BAGIKAN

touken ranbu

Masalah masa lalu Jepang masih menjadi isu sensitif. Bila Kancolle dimodel dari kapal Jepang masa Perang Dunia II, maka kali ini permainan duel pedang Touken Ranbu yang menuai kontroversi.

Hal ini diangkat dalam sebuah blog yang ditulis di situs myfigurecollection. Dalam post tersebut, sang penulis mengungkapkan masalah yang timbul karena pernyataan yang dikeluarkan oleh penulis “Dunia dan skenario” game Touken Ranbu Yuri Shibamura.

Advertisement Inline

Shibamura dalam transkrip wawancara melalui situs Nico-nico menyebut bahwa hubungan antara pengembang game dengan fans “seperti Jepang dengan negara-negara anggota Kawasan Kemakmuran Asia Timur Raya.” Kawasan Kemakmuran Asia Timur Raya (KKATR) adalah konsep yang diciptakan Jepang agar mampu menarik simpati negara-negara di Asia Timur (Tiongkok dan Korea pada saat itu) dan negara-negara Asia Tenggara agar berkumpul di bawah lindungan dan naungan Jepang serta “bebas dari kepentingan Barat.”

Blog tersebut juga menyebutkan Shibamura yang menyamakan pemain dengan sebutan “idiot” meski di satu sisi ia mengatakan bahwa ia menghormati para pemain.

Diterjemahkan lebih lanjut bahwa saat seorang pemain meminta Shibamura meminta maaf atas penggunaan istilah KKATR, Shibamura menolak dan menyatakan bahwa KKATR tidak berhubungan secara langsung dengan penjajahan Jepang pada Perang Dunia II dan “Jepang harus belajar sejarah yang sebenarnya.”

Blog tersebut juga mengutip bahwa sebagian pemain di Jepang dan pemain internasional merasa tersinggung dengan perilaku Shibamura dan mulai membatalkan pemesanan pernik maupun berhenti memainkan Touken Ranbu. Sejumlah artis juga dikatakan telah menghapus fanart bertema Touken Ranbu dari jejaring sosial mereka sebagai bentuk protes terhadap hal ini.

touranbu-nitroplus-pressrelease

Begitu signifikannya masalah ini sehingga pada 30 Juli lalu, Nitroplus sampai harus mengeluarkan siaran pers untuk menenangkan gejolak di jagad maya.

Dalam siaran pers berjudul “Terkait Pertanyaan Seputar Pernyataan Yuri Shibamura”, Nitroplus menyatakan bahwa “sebagai permulaan, tidak ada ide maupun pemikiran (Shibamura) yang terefleksikan dalam permainan Touken Ranbu.”

Hal yang aneh dalam kasus ini adalah sampai berita ini ditulis, belum ada satupun media anime terkemuka di Jepang maupun media berbahasa Inggris yang mengangkat polemik ini. Dalam konteks terpisah, Jepang memiliki sejarah menyensor maupun mencoba menekan sekecil mungkin segala pembahasan mengenai dosa Jepang saat Perang Dunia II.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.