BAGIKAN
Besi bersandar di Stasiun Manggarai | Foto oleh: Farouq Adhari

Belakangan ini para pengguna jasa Commuter Line dikejutkan dengan digantinya tempat duduk di stasiun Manggarai dengan besi untuk bersandar. Para penglaju yang biasa duduk di tempat duduk saat menunggu kereta atau transit pun mulai mengeluhkan hal ini.

Besi bersandar di Stasiun Manggarai | Foto oleh: Farouq Adhari
Besi bersandar di Stasiun Manggarai | Foto oleh: Farouq Adhari

Alasan operator mengganti tempat duduk dengan besi untuk bersandar ini ialah karena stasiun kereta komuter tidak memerlukan tempat duduk karena waktu tunggu kereta yang relatif sebentar dan keberadaan tempat duduk hanya akan mengurangi ruang kosong yang digunakan untuk berdiri penumpang.

Besi Bersandar di Stasiun Manggarai. | Foto oleh | Farouq Adhari
Besi Bersandar di Stasiun Manggarai. | Foto oleh | Farouq Adhari

Namun siapa sangka, ternyata tidak hanya di Indonesia saja yang menggunakan besi bersandar, Operator kereta bawah tanah London juga menggunakannya. Tempat bersandar yang biasa disebut perch bench  ini terdapat di banyak stasiun di ibukota negara Inggris tersebut. Kursi semacam ini digunakan karena relatif jarang penumpang yang duduk saat menunggu kedatangan kereta dan headway  antar kereta juga relatif dekat. Selain itu, alasan lainnya adalah untuk mencegah gelandangan untuk tidur di kursi stasiun.

Advertisement Inline

Berikut adalah penampakan dari perch bench yang terdapat di London berdasarkan gambar dari situs www.steelline.co.uk dan architectures.danlockton.co.uk

perch_bench

Perch-Bench-Plat-3

uncomfortable-bench

Penggunaan besi bersandar adalah pilihan tepat bila memperhatikan kondisi lintas dan frekuensi KRL yang semakin bertambah. Dengan menggunakan tempat duduk, ruang untuk berdiri menjadi lebih sedikit dan bila penumpang di peron bertambah padat, akan membahayakan penumpang itu sendiri. Terlebih di stasiun Manggarai pada peron jalur 5-6 (tujuan Jakarta Kota/Duri/Jatinegara dan Bogor) yang kondisinya lebih sempit dengan jumlah penumpang lebih banyak dibandingkan peron 3-4 (tujuan Bekasi dan Jakarta Kota).

Walau begitu, penerapan besi bersandar tetap harus memerhatikan jeda dan frekuensi KRL di lintas tersebut. Konsep ini ideal diterapkan di lintas Bogor yang jumlah perjalanannya banyak, namun akan memberatkan penumpang lintas Bekasi dengan frekuensi KRL yang jedanya bisa mencapai 30 menit sekali.

KAORI Nusantara | Amri Bintang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.