntung bertemu Toshio sejak mulai bertemu sampai detik-detik jelang ajalnya menjemput.

Kemunculan Toshio dan Kayako tidak langsung dimunculkan secara mendadak; banyak karakter yang mulanya tidak tahu apa-apa kemudian menjadi penasaran dengan misteri di balik kemunculan Toshio dan mati sebelum sempat mengetahui secara utuh fakta di baliknya.

Penonton film horor akan menemukan film Ju-On 4 menyeramkan namun agak predictable, sedangkan bagi yang tidak menggemari film horor akan menemukan Ju-On 4 malah membuat penasaran bagaimana sang karakter akan mati alih-alih merasa takut, dan mungkin menimbulkan rasa kesal sendiri mengapa karakter-karakter dalam film ini begitu mudah menemui ajalnya tanpa memberikan perlawanan maupun meminta bantuan (meski bisa dimaklumi bila mengingat orang Jepang cenderung tertutup akan masalah personalnya.) Sejumlah karakter (seperti teman-teman Reo) justru menemui ajal mereka dengan cara yang tidak disangka-sangka sedangkan Reo dan ibunya mati dengan cara yang “standar.” Walau begitu, satu kesimpulan yang bisa ditarik adalah pemicu ketakutan disajikan dengan cara yang elegan, klasik, dan somehow menyenangkan.

Overall, film Ju-On 4 tetap menjadi film yang layak tonton baik bagi penggemar fanatik Ju-On yang telah menerima gaya baru adaptasi film ini maupun bagi penonton baru dan kasual yang sekadar ingin mencari film Jepang bernuansa mistis dan horor. Khususnya, apabila sekelas Umaru-chan pun bisa merasa ketakutan setelah menonton Ju-On 3.

Film ini bisa disaksikan di jaringan bioskop CGV Blitz (dahulu bernama Blitzmegaplex), Platinum Cineplex, dan Cinemaxx di sejumlah tempat tertentu.

Positif

  • Nuansa mistis yang kental dan hanya menjadikan mistis sebagai setting utama.
  • Skenario yang menarik diikuti dan enjoyable.
  • Tidak diperlukan pengetahuan mendalam untuk bisa nyambung dengan film ini karena penjelasan yang diberikan sepanjang film ini.
  • Melihat ekspresi teman yang menonton bersama bisa menjadi poin positif menambah pengalaman menonton film ini.

Negatif

  • Sejumlah logika dan alur dalam film ini yang agak irasional dalam sudut pandang orang biasa (lho, namanya juga film mistis?)
  • Bila film ini diposisikan sebagai film horor, entah mengapa sebagian  penonton tidak akan merasa takut namun malah merasa penasaran.
  • Penonton yang tidak pernah menonton Ju-On sebelumnya akan bingung dan dibingungkan dengan keberadaan dua buah rumah yang terkena kutukan Toshio.

Yang Disayangkan

  • Menonton film ini secara sendiri membuat film ini menjadi tidak asyik ditonton dan alih-alih mendapatkan hal yang menarik, justru merasa bosan dan frustrasi sepanjang alur cerita.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.