BAGIKAN

Pada Sabtu (3/3) terjadi sebuah kasus yaitu lumpuhnya listrik aliran atas (LAA) KRL Commuter Line di lintas Serpong. Penumpang terjebak dua jam dalam kegelapan dan diperparah oleh ketiadaan informasi. Penumpang meminta agar dapat melakukan evakuasi melalui rel (yang ditolak oleh awak KA, di mana ini merupakan keputusan yang tepat). Saat kereta tiba di tujuan, bekas sampah berserakan begitu banyak.

Penyiapan instruksi evakuasi dalam bahaya di kereta api adalah hal yang selalu diperdengarkan saat kereta memulai perjalanan dari stasiun awal. Tetapi apakah hanya awak sarana (masinis, PPK, walka) yang harus benar-benar siap dalam kondisi darurat dan tahu apa yang harus dilakukan? Kita sebagai penumpang pun harus tahu apa yang harus dilakukan.

Kereta api adalah angkutan paling aman di daratan. Semua kereta api dibuat dengan spesifikasi yang ketat dan bila dirawat dengan benar, mampu melindungi keselamatan penumpangnya saat terjadi bencana. Tetapi bila terjadi kecelakaan atau kondisi darurat di lintas, selalu perhatikan hal di bawah ini.

Advertisement Inline

1. Selalu memperhatikan lokasi alat alat darurat dan memastikan ulang posisinya, meski kita tahu dan sering menggunakannya setiap hari.

Dalam KRL, selalu ditempelkan posisi kran pintu darurat yang berfungsi untuk evakuasi dalam keadaan darurat. Stiker tersebut sayangnya belum menggunakan bahan fluorescence (bersinar dalam gelap) sehingga tidak dapat dicari keberadaannya saat dibutuhkan.

2. Berdirilah atau duduk di tengah kereta

Dalam sejumlah kasus kecelakaan, penumpang yang selamat umumnya berada di tengah kereta. Selain nikmat karena tidak terdengar guncangan dari bogie (roda) kereta, bagian ujung kereta (gerbong) didesain untuk menyerap guncangan yang terjadi jika kereta menyundul atau disundul kereta lainnya. Area bordes (persambungan kereta) sebisa mungkin harus steril dari penumpang, atau bila tidak memungkinkan, berusahalah untuk berada di tengah kereta.

3. Evakuasi Keluar Rel Adalah Hal yang Amat Berbahaya, Dengarkan Selalu Instruksi Petugas!

Bila kereta terhenti di tengah perjalanan, jangan pernah berpikir untuk keluar dari tengah kereta. Waktu perbaikan kereta yang mogok di tengah lintas tidak dapat diprediksi dan bila listrik tiba-tiba normal, Anda berisiko besar untuk terserempet kereta yang melintas. Bila jalur tersebut dilalui juga oleh lokomotif (seperti lintas Manggarai – Bekasi) maka risikonya akan semakin besar.

Selalu ikuti instruksi petugas yang bertanggung jawab di dalam kereta karena mereka adalah orang yang paling mengerti situasi perjalanan kereta api saat itu. Hanya lakukan evakuasi bila terjadi kondisi berbahaya seperti kebakaran atau tumburan dengan kendaraan lain.

4. Lakukan evakuasi dengan benar

Bila dalam kondisi penumpang terpaksa harus keluar dari kereta karena kondisi yang dianggap membahayakan, keluarlah bersama-sama melalui pintu. Pada KRL dengan kursi empuk, kursi panjang tersebut dapat diangkat dan dijadikan alat seluncur dari pintu menuju tanah daratan seperti seluncur di pesawat terbang. Bila pintu tidak dapat dibuka, turunkanlah jendela atau pecahkanlah kaca jendela.

Tinggalkan barang berharga Anda di dalam kereta api. Usahakan waktu maksimum untuk evakuasi seluruh penumpang dalam hal berbahaya (kebakaran dsb.) adalah 90 detik. Koper dan barang jinjingan lain akan menghambat proses evakuasi penumpang lain. Selalu pegang identitas diri dan tiket Anda karena hal tersebut akan menjadi bukti bila nantinya timbul hal-hal lain seperti perkara hukum dan pembagian service recovery.

5. Selalu waspada saat keluar dari kereta

Setelah keluar, berjalanlah ke arah menjauhi kereta, idealnya ke arah luar menjauhi rel (bila kereta berada di lintas datar seperti di tengah-tengah sawah). Bila tidak memungkinkan, berjalanlah ke arah depan (arah menuju stasiun berikutnya) untuk menghindari kemungkinan terserempet KA lain dan “sodomi” (tabrakan kedua dari kereta yang berada di belakang kereta tersebut).

Selalu berjalan beriringan dalam kondisi apapun. Bila berdiri di depan atau kebetulan memimpin rombongan, maka silangkanlah tangan di atas kepala sebagai bentuk aba-aba kepada masinis yang melihat bahwa jalur dalam kondisi tidak aman.

Perhatikan berbagai bahaya yang ada di kiri dan kanan jalan. Bila jalur kereta api menggunakan ballas (batu kricak), injaklah tapak bantalan beton untuk mengurangi cedera di kaki. Bila kereta api menggunakan listrik aliran bawah (LAB), jangan berjalan di atas rel, gunakan rute evakuasi yang tersedia di pinggir atau tengah rel. Perhatikan pula bila ada hal lain seperti galian, kabel telekomunikasi, atau jembatan dan viaduct agar tidak terjerembab.

6. Jangan Gunakan Ponsel Saat Evakuasi

Lalu yang paling penting, jangan sekali-kali berjalan sambil menggunakan ponsel. Nyawa Anda jauh lebih berharga ketimbang lima menit ketenaran dan keeksisan di media sosial.

Oleh Kevin Wilyan | Penulis telah menggunakan kereta api selama 10 tahun dan memiliki ketertarikan pada kereta api perkotaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.